PERUBAHAN IKLIM

Tanaman tak bisa serap karbon akibat cuaca ekstrem

Iliustrasi hutan sebagai tempat penyerapan karbon alami terbesar
Iliustrasi hutan sebagai tempat penyerapan karbon alami terbesar | Pixabay

Para ahli terus berfokus mengembangkan teknologi baru guna menghilangkan emisi gas rumah kaca yang berbahaya dari atmosfer. Ini adalah langkah tepat, karena menurut sebuah studi baru dalam jurnal Nature, tanaman bisa kehilangan kapasitas menyerap emisi karbon dioksida pada masa yang akan datang.

Ya, dengan laju manusia menghasilkan karbon dioksida lewat berbagai aktivitas sekarang ini, vegetasi bumi ke depan mungkin tidak lagi dapat menyimpan karbon dioksida tersebut.

Meskipun karbon dioksida diperlukan tanaman untuk tumbuh, tetap ada batas seberapa banyak daya serap gas yang juga dikenal dengan nama CO2 itu.

Emisi karbon global mencapai rekor tertinggi pada tahun 2018. Di Amerika Serikat saja, naik sekitar 3,4 persen. Tren ini membuat para ilmuwan, pejabat pemerintahan, dan para pemimpin industri lebih cemas dari sebelumnya tentang masa depan Bumi.

Seperti yang dikatakan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres pada pembukaan konferensi iklim tahunan ke-24 pada 3 Desember 2018, "Kita menghadapi masalah besar dengan perubahan iklim".

Setiap tahun, manusia melepaskan lebih dari 40 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer. Saat ini, biosfer laut dan terestrial (hutan, sabana, dan lainnya) menyerap sekitar 50 persen dari pelepasan emisi tersebut.

Ini menjelaskan mengapa peningkatan penyimpanan karbon di hutan bisa terjadi. Di lautan, kelebihan CO2 menciptakan kondisi asam, yang mengarah ke hasil seperti pemutihan terumbu karang. Di darat masih ada dampak positifnya, seperti proses fotosintesis yang menggunakan gas itu bersama dengan sinar matahari untuk membuat makanan.

Namun, sekelompok peneliti dari Columbia University kini mengatakan, dalam waktu dekat vegetasi Bumi mungkin kehilangan kemampuan menyerap emisi karbon dioksida. Hal ini akan menyebabkan peningkatan pemanasan global dan pemanasan laut.

Kapasitas tanaman untuk menyerap emisi karbon dioksida tergantung pada variasi dalam siklus air, seperti kekeringan dan banjir. Menggunakan model iklim yang berbeda, para peneliti menilai bagaimana periode kekeringan atau banjir memengaruhi tanaman.

Mereka melihat secara khusus bagaimana kelembapan tanah memengaruhi produktivitas bioma bersih (NBP) dengan menganalisis tren pengeringan jangka panjang di tanah dan dampak dari kejadian jangka pendek yang ekstrem, seperti banjir dan kekeringan di tanah.

Penulis utama studi, mahasiswa Ph.D. bernama Julia Green menemukan, dalam skenario seperti saat ini, kala manusia umumnya tidak berusaha keras mengekang emisi yang diproduksi, produktivitas tanaman global--kemampuan penyimpanan karbon--akan naik hingga sekitar tahun 2060, dan kemudian turun tajam.

Ketika ini terjadi, banyak emisi yang kita hasilkan tidak lagi diimbangi kemampuan tanaman, dan perubahan iklim akan berjalan lebih cepat dari yang diperhitungkan sebelumnya.

Ini semua kembali pada ketersediaan air. Saat iklim menghangat, tanah di sebagian besar planet ini secara bertahap semakin kering.

Sejumlah daerah di dunia, terutama dengan karakter tanah semi-kering seperti zona Sahel di Afrika dan Australia utara, diperkirakan akan mendapatkan memiliki lebih banyak gelombang panas dan kekeringan.

Ketika kondisi kering menyebabkan tanaman mati, banyak karbon yang mereka kumpulkan dilepaskan kembali ke atmosfer. Terlebih lagi, cuaca yang lebih hangat dan lebih kering dapat mempercepat seluruh perubahan ekosistem. Hutan dapat berubah menjadi padang rumput, yang tidak banyak menyimpan karbon.

"Pada dasarnya, jika tidak ada kekeringan dan gelombang panas, jika tidak akan ada pengeringan jangka panjang selama abad berikutnya, maka benua-benua itu akan dapat menyimpan karbon hampir dua kali lipat dari yang mereka lakukan sekarang," kata Pierre Gentine, pemimpin peneliti.

“Merupakan masalah besar. Jika kelembapan tanah terus mengurangi produktivitas NBP pada laju saat ini, dan laju penyerapan karbon oleh tanah mulai menurun pada pertengahan abad ini--seperti yang kami temukan dalam model yang mereka buat--kita berpotensi melihat peningkatan besar dalam konsentrasi CO2 di atmosfer dan kenaikan yang sesuai dalam efek pemanasan global dan perubahan iklim," tambahnya.

Jadi, tak lama lagi, tanaman mungkin kehilangan kemampuan untuk menyerap emisi karbon dioksida buatan manusia. Sebuah fakta yang pada akhirnya akan mempercepat pemanasan global.

“Kita semua benar-benar perlu bertindak segera untuk menghindari konsekuensi yang lebih besar dari perubahan iklim,” pungkas Gentine.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR