TEMUAN ARKEOLOGI

Temuan DNA mamut dalam suvenir Kamboja

Ilustrasi mamut pada masa hidupnya
Ilustrasi mamut pada masa hidupnya | Warpaint /Shutterstock

Di pasar gelap Kamboja, banyak penjaja pernak-pernik suvenir. Para pemilik toko mengklaim dagangan mereka dibuat dari gading gajah, tetapi DNA mamut berbulu ditemukan di dalamnya.

Mamut memang sudah punah ribuan tahun lalu. Namun, DNA spesies gajah purba berbulu ditemukan di sejumlah perhiasan gading dan benda lain yang dianalisis oleh para peneliti. Penemuan ini dibuat oleh tim ilmuwan Skotlandia yang membantu mengatasi perdagangan gading gajah ilegal menggunakan teknik pengujian genetik.

Mamut berbulu sempat berkeliaran di Eropa, Asia Afrika, dan Amerika Utara. Mereka diperkirakan telah punah akibat perubahan iklim dan perburuan.

Makhluk ini sejak lama menarik perhatian publik. Bahkan sebuah tim sedang mengerjakan program pengembalian dari kepunahan yang akan menghasilkan mamut gajah hibrida melalui rekayasa genetika. Sifat-sifatnya akan digabung dengan gajah Asia.

Kembali ke kasus penemuan DNA mamut, tim dari Royal Zoological Society of Scotland di Edinburgh telah memelopori penggunaan data genetik dalam menanggulangi kejahatan terhadap satwa liar dan sekarang membagikan teknik mereka ke negara lain.

Sementara membantu mengembangkan laboratorium genetika konservasi di ibu kota Kamboja, Phnom Penh, mereka menemukan pernak-pernik yang diiklankan sebagai gading gajah sebenarnya terbuat dari mamut.

Para peneliti dari laboratorium WildGenes di Edinburgh Zoo mengatakan, gading yang digunakan untuk membuat pernak-pernik itu kemungkinan digali dari tanah di Kutub Utara.

AFP melaporkan, gading mamut kebanyakan diambil dari daerah Yakutia, daerah utara Siberia, Rusia yang ukurannya sekitar lima kali Prancis. Wilayah ini penuh dengan sisa-sisa mamut berbulu.

Selama masa Pleistosen (antara 2.588.000 hingga 11.500 tahun lalu), Yakutia yang berbatasan dengan Samudra Arktik, adalah rumah bagi mamut berbulu. Tak terhitung jumlah mamut yang mendominasi lanskap itu selama ribuan tahun.

Saat ini, Yakutia tertutup lapisan es. Sisa-sisa bangkai beku makhluk yang dulunya raksasa ini sering ditemukan mencuat keluar dari permukaan.

Saat permafrost mencair melepaskan tulang megafauna yang telah lama punah itu, jenis baru pemburu gading mengambil keuntungan dari sisa-sisa bangkainya.

Sepintas, benda yang diukir dari gading mamut tidak bisa begitu dibedakan dengan yang terbuat dari gading gajah. Tapi ada petunjuk yang bisa dilihat oleh mata terlatih dalam pemeriksaan jarak dekat.

Ahli genetik sekaligus kepala studi, Alex Ball mengatakan, "Mengejutkan bagi kami untuk menemukan pernak-pernik yang terbuat dari gading mamut berbulu wol beredar, terutama begitu awal tahap pengujian kami dan di negara tropis seperti Kamboja.”

“Sangat sulit untuk mengatakan apa implikasi dari temuan ini untuk populasi gajah yang ada, namun kami berencana untuk melanjutkan penelitian dan akan menggunakan genetika untuk mengetahui dari mana asalnya.”

Laboratorium baru di Kamboja diharapkan akan membantu pihak berwenang memantau populasi gajah yang menyusut di negara itu, dan menentukan asal gading yang masih menemukan jalan ke pasar gelap.

Kamboja adalah salah satu negara tempat merajalelanya perdagangan gading. Akhir tahun lalu, lebih dari 3 ton gading gajah ditemukan disembunyikan di dalam kontainer pengiriman. Ini mengisyaratkan popularitas negara itu sebagai pusat perdagangan baru gading ilegal.

Kamboja berada pada rute penyelundupan gading yang penting dari Afrika dan Asia. Pengujian genetik dapat membantu menentukan dari mana gading dicuri, yang dapat memiliki implikasi hukum.

Pada 2015 dan 2016, Fauna and Flora International melakukan survei pasar menyelidiki tingkat perdagangan gading dan basis konsumen di tiga kota besar Kamboja--Phnom Penh, Siem Reap, dan Sihannoukville. Data menunjukkan pasar gading dalam negeri negara itu mungkin tumbuh.

Penjualan gading telah dilarang di Kamboja sejak tahun 1994, tetapi hukum hanya berlaku untuk yang diambil dari gajah Asia. Undang-undang serupa yang mengatur gading gajah Afrika disahkan tahun lalu. Sedangkan mamut telah punah ribuan tahun lalu jadi mereka tidak termasuk dalam perjanjian internasional tentang spesies yang terancam punah.

“Diperkirakan secara global lebih dari 30.000 gajah terbunuh setiap tahun untuk diambil gadingnya dan tampaknya ada peningkatan jumlah gading dijual di Kamboja,” Ball menambahkan.

“Namun, tampaknya tidak ada bukti perburuan liar di populasi gajah liar Kamboja sendiri.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR