Tes darah bisa deteksi kanker sebelum gejalanya muncul

Ilustrasi operasi biopsi.
Ilustrasi operasi biopsi. | Chaikom /Shutterstock

Selama ini, untuk mendeteksi kanker, para dokter menggunakan metode biopsi; memeriksa dan menganalisis sebagian kecil jaringan tumor yang telah dipotong.

Dilansir dari situs Alodokter, tumor merupakan pertumbuhan sel-sel tubuh yang abnormal, yang membentuk benjolan. Terdapat 2 kategori tumor, yaitu tumor jinak yang hanya tumbuh pada satu bagian tubuh dan tidak menyebar atau menyerang bagian lain, dan tumor ganas yang biasa disebut kanker.

Tumor ganas inilah yang dapat menyerang jaringan di sekitarnya, masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Metode biopsi masih merupakan metode terbaik, namun juga terdapat beberapa kekurangan. Kumparan menuliskan kekurangan metode ini di antaranya adalah seseorang harus sudah memiliki tumor terlebih dahulu jika ingin mendeteksi kanker. Selain itu pemotongan bagian tumor pada tubuh yang sering kali terasa menyakitkan penderitanya.

Namun, para peneliti dari Johns Hopkins University telah mengembangkan tes yang dapat mendeteksi kanker, jauh sebelum gejala pertama muncul. Para peneliti, yang melakukan tes untuk memindai darah bagi DNA spesifik tumor, dapat mengidentifikasikan stadium awal kanker terhadap lebih separuh dari 138 pasien yang sakit.

Tes yang disebut dengan "liquid biopsies" atau "biopsi cair" ini masih harus menempuh perjalanan jauh hingga akhirnya dapat digunakan untuk mendeteksi kanker. Namun para peneliti meyakini bahwa tes semacam ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi kanker lauh lebih awal, sehingga para pasien memiliki kesempatan untuk bertahan hidup.

"Banyak yang merasa senang dengan adanya biopsi cair ini, tetapi kebanyakan dari mereka sudah berada di stadium akhir kanker atau pada individu yang sudah mengetahuinya," kata dokter Victor Velculescu, profesor onkologi di Johns Hopkins Kimmel Cancer Center, dikutip dari The Telegraph.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa mengidentifikasi kanker lebih dini dengan menggunakan perubahan DNA dalam darah adalah layak, dan metode pengurutan akurasi tinggi yang kami lakukan adalah pendekatan yang menjanjikan untuk mencapai tujuan ini."

Velculescu menambahkan bahwa berdasarkan pengetahuan mereka, penelitian ini merupakan salah satu studi pertama yang melihat secara langsung kanker tahap awal.

"Tantangannya adalah untuk mengembangkan tes darah yang dapat memprediksi kemungkinan adanya kanker tanpa mengetahui mutasi genetik yang ada pada tumor seseorang," kata Velculescu, seperti dikutip dari situs Hopkins Medicine.

Sementara Jillian Phallen, seorang mahasiswa pascasarjana di Johns Hopkins Kimmel Cancer Center yang juga merupakan anggota tim peneliti, menambahkan bahwa tujuannya adalah mengembangkan tes skrining yang sangat spesifik untuk kanker dan cukup akurat untuk mendeteksi kanker saat ini, sekaligus mengurangi risiko terjadinya tes dan pengobatan yang tidak perlu.

Penelitian yang hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine (16/8) ini menguraikan pendekatan baru yang disebut urutan penyebutan error yang ditargetkan atau targeted error connection sequencing (TEC-Seq).

Pendekatan tersebut meneliti 58 gen yang berhubungan dengan kanker melalui pengurutan DNA secara mendalam sebanyak 30.000 kali untuk mencari mutasi pada DNA sel tumor yang mengambang di tubuh. Pasien kanker memiliki DNA ini di dalam darah mereka dari sel tumor yang mati.

Velculescu, Phallen, dan para peneliti lainnya memeriksa sampel darah dari 200 orang yang mengidap kanker paru-paru, payudara, ovarium dan kolokteral. Mereka kemudian memilah dan memisahkan sampel darah pasien untuk mutasi dalam 58 gen tersebut.

Secara keseluruhan, para ilmuwan mampu mendeteksi 86 dari 138 kanker stadium I dan II, atau sebanyak 62 persen. 50 persen di antaranya merupakan pasien kanker kolon, dan 90 persen dari pasien kanker usus tersebut sudah mencapai stadium dua, tiga maupun empat.

Selain itu, para peneliti juga mengidentifikasi 45 persen kanker paru stadium 1, sebanyak 67 persen kanker ovarium stadium 1 dan 67 persen kanker payudara stadium 1.

Akan tetapi, meskipun hasilnya cukup meyakinkan, dokter Velculescu mengatakan bahwa tes ini masih membutuhkan banyak perbaikan. Serta harus diujicobakan dalam jumlah pasien yang lebih banyak dan dengan kanker yang lebih beragam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR