Temuan ratusan bakteri pada mikroplastik di perairan tropis

Ilustrasi mikroplastik yang terdampar di pantai.
Ilustrasi mikroplastik yang terdampar di pantai. | Gabriele Wahl /Shutterstock

Ragam bakteri alam jumlah besar ditemukan hidup pada mikroplastik yang dikumpulkan dari pantai dan wilayah pesisir negara tetangga kita, yaitu Singapura.

Beberapa bakteri yang ditemukan tersebut bersifat patogen bagi manusia.

Bakteri patogen dapat menyebabkan berbagai kerusakan, mulai dari pemutihan karang hingga menginfeksi luka terbuka. Namun, bersama dengan mikroba berbahaya ini, para peneliti juga menemukan beberapa bakteri yang berpotensi bermanfaat, termasuk yang dianggap dapat mendegradasi minyak dan plastik.

Ilmuwan kelautan di National University of Singapore (NUS) menemukan lebih dari 400 jenis bakteri yang berbeda pada 275 potong mikroplastik yang dikumpulkan dari tiga pantai di Singapura, yaitu di Pulau Lazarus, Pantai Sembawang, dan Pantai Changi.

Mikroplastik merupakan potongan kecil plastik dengan bentuk mulai dari ukuran sebutir pasir hingga kerikil kecil dan merupakan polutan air yang kini lazim ditemukan di perairan air tawar serta perairan laut.

Dalam studi oleh ilmuwan NUS ini potongan plastik masing-masing berukuran lebih kecil dari 5mm.

Selama studi yang berlangsung sepanjang enam bulan, tim berusaha untuk memeriksa kumpulan bakteri pada mikroplastik yang dikumpulkan dari wilayah pesisir Singapura. Menggunakan teknik perunutan DNA, para ilmuwan menemukan bakteri Photobacterium rosenbergii yang sering dikaitkan dengan pemutihan karang dan penyakit.

Tim peneliti juga menemukan spesies Vibrio laut--yang diketahui sebagai penyebab utama infeksi luka pada manusia dan spesies Arcobacter, bakteri yang diketahui menyebabkan gastroenteritis (mual, muntah, diare, kram perut, atau terkadang demam).

Tim ini terdiri dari Sandric Leong, pemimpin penelitian dan peneliti senior di NUS Tropical Marine Science Institute, dan Emily Curren, seorang mahasiswa PhD di Institute and the Department of Biological Sciences, NUS Faculty of Science.

Curren mengatakan, "Karena mikroplastik yang kami pelajari dikumpulkan dari lokasi yang mudah diakses oleh publik dan di daerah yang banyak digunakan untuk rekreasi, identifikasi bakteri yang berpotensi patogen penting untuk mencegah penyebaran penyakit."

Dia menambahkan bahwa mikroplastik berasal dari garpu, sendok, dan sedotan sekali pakai. Proses penghancuran alaminya dapat memakan waktu ratusan tahun hingga terurai.

Dibandingkan dengan mikroplastik di darat, mikroplastik dalam ekosistem perairan membutuhkan waktu lebih lama untuk terdegradasi karena keberadaan garam dan suhu yang lebih rendah di lautan. Akibatnya, mereka menghadirkan lingkungan yang layak huni untuk dijajah oleh biota laut.

Saat ini ada lebih dari 150 juta ton plastik di lautan, kata para peneliti.

Mikroplastik khususnya, menimbulkan masalah nyata karena banyak organisme laut sering keliru menganggap plastik kecil ini sebagai makanan.

Para peneliti mengatakan, potongan-potongan plastik ini menjadi "kendaraan" bagi bakteri beracun untuk berkembang. Ketika secara tidak sengaja tertelan oleh ikan, kerang dan udang, bakteri berbahaya ini dapat menemukan jalan mereka ke rantai makanan, berujung ke manusia.

Leong berkata, “Organisme laut dapat mengonsumsi potongan-potongan mikroplastik secara tidak sengaja dan ini dapat menyebabkan akumulasi dan transfer patogen laut berikutnya dalam rantai makanan.”

"Memahami distribusi plastik mikro dan mengidentifikasi organisme yang menyertainya adalah langkah penting dalam mengelola polusi plastik pada skala nasional dan global."

Namun, bakteri beracun tidak semuanya ditemukan pada mikroplastik. Spesies bakteri Erythrobacter yang mampu mendegradasi plastik dan Pseudomonas veronii yang digunakan untuk membersihkan tumpahan minyak juga ditemukan.

"Mengingat peningkatan yang diperkirakan dalam kontaminasi limbah plastik di lautan, penemuan bakteri semacam itu memberikan alternatif penting yang ramah alam untuk mitigasi polusi plastik dan polutan beracun seperti hidrokarbon," kata Curren.

Tim peneliti NUS akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk memeriksa asal-usul spesies bakteri yang diangkut oleh mikroplastik. Langkah ini akan memungkinkan identifikasi spesies non-asli yang mengancam keanekaragaman hayati yang ada dan memberikan wawasan tentang pengelolaan masalah polusi plastik di laut.

Penelitian ini adalah yang pertama yang menguji komunitas bakteri pada mikroplastik ditemukan di daerah pantai tropis.

Hasilnya diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR