Tantangan Gojek dalam mencetak talenta terbaik

SPONSOR: ILOC 2019
Peran Gojek dalam memberikan layanan berbasis digital
Peran Gojek dalam memberikan layanan berbasis digital | /ILOC

Siapa mengira transportasi seperti ojek makin menjamur jalanan di Indonesia. Hal tersebut dapat dirasakan sejak kemunculan aplikasi Gojek pada awal 2015 dan menjadi salah satu platform di bidang layanan jasa dengan pengunduh terbesar di Tanah Air.

Sejak kehadirannya empat tahun silam, aplikasi Gojek hingga kini mencatat 50 juta pengunduh pada Google Play yang merupakan sistem operasi Android. Angka tersebut belum lagi ditambah dengan pengguna perangkat berbasis iOS.

Pencapaian tersebut terbilang luar biasa mengingat data pengguna yang dihimpun oleh Gojek mampu dikelola hingga menjadi layanan berbasis titik lokasi. Cara kerjanya adalah data kebiasaan mobilitas pengguna, seperti rutinitas memesan makan atau kebiasaan membayar tagihan seperti listrik atau BPJS disimpan sebagai basis data internal.

Agar dapat bertahan, perusahaan yang dirintis oleh Nadiem Anwar Makarim ini tentu membutuhkan sumber daya manusia (SDM) dengan keterampilan tinggi dan terus berupaya mencetak SDM baru.

Salah satu upaya Gojek dalam mencetak SDM baru adalah kerja sama dengan Universitas Indonesia (UI). Kolaborasi Gojek dan UI dalam bentuk pengembangan karier dengan membuka program magang khusus, akademis, rekrutmen talenta prioritas, hingga penelitian industri teknologi dan ekonomi digital.

Kepercayaan Gojek dalam mengembangkan SDM baru menjadi tujuan utama perusahaan untuk menghadapi tantangan dan perubahan di masa yang akan datang. Kolaborasi dengan UI bisa menjadi momentum Gojek dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dengan menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara berbasis layanan.

Melansir riset lembaga konsultasi internasional Korn and Ferry, dunia akan membutuhkan 4,3 juta talenta terampil pada 2030. Jumlah tersebut dibutuhkan untuk mewujudkan revolusi digital yang memberikan dampak positif bagi perekonomian dunia.

Namun, hal tersebut bukan tanpa hambatan. Menurut Vice President of Data Science Go-Jek Syafri Bahar, jurang pemisah antara kebutuhan dan ketersediaan SDM kemungkinan lebih besar.

“Karena kita (Indonesia) late adopter di bidang data science,” ujar Syafri dikutip dari Techinasia.com.

Tersebab hal itu, Syafri merasa harus menjembatani industri dengan materi pembelajaran di kampus. Ia berkeyakinan bahwa dua institusi harus maju bersama agar bidang data science di Tanah Air terus bertumbuh sehingga talenta-talenta terbaik dapat terus bertambah.

Seperti apa strategi lain Gojek dalam mempersiapkan talenta data terbaik mereka? Anda bisa ambil bagian dalam Indonesia Lokadata Conference (ILOC) 2019 di Ballroom Hotel Kempinski Jakarta, pada 28 Agustus mendatang. Anda dapat menikmati bincang dari petinggi Gojek yang dijadwalkan hadir pada acara tersebut.

Untuk mendapatkan undangan terbatas, daftarkan diri Anda melalui tautan ini.

SPONSOR: ILOC 2019
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR