TEKNOLOGI ANTARIKSA

TESS segera terbang mencari kehidupan di luar Bumi

Ilustrasi Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) di depan planet lava yang mengorbit bintang induknya. TESS akan mengidentifikasi ribuan eksoplanet yang berpotensi untuk studi dan observasi lebih lanjut.
Ilustrasi Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) di depan planet lava yang mengorbit bintang induknya. TESS akan mengidentifikasi ribuan eksoplanet yang berpotensi untuk studi dan observasi lebih lanjut. | GSFC /NASA

Lima hari lagi (16/4/2018), jika sesuai rencana, NASA akan mengawali misi terbaru dan terbesar mereka.

Badan Antariksa Amerika Serikat itu akan meluncurkan teleskop antariksa terbaru bernama Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) untuk berburu eksoplanet--planet di luar Tata Surya. TESS akan diterbangkan dengan roket Falcon 9 milik SpaceX dari Cape Caneveral, Florida.

TESS, yang pembuatannya memakan waktu lebih dari 10 tahun itu, dapat menjadi langkah awal untuk menemukan planet lain di luar Tata Surya mungkin juga memiliki sebuah bentuk kehidupan.

"Kami berharap TESS akan menemukan sejumlah planet yang komposisi atmosfernya--yang bisa menyimpan petunjuk akan hadirnya kehidupan--bisa diukur secara tepat oleh para pengamat pada masa datang," kata George Ricker, pemimpin misi TESS yang merupakan ahli astrofisika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Misi ini dikelola oleh Pusat Penerbangan Luar Angkasa Gooddarn NASA di Greenbelt, Maryland.

Dibantu gravitasi Bulan, TESS akan beredar mengelilingi Bumi pada orbit 13.7-hari. Artinya, teleskop itu akan menyelesaikan satu putaran mengelilingi Bumi dalam waktu 13,7 hari. Enam hari setelah diluncurkan, dan setelah pengujian seluruh instrumennya selesai, ia akan memulai misi awalnya selama dua tahun.

TESS dilengkapi empat kamera wide-field yang memberikan area pandang mencakup 85 persen langit secara keseluruhan. Pada tahun pertama observasi ia akan memetakan 13 sektor di bagian selatan angkasa, dilanjutkan 13 sektor bagian utara angkasa pada tahun berikutnya.

Teleskop ini akan mencari fenomena yang disebut transit, saat sebuah planet beredar tepat di depan bintangnya. Fenomena itu menyebabkan meredupnya kecerahan cahaya bintang itu secara berkala dan reguler.

Elisa Quintana, astrofisikawan NASA, mengatakan dalam sebuah video tentang misi tersebut, transit memungkinkan para ilmuwan untuk mengetahui ukuran planet, mempelajari lebih lanjut tentang atmosfernya, dan bahkan mengkarakterisasi orbitnya.

Mengutip Space.com, metoda tersebut juga digunakan pesawat antariksa Kepler, yang juga dimiliki NASA, untuk menemukan sekitar dua pertiga dari 3.700 eksoplanet yang telah tercatat hingga saat ini.

Akan tetapi eksoplanet temuan Kepler itu sebagian besar berada amat jauh, antara 300-3.000 tahun cahaya dari Bumi. TESS akan mencoba menemukan planet-planet yang cukup dekat untuk diselidiki mendalam oleh instrumen lain, khususnya James Webb Space Telescope, yang dijadwalkan meluncur pada 2020.

Selain itu TESS juga akan fokus pada bintang yang lebih terang 30-100 kali dari yang dipantau Kepler. Kecerahan bintang itu akan membuka pintu bagi para peneliti untuk menggunakan spektroskopi, studi tentang penyerapan dan emisi cahaya untuk menentukan masa, kepadatan, dan komposisi atmosfer sebuah planet.

Keberadaan air dan molekul penting lainnya di atmosfer bisa memberi petunjuk akan kemampuan planet itu untuk menunjang kehidupan.

"Kami dapat mempelajari planet-planet individual dan mulai berbicara tentang perbedaan antar planet. Target yang ditemukan TESS akan menjadi subjek yang fantastis untuk penelitian selama beberapa dekade mendatang. Ini adalah awal dari era baru penelitian eksoplanet," kata Stephen Rinehart, ilmuwan proyek TESS.

NASA’s New Planet Hunter: TESS /NASA Goddard

Setiap 13,7 hari, TESS akan mengorbit Bumi dengan titik terdekat sekitar tiga kali jarak orbit geosynchronous, tempat sebagian besar satelit komunikasi beroperasi.

TESS akan menghabiskan dua tahun berada di orbit ini. Titik terjauh atau apogee, sekitar 373.000 kilometer dari Bumi, yang memungkinkan pesawat ruang angkasa untuk mengamati bagian langit tanpa gangguan dari Bulan atau Bumi.

Titik terdekat di orbit atau perigee adalah 108.000 kilometer. Selama fase perigee, TESS akan memancarkan kembali informasi yang dikumpulkan dari pengamatan astronomi pada putaran sebelumnya.

Tahun pertama akan dihabiskan TESS untuk mengamati belahan Bumi bagian selatan dan berpindah ke berbagai lokasi setiap 27 hari sehingga selalu menjauh dari matahari. Kemudian, TESS akan mengamati seluruh belahan Bumi bagian utara selama tahun kedua.

Melalui TESS Guest Investigator Program, komunitas ilmiah di seluruh dunia bisa berpartisipasi dalam penelitian di luar misi inti TESS, memperluas dan memaksimalkan ilmu pengetahuan yang didapat dari misi tersebut, mulai dari karakterisasi eksoplanet hingga astrofisika bintang dan ilmu sistem solar.

"Saya pikir kita takkan tahu semua yang akan dicapai TESS," kata Rinehart. "Bagi saya, bagian paling menarik dari setiap misi adalah hasil yang tak diduga, yang tak diperkirakan orang sebelumnya."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR