INOVASI TEKNOLOGI

TeleCTG diharapkan bisa tekan angka kematian ibu

Penggunaan TeleCTG untuk memeriksa kesehatan ibu dan janin.
Penggunaan TeleCTG untuk memeriksa kesehatan ibu dan janin. | TeleCTG /Laman Facebook TeleCTG

Salah satu cara untuk memastikan bayi dalam kandungan sehat adalah dengan memeriksa gerakan, detak dan irama jantung, serta kontraksi uterus. Ini dilakukan dengan alat Cardiotocograph (CTG).

Namun, tidak semua ibu hamil punya akses ke alat ini. Terutama di wilayah kota kecil atau pedalaman.

CTG biasanya berukuran besar, dan mahal harganya. Oleh sebab itu tidak semua layanan kesehatan dari puskesmas bahkan rumah sakit, punya CTG.

Untuk itu, Sehati--perusahaan rintisan teknologi--mengembangkan alat diagnosis TeleCTG. Ukurannya yang portabel dan harga lebih terjangkau membuat alat ini lebih mudah dijangkau oleh mereka yang membutuhkannya.

“Kami ingin menyediakan akses terhadap pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, khususnya selama 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Pemeriksaan kehamilan yang lebih baik, dengan tujuan terjadinya deteksi dini faktor risiko pada ibu hamil sebagai salah satu upaya menurunkan angka kematian ibu,” jelas CEO dan Founder Sehati TeleCTG dr. Ari Waluyo Sp.OG.

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, kata Ari adalah salah satu kekhawatiran yang memicu pihaknya mengembangkan TeleCTG. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) mengungkap, sejak 1990 hingga 2015, AKI terus menurun. Hanya pada 2012, mengalami peningkatan signifikan--36,5 persen--pada 2012.

Memeriksa detak jantung bayi saat hamil biasanya juga dibarengi dengan tes lain. Fungsinya untuk memeriksa apakah ibu mengalami gangguan kesehatan yang berpotensi mendatangkan masalah pada ibu atau janin.

TeleCTG berbentuk kubus, ukurannya sebesar genggaman tangan orang dewasa. Alat ini dilengkapi dengan tiga buah sensor.

Sebagai ilustrasi, begini cara kerja TeleCTG. Pendeteksian dilakukan oleh bidan, kemudian TeleCTG akan menghasilkan data berupa grafik.

Grafik ini dikirim ke ponsel secara nirkabel, kemudian dikirim ke Pusat Konsultasi yang saat ini baru ada di Jakarta dan Bandung. Di Pusat Konsultasi ada dokter yang akan menganalisis data tersebut. Ia juga akan memberikan rekomendasi.

Hasil rekomendasi dokter akan dikirim lagi ke bidan yang menangani pasien. Untuk melakukan fungsi ini TeleCTG akan dipadankan dengan aplikasi Bidan Sehati yang fungsinya seperti Kartu Identitas Anak (KIA) dalam format daring.

TeleCTG diproduksi di Cikarang, sementara komponen chip-nya di kawasan Ciawi, Jawa Barat. Kini TeleCTG sudah mulai diuji coba di Kupang, Nusa Tenggara Timur sejak Desember 2018.

Dalam uji coba yang berlangsung sejak Desember 2018, lebih dari 300 ibu hamil sudah menggunakan TeleCTG. Berbagai faktor risiko kehamilan dideteksi termasuk yang paling banyak anemia dan kekurangan energi kronis.

"Produksi sekarang ini memang kapasitasnya masih kecil. Baru ada sekitar 100 unit. Percobaan produksi besar itu (1.000 unit per tiga bulan) selesai Juni ini," ujar Co-Founder dan CPO Sehati, Abraham Auzan.

Abraham mengungkapkan, pihaknya menargetkan Bidan Praktek Mandiri (BPM) dan rumah sakit swasta di Indonesia sebagai pengguna. Ada sekitar 47 ribu hingga 50 ribu BPM dan setidaknya 2.000 rumah sakit swasta yang membutuhkan alat CTG.

Tidak hanya di Indonesia, TeleCTG juga akan diperkenalkan di luar negeri. Sehati sudah mengurus perizinan edar di Filipina dan Vietnam. Abraham menyebut Afrika dan Amerika Latin sebagai target selanjutnya.

Sebagai perbandingan, mesin CTG dibanderol sekitar Rp150 juta. Sementara harga TeleCTG hanya sekitar Rp20 juta.

Dengan adanya TeleCTG, diharapkan angka kematian ibu bisa lebih ditekan. Sebab akses untuk memonitor kesehatan ibu dan janin, serta melakukan intervensi medis bila diperlukan jadi lebih mudah dan terjangkau.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR