Telur lambat menetas jadi penyebab punahnya dinosaurus

Fosil Tyrannosaurus rex.
Fosil Tyrannosaurus rex. | Pixabay

Selama ini dipahami bahwa dinosaurus non-unggas mengalami kepunahan akibat hantaman asteroid 66 juta tahun yang lalu. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mamalia lain juga kelompok hewan seperti burung dapat tetap bertahan dan melanjutkan evolusi.

Temuan terbaru yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences menjelaskan bahwa telur dinosaurus mengalami masa inkubasi yang lambat. Hal ini membuat generasi penerus mereka, juga berikut induknya berada di risiko ancaman predator dan faktor lingkungan lainnya.

Penelitian yang dipimpin oleh Florida State University (FSU), Amerika Serikat, ini menentukan periode kehamilan dinosaurus dengan merunutkan biologi makhluk tersebut

Dilansir dari Wired (3/1), para peneliti turut meneliti fosil langka dari embrio dinosaurus. Fosil embrio berumur 71 juta hingga 76 juta tahun yang diperiksa berasal dari dua spesies yang berbeda.

Pertama adalah dari Protoceratops, dinosaurus kecil seukuran domba yang ditemukan di Mongolia yang memiliki bobot telur 194 gram. Kemudian Hypacrosaurus, sebuah dinosaurus sebesar bebek yang pernah hidup di daerah Alberta, Kanada kini. Telur Hypacrosaurus memiliki bobot yang berat yakni mencapai 4kg.

Keduanya berasal dari kelompok yang disebut dinosaurus Ornithischian. Hal ini ditandai dari struktur panggul mereka.

Mereka melakukan pemindaian dengan menggunakan mikroskop definisi tinggi untuk memeriksa garis pertumbuhan pada dua gigi. Catatan gigi embrio tersebut menjadi fokus untuk memahami berapa lama dinosaurus diinkubasi telur mereka.

"Ini adalah garis-garis yang terbentuk ketika gigi hewan apapun tumbuh," kata Gregory Erickson, seorang profesor di FSU, dan salah satu penulis utama dalam penelitian tersebut dalam pernyataan resminya.

Dari pengamatan mereka, peneliti bisa menentukan berapa usia dua embrio ketika mereka meninggal. Embrio Protoceratops berusia hampir tiga bulan, dan spesimen Hypacrosaurus hampir enam bulan.

Embrio tersebut membutuhkan waktu dua kali lipat lebih lama dari telur burung yang berada di ukuran sama. Bahkan lebih lama lagi jika ukuran telurnya lebih besar.

Para peneliti sebelumnya berpikir bahwa masa inkubasi dinosaurus mirip dengan nenek moyang mereka yang masuk ke kelas unggas yakni 11 sampai 85 hari hingga telur dapat menetas.

Masa inkubasi dinosaurus berdampak pada kemampuan dinosaurus untuk bersaing dengan populasi hewan lain yang berkembang biak lebih cepat.

Setelah hantaman asteroid Chicxulub, kompetisi di antara berbagai spesies semakin ketat. Sumber makanan semakin terbatas karena perubahan lingkungan yang terjadi secara ekstrem.

Dengan kata lain, kombinasi dari periode inkubasi yang panjang, dan peristiwa bencana besar yang mengubah dunia, menciptakan kondisi yang terlalu berat bagi kehidupan dinosaurus non-unggas.

Tapi sejauh ini para peneliti belum melakukan penelitian serupa dari kelompok dinosaurus Theropoda. Kelompok ini mewakilkan spesies dinosaurus populer seperti Tyranosaurus rex dan Velociraptor. Dinosaurus yang masuk ke dalam kelompok ini memiliki kekerabatan yang lebih erat dengan kelompok spesies burung modern.

"Jika burung modern adalah satu-satunya kelompok yang menetaskan telurnya dengan sangat cepat, bisa jadi prestasi biologi ini memberi mereka tiket lotre yang lebih baik untuk bertahan hidup dari dampak asteroid yang membunuh semua dinosaurus lainnya," ujar paleontologis Stephen Brusatte dari University of Edinburgh di Inggris, yang tidak terlibat dengan penelitian ini.

"Yang akan menjadi hal menarik sekarang adalah untuk mengetahui apakah dinosaurus theropoda kecil seperti Velociraptor juga mengalami masa inkubasi lambat," lanjut Brusatte dikutip dari Science (2/1).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR