ILOC 2019

Tantangan yang dihadapi di era big data

SPONSOR: Telkom Indonesia
Suasana sesi featured speaker dalam ILOC 2019
Suasana sesi featured speaker dalam ILOC 2019 | /Beritagar.id

Peran dan kehadiran data semakin mendapat perhatian khusus beberapa tahun belakangan ini. Sadar akan pentingnya data bagi pembangunan berkelanjutan, bahkan Presiden Jokowi menyebut bahwa pada masa depan ‘data akan lebih penting daripada minyak’ dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR beberapa waktu lalu.

Riset dari McKinsey pada 2018 menunjukkan, penetrasi penggunaan telepon seluler (ponsel) juga berdampak pada pertumbuhan pesat data. Memasuki era big data, ketika ribuan bahkan jutaan data terhimpun setiap hari justru tantangan yang dihadapi juga semakin besar.

“Kami pernah berada pada fase ketika data masih dalam bentuk yang sangat tidak terstruktur dalam jumlah yang sangat besar hingga kami kebingungan, mau diapakan data ini,” ungkap Faizal R. Djoemadi, Direktur Digital Business PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (Telkom) dalam acara Indonesia Lokadata Conference (ILOC) 2019, 28 Agustus lalu.

Bukan sekadar kumpulan angka yang dihimpun dari lapangan, data dapat diolah untuk dijadikan pijakan dalam mengambil keputusan, baik oleh pihak swasta maupun oleh pemerintah. Akan tetapi, di satu sisi, jumlah data yang besar hanya akan menjadi tumpukan data dan tidak dapat digunakan jika tidak dianalisis.

Faizal R. Djoemadi, Direktur Digital Business PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (Telkom) dalam acara Indonesia Lokadata Conference (ILOC) 2019, 28 Agustus .
Faizal R. Djoemadi, Direktur Digital Business PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (Telkom) dalam acara Indonesia Lokadata Conference (ILOC) 2019, 28 Agustus . | /Beritagar.id

Pada masa inilah dibutuhkan kehadiran seorang data analyst dan data scientist untuk mengolah dan menganalisis data agar dapat digunakan. Diakui oleh Faizal, inilah salah satu tantangan yang dihadapi oleh Telkom yakni mengolah data.

“Saat ini kami sangat kesulitan mendapatkan talenta untuk mengolah data, seperti data analyst, data scientist, dan data engineer,” tukas Faizal.

Lebih jauh, Faizal membagi tiga hal yang menjadi tantangan besar dalam menghadapi era big data.

1. Sumber daya manusia. Saat ini masih sedikit sumber daya manusia di Indonesia yang memiliki kemampuan dalam membaca data. Pasalnya, kumpulan data yang ada tidak akan bisa digunakan tanpa diolah dan dipilah terlebih dulu.

2. Proses. Agar dapat digunakan secara maksimal, data analyst harus mengolah data agar data dapat dipertanggungjawabkan, bebas hoaks, dan memiliki value.

3. Teknologi. Beberapa perusahaan sudah memiliki teknologi dan aplikasi yang mumpuni untuk menghimpun dan menganalisis data. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa belum semua perusahaan memiliki fasilitas yang sedemikian rupa.

Faizal menambahkan, dalam menghadapi tantangan tersebut, Telkom menyediakan layanan komprehensif untuk mengumpulkan dan mengolah data untuk menjadi insight bagi setiap perusahaan dalam mengambil sebuah keputusan atau kebijakan.

SPONSOR: Telkom Indonesia
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR