Telkom 3S untuk kurangi kesenjangan akses informasi

Roket Ariane 5 ECA VA235 yang membawa satelit Telkom-3S meluncur di fasilitas milik Arianespace, di Kourou, Guyana, Perancis, Selasa (14/2).
Roket Ariane 5 ECA VA235 yang membawa satelit Telkom-3S meluncur di fasilitas milik Arianespace, di Kourou, Guyana, Perancis, Selasa (14/2). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Pada Rabu (15/2/2017) pagi Waktu Indonesia Barat, satelit Telkom 3S berhasil mencapai orbit setelah diluncurkan menggunakan Roket Ariane 5 ECA VA235 dari Guiana Space Center milik Arianespace, di Kourou, Guyana Prancis.

Satelit Telkom 3S (T3S), yang dibuat oleh Thales Alenia Space itu, kemudian mengudara menuju orbitnya pada posisi 118 derajat Bujur Timur di ketinggian 35.755 km di atas Selat Makassar.

Bersamaan dengan itu, mengangkasa juga harapan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) untuk memberi pelayanan telekomunikasi yang lebih merata kepada lebih banyak masyarakat Indonesia yang tersebar pada ribuan pulau di Nusantara.

Dalam siaran persnya, Telkom menyatakan, selain untuk mengurangi ketergantungan pada satelit asing, satelit baru ini juga dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan akses informasi di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Terpencil).

"Dengan peningkatan kapasitas layanan satelit ini, Telkom berharap mampu berperan aktif untuk turut membangun masyarakat digital Indonesia hingga ke pelosok nusantara guna meningkatkan perekonomian bangsa," kata Alex J Sinaga, Direktur Utama PT Telkom, yang memantau langsung proses peluncuran di Jupiter Control Room, Guiana Space Center.

Kehadiran Telkom 3S melengkapi dua satelit Telkom lainnya yang masih beroperasi yaitu Telkom-1 dan Telkom-2. Jangkauan Satelit Telkom 3S meliputi seluruh wilayah Indonesia, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Timur.

Walau telah berhasil diluncurkan Direktur Network, IT, & Solution Telkom, Abdus Somad Arief, menjelaskan masih ada kelanjutan operasi untuk membawa T3S ke orbit yang diinginkan, pengujian, dan kemudian mengoperasikannya.

"Berikutnya butuh 10 hari untuk menuju transit orbit di 135.5 BT guna dilakukan uji coba transponder C-Band. Masa uji coba ini 10 hari, setelah itu menuju ke slot orbitnya 118 BT. Sekarang semua masih tanggungjawab dari Thales Alenia Space sesuai perjanjian penyerahan In Orbit Delivery," jelas Kepala Proyek Satelit Telkom 3S Tonda Priyanto dikutip IndoTelko (15/2).

Kembangkan bisnis satelit

Satelit Telkom 3S tampak di dalam ruangan bersih di markas Thales Alenia Space, Cannes, Prancis.
Satelit Telkom 3S tampak di dalam ruangan bersih di markas Thales Alenia Space, Cannes, Prancis. | Thales Alenia Space

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, memberi selamat kepada Telkom atas keberhasilan peluncuran satelit tersebut. Ia berharap bisnis satelit terus dikembangkan karena, sebagai sebuah negara kepulauan, dukungan satelit menjadi keharusan.

"Karena kita tidak bisa hanya mengandalkan bisnis telekomunikasi yang mengandalkan kabel. Negara kita negara kepulauan, satu-satunya cara untuk menjangkau wilayah pelosok dengan menggunakan satelit," tutur pria yang akrab disapa Chief RA ini, dikutip detikInet (15/2).

Jangkauan satelit berharga USD215 juta (Rp2,86 triliun) tersebut, menurut Rudiantara, akan membantu pemerintah mewujudkan Nawacita --sembilan program prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Peluncuran Satelit Telkom 3S ini turut mendukung Program Nawacita untuk membangun Indonesia dari pinggiran dan memperkuat berbagai daerah dalam rangka negara kesatuan," kata Chief RA kepada situs IndoTelko (16/2).

Rudiantara menjelaskan permintaan untuk akses satelit sampai 2022 jauh lebih besar daripada kemampuan operator lokal untuk memasuknya. Saat ini, tambahnya, dari kebutuhan 300 transponder satelit, baru 160 transponder yang bisa dipenuhi Indonesia.

Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung, M Ridwan Effendi, kepada Antaranews menilai satelit baru tersebut bisa menjadi solusi utama untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia.

Jaringan kabel serat optik atau gelombang mikro, menurut Effendi, sulit diandalkan untuk bisa menjangkau semua daratan di negara ribuan pulau ini. "Berbeda dengan satelit, cakupannya bisa menjangkau seluruh Indonesia ditambah dengan sebagian besar wilayah tetangga," jelasnya.

T3S dibangun Thales Alenia Space menggunakan platform Spacebus 4000B2 generasi baru berkapasitas 49 transponder --24 transponder C-band, 8 extended C-band, dan 10 Ku-band.

Dengan massa saat peluncuran mencapai 3.550 kg, Telkom 3S dirancang untuk bisa menjalankan tugasnya selama lebih dari 16 tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR