KECERDASAN BUATAN

Terinspirasi Her, Huawei kembangkan AI yang pahami emosi manusia

Chief Executive Officer dari Huawei Consumer Business Group, Richard Yu, tengah mempresentasikan Kirin 970, cip ponsel pertama di dunia yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan
Chief Executive Officer dari Huawei Consumer Business Group, Richard Yu, tengah mempresentasikan Kirin 970, cip ponsel pertama di dunia yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan | Felipe Trueba /EPA-EFE

Her adalah judul sebuah film drama fiksi ilmiah yang dirilis pada 2013. Film itu bercerita mengenai seorang pria (diperankan Joaquin Phoenix) yang jatuh cinta kepada asisten virtual bernama Samantha (Scarlett Johansson) yang bisa memahami emosinya. Hubungan mereka akhirnya, tentu saja, tak terwujud.

Saat ini banyak perusahaan teknologi yang berusaha mewujudkan asisten virtual yang sempurna untuk penggunanya, termasuk Huawei. Perusahaan Tiongkok tersebut menyatakan film Her menginspirasi mereka untuk menciptakan asisten virtual yang bisa memahami emosi penggunanya, seperti Samantha.

Huawei telah merilis asisten virtualnya di Tiongkok pada 2013 dan hingga saat ini telah digunakan oleh 110 juta orang setiap harinya. Namun, menurut BGR, Senin (23/4/2018), asisten virtual Huawei itu masih kalah saing dengan Siri, Cortana, Alexa, Samsung Bixby, dan Google Assistant.

Tidak mau berada di posisi paling buntut, Huawei kabarnya akan mengintegrasikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ke asisten pribadi virtualnya untuk memahami emosi manusia dengan alasan agar tidak seperti robot.

Menurut VP Software Engineering Huawei Felix Zhang, perusahaan berencana untuk menciptakan interaksi yang tak sekadar melalui kata-kata, tapi turut melibatkan emosi. Hal ini disebut dapat mengubah cara berkomunikasi dengan mesin saat ini.

"Kami berpikir, pada masa depan, seluruh pengguna berharap mereka dapat berinteraksi dengan sistem yang lebih emosional. Hal itu yang kami pikirkan untuk jangka panjang," tuturnya.

Saat ini, Google Assistant, Siri, dan Alexa adalah asisten digital fungsional yang dapat memahami kalendar pengguna dan bisa menyarankan kondisi lalu lintas, serta menawarkan laporan cuaca. Namun, mereka tidak dapat memahami apakah pengguna merasa baik atau sedih pada situasi tertentu.

Dengan memahami emosi, asisten dapat menawarkan hasil berbasis bahasa yang lebih alami, dan bahkan dapat menawarkan saran prediksi yang saat ini tidak memungkinkan pada platform seluler apa pun.

"Sebagai langkah awal, kami ingin membenamkan IQ tinggi di asisten tersebut. Lalu, langkah selanjutnya adalah menyertakan EQ yang tinggi," pungkas Zhang.

"Samantha adalah impian untuk para insinyur. Seperti di film, kamu dapat menyingkirkan pasanganmu. Teknologi ini sudah menyediakan layanan yang emosional," tambah Zhang.

Ia ingin agar pengguna ponsel tidak perlu menyentuh perangkat mereka untuk menggunakannya, karena sebagian besar tugas akan diselesaikan menggunakan perintah suara. Demikian dinukil Gadgets360.

Pionir era dunia cerdas

Sejauh ini Huawei memang telah memasang target untuk menjadi pionir dalam era dunia serba cerdas (Intelligent World). Perusahaan ini membawa misi agar kecerdasan buatan dapat memberikan keuntungan bagi semua pihak.

Dalam acara Huawei Global Analyst Summit 2018 (HAS 2018) beberapa waktu lalu, mereka meyakini bahwa pada tahun 2025 teknologi AI akan mencapai puncaknya.

Belum lama ini, rekan senegaranya,Xiaomi juga perkenalkan asisten digital virtual yang diberi nama Xiao AI.

Xiao AI dapat diperintah untuk membuka aplikasi, mengambil foto, menerjemahkan bahasa asing, memeriksa cuaca, menyalakan lampu, dan segala macam perintah lainnya yang dapat dilakukan oleh Google Assistant, Siri, dan Alexa.

Microsoft baru-baru ini mengumumkan bahwa chatbot sosialnya, XiaoIce, telah mencapai kemampuan untuk berbicara seperti manusia.

Pada awal tahun, firma riset Gartner juga meramalkan bahwa dalam waktu dekat emosi AI akan dapat menganalisis dan mendeteksi suasana hati orang, lalu meresponnya dengan jawaban yang lebih personal.

"Tahun 2022, perangkat pribadi Anda akan tahu lebih banyak tentang keadaan emosi Anda daripada keluarga Anda sendiri," kata wakil presiden penelitian Gartner, Annette Zimmerman, sebagaimana dikutip CNBC.

Dengan kemampuan membaca ekspresi wajah, menganalisis suara serta perilaku pengguna, asisten virtual akan dapat memahami konteks perintah yang mereka terima, dan merespons dengan jawaban yang lebih sesuai dengan emosi pengguna.

Menurut Gartner, asisten virtual dengan kemampuan membaca emosi akan membantu saat pengguna berada dalam mobil dan perawatan kesehatan.

Mobil yang dilengkapi dengan asisten digital semacam itu akan dapat memutuskan apakah pengemudi lelah, stres, marah atau frustrasi, dan mengendalikan mobil dengan cara yang akan membuat perjalanan lebih aman.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR