Tenangnya hidup tanpa notifikasi ponsel

Ilustrasi notifikasi pada ponsel pintar
Ilustrasi notifikasi pada ponsel pintar
© Pixabay

Anda sedang berkonsentrasi penuh dan mencoba menyelesaikan tugas yang sangat penting, tapi tiba-tiba suara notifikasi atau getaran dari ponsel mencuri perhatian. Bagai terhipnotis, fokus pun beralih, Anda pun meraih ponsel dan membacanya.

Satu menit mungkin cukup untuk mengetahui notifikasi apa yang masuk. Namun ada dorongan lain yang menyertai. Masih memegang ponsel, Anda pun melanjutkan mengecek akun media sosial atau berselancar di toko daring yang menawarkan potongan harga.

Terkadang, gangguan atau dorongan ego yang datang bersama notifikasi ponsel patut disambut baik. Tapi tak jarang notifikasi dan bebunyian itu punya cara untuk mengusik konsentrasi kita di dunia nyata.

Meningkatkan produktivitas bukanlah satu-satunya alasan yang harus Anda pertimbangkan untuk memblokir pengalih perhatian tersebut. Mematikannya hanya dalam waktu singkat bahkan bisa bermanfaat kesehatan jangka panjang.

Sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan oleh peneliti dari Carnegie Mellon University (CMU) dan Telefonica, raksasa telekomunikasi Spanyol, menunjukkan bahwa 24 jam bebas dari getaran dan bebunyian di ponsel adalah sesuatu yang dibutuhkan manusia agar dapat memikirkan kembali notifikasi di ponsel mereka.

Para peneliti meminta 30 orang peserta secara sukarela untuk menonaktifkan notifikasi push di ponsel mereka selama 24 jam sebagai bagian dari kampanye Do Not Disturb Challenge. Penelitian ini dimulai pada tahun 2015 dan melibatkan laki-laki dan perempuan berusia antara 19-56 tahun yang adalah pekerja kantoran.

Luz Rello dari Human-Computer Interaction Institute CMU dan Martin Pielot dari Telefonica Research menulis bahwa pada awalnya mereka ingin orang-orang menonaktifkan notifikasi push selama seminggu tetapi standar tersebut harus diturunkan demi mendapatkan relawan dalam jumlah yang cukup.

"Kami hanya mendapat tatapan kosong dan ngeri," ujar Pielot. "Jadi akhirnya kami turunkan hingga 24 jam."

Sebagai informasi tambahan, Rello dan Pielot mengutip sebuah penelitian sebelumnya dalam laporan mereka yang menemukan orang rata-rata menerima sekitar 63,5 notifikasi per hari. Kesemua peserta studi tersebut dapat menyelesaikan Do not Disturb Challenge, namun mereka berbagi perasaan campur aduk.

Temuan langsung dari penelitian dua tahun lalu itu menunjukkan bahwa peserta lebih produktif dan kurang terganggu setelah 24 jam bebas dari notifikasi, meskipun beberapa orang mengungkapkan kecemasan mereka tentang kemungkinan kehilangan pesan dari teman dan kolega.

Beberapa merasa tertekan, beberapa merasa santai, beberapa merasa produktif, dan beberapa merasa terganggu. Sejumlah orang turut melaporkan melewatkan informasi pribadi dan profesional yang penting bagi mereka karena notifikasi dimatikan dan membuat mereka sering memeriksa ponsel secara periodik untuk mengetahui informasi apa yang terlewatkan.

Tapi ada juga satu orang yang sampai meninggalkan ponselnya di tempat kerja secara tidak sengaja karena ponselnya tidak terus-menerus berbunyi atau bergetar.

"Jika orang tidak mengharapkan Anda merespons dengan cepat, Anda mungkin tidak merasa stres selama menghadapi tantangan ini, tetapi jika Anda memiliki atasan yang mengharapkan tanggapan cepat, maka situasinya berbeda," kata Pielot kepada New Scientist (3/8).

Eksperimen tersebut pada akhirnya juga memiliki dampak jangka panjang yang jauh lebih positif. Ketika para peneliti berhasil menghubungi para peserta lagi pada tahun ini, mereka menemukan bahwa eksperimen tersebut telah mendorong sekitar dua pertiga peserta untuk mengubah pengaturan notifikasi mereka, mengurangi kecenderungan jangka panjang atas gangguan dan stres.

Banyak peserta memutuskan untuk tetap mematikan notifikasi atau menggunakan mode Do Not Disturb setelah penelitian berakhir. Segera setelah mengikuti tantangan satu hari tanpa notifikasi, 22 dari 30 peserta mengatakan kepada para peneliti bahwa mereka berencana untuk mengurangi jumlah notifikasi yang mereka terima dengan menonaktifkan notifikasi secara permanen untuk beberapa aplikasi tertentu.

Dua tahun kemudian, pada bulan April tahun ini, Rello dan Pielot memeriksa kembali 22 orang tersebut dan menemukan 13 telah berhasil melewatinya.

"Temuan kami menunjukkan bahwa praktik budaya seputar notifikasi telah membuat orang terjebak dalam dilema: di satu sisi, notifikasi menjadi bagian integral alat yang menghubungkan kita dengan orang lain, dan dibutuhkan untuk memenuhi harapan masyarakat. Di sisi lain, Peserta kami menyadari dampak negatif yang ada pada pemberitahuan tersebut dan beberapa mulai merancang strategi penanggulangannya," tulis Rello dan Pielot.

Ukuran sampel 30 peserta memang tergolong kecil. Membuatnya sulit untuk dijadikan generalisasi tentang populasi pada umumnya. Selain itu penelitian tersebut belum melalui tahap peer-review. Meski demikian, studi ini masih dapat menjadi referensi untuk pemikiran bagi mereka yang tertarik dengan bagaimana ponsel sebagai teman yang secara konstan mengubah perilaku kita.

Penelitian ini dipresentasikan pada konferensi perangkat mobile ACM MobileHCI 2017 dan juga dapat dibaca secara daring (fail PDF).

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.