PENJELAJAHAN ANTARIKSA

Tim ilmuwan Austria tawarkan cara menambang mineral di asteroid

Ilustrasi batuan ruang angkasa
Ilustrasi batuan ruang angkasa | Pixabay

Para penggemar film fiksi ilmiah atau video game pasti tak asing dengan penambangan mineral di asteroid atau menempatkan sebuah stasiun di sana. Sekelompok ahli astrofisika dari University of Vienna, Austria, menyatakan bahwa kedua hal tersebut amat mungkin dilakukan.

Penambangan di Asteroid bisa menjadi kegiatan yang menguntungkan manusia. Objek luar angkasa itu bisa mengandung banyak hal, mulai dari air (berguna untuk misi eksplorasi ruang angkasa jangka panjang) hingga nikel dan kobalt, atau bahkan logam berharga seperti emas atau platinum. Bahkan konsentrasinya dapat jauh lebih tinggi daripada yang ditemukan di Bumi.

Akan tetapi pembangunan stasiun antariksa dan penambangan di asteroid bukan perkara mudah. Ada bahaya radiasi sinar kosmik yang mesti dihadapi manusia, pun kecenderungan asteroid untuk bergerak menjauh jika pengeboran dilakukan dari permukaannya dalam gravitasi mikro.

Malah, menurut situs Interesting Engineering, alih-alih mengebor asteroid, kemungkinan justru manusia pemegang alat bor itu yang berputar-putar.

Tim peneliti yang dipimpin Thomas Maindl, dosen astrofisika University of Vienna, menawarkan sebuah "ide gila" sebagai solusinya. Kalau menambang dari permukaan sulit dilakukan, mengapa kita tidak membangun stasiun di dalam asteroid dan mulai menambang mineral dari sisi dalamnya?

Dalam makalah penelitian yang diterbitkan di ArXiv, situs penerbitan artikel ilmiah milik Cornell University, Maindl dkk. menyatakan hal tersebut amat mungkin dilakukan dengan cara memanfaatkan rotasi cepat batu asteroid guna menciptakan gravitasi yang disimulasikan.

Gravitasi tersebut bisa membantu kerja pengebor. Selain itu, para astronaut yang bekerja di sana juga akan terlindungi dari pancaran sinar kosmik.

Asteroid terbaik untuk proyek tersebut, menurut mereka, adalah yang terbuat dari batuan padat dan berputar beberapa kali dalam satu menit. Rotasi tersebut akan memberi gaya sentrifugal yang memungkinkan penambangan dilakukan dari dalam.

Tak sekadar berteori, tim peneliti itu, dikabarkan Science Alert, mengujinya di Bumi menggunakan asteroid hipotetis yang berukuran 500 x 390 meter. Dimensi tersebut mirip dengan beberapa asteroid yang telah diamati, seperti 3757 Anagolay, 99942 Apophis, dan 3361 Orpheus.

Walau demikian, komposisi materi pembentuk asteroid-asteroid tersebut belum diketahui hingga saat ini.

Dalam percobaan tersebut Maindl dkk. mengasumsikan asteroid hipotetis terbuat dari batuan padat. Gravitasinya juga setidaknya 38 persen dari gravitasi Bumi--yang cukup untuk menjaga stasiun ruang angkasa tetap di tempatnya, serta untuk mencegah peralatan penambangan terbang ke ruang angkasa.

Stasiun ruang angkasa itu sendiri, menurut mereka, bisa dibuat dari tabung aluminium. Bahkan, kata Maindl, jika asteroid itu cukup stabil, dinding aluminium tidak diperlukan. Bangunan stasiun bisa menggunakan bebatuan di situ sebagai dindingnya.

"Aplikasi praktis akan amat tergantung pada pengetahuan mengenai komposisi dan struktur internal (asteroid) yang jadi kandidat," jelas mereka.

Oleh karena itu, lanjut tim peneliti, keputusan apakah akan membangun stasiun atau tidak, baru bisa diambil setelah penambangan dimulai.

Ada masalah penting lain, menurut Futurism, yang mesti dipikirkan. Apakah melakukan pengeboran dan penambangan mineral tidak malah memperlemah struktur asteroid sehingga nantinya ia malah terbelah atau hancur berantakan?

Maindl mengakui bahwa banyak yang mesti dilakukan sebelum bisa mewujudkan ide gila mereka. "Perbatasan antara sains dan fiksi ilmiah di sini agak kabur," kata Maindl. "Menurut perasaan saya, setidaknya butuh 20 tahun lagi sebelum penambangan asteroid terjadi, apalagi sesuatu seperti ini."

Kesimpulan dari studi yang dilakukan para ahli University of Vienna tersebut memang belum mendapatkan tanggapan dari ilmuwan lain (peer-review). Namun bisa memberikan pandangan alternatif dalam upaya penambangan asteroid.

Mengapa penambangan asteroid menjadi hal yang menarik untuk dilakukan?

Saat ini diketahui ada sekitar 9.000 asteroid yang mengorbit dekat Bumi. Setiap tahunnya, jumlah itu bisa bertambah sekitar 1.000 buah. Menurut perkiraan, asteroid berdiameter satu kilometer dapat mengandung hingga 7.500 ton platinum, dengan nilai lebih dari $150 miliar AS (Rp 2.106 triliun pada kurs saat ini).

Bahkan, menurut NASA (h/t CNBC), mineral-mineral yang terkandung di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter bisa memberikan setiap orang di Bumi uang sebanyak $100 miliar.

Kalaupun penambangan bisa dilakukan, ada masalah lain yang membayangi, yaitu soal legalitas kepemilikan benda antariksa.

Perjanjian Luar Angkasa 1967, yang ditandatangani 103 negara, menyatakan bahwa tidak boleh ada negara yang mengklaim kepemilikan terhadap benda antariksa. Walau demikian, dituturkan Wired, hingga saat ini belum ada aturan mengenai ekstraksi mineral dari benda antariksa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR