INOVASI TEKNOLOGI

Tim mahasiswa ITB ciptakan stasiun cas mobil listrik

Stasiun pengisian mobil listrik In Charge buatan tim mahasiswa Teknik Elektro ITB 2015; (kiri-kanan) Ratna Adriani Djohan, Ingmar Ramzan Shidqi, dan Rizky Budi Prasetya.
Stasiun pengisian mobil listrik In Charge buatan tim mahasiswa Teknik Elektro ITB 2015; (kiri-kanan) Ratna Adriani Djohan, Ingmar Ramzan Shidqi, dan Rizky Budi Prasetya. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Menyusul penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik yang memulai era kendaraan setrum, mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) menyiapkan stasiun pengisian listrik (cas) bernama In Charge.

Stasiun cas ini dikembangkan oleh tim mahasiswa Teknik Elektro ITB angkatan 2015. "Penggunaannya untuk di perkantoran, tempatnya di area parkir," kata Rizky Budi Prasetya, Rabu (7/8/19).

Rizki mengembangkannya bersama dua rekan, Ingmar Ramzan Shidqi dan Ratna Adriani Djohan. Mereka membuat sistem lengkap dari perangkat keras hingga lunak dengan layanan dari tahap pengisian sampai pembayaran listrik yang disedot.

"Idenya dari kebijakan pemerintah yang ingin mengembangkan moda listrik pada 2017," ujar Ingmar.

Purwarupa (prototype) karya mereka ikut mejeng di ajang Electrical Engineering Days (EE Days) 2019. Ajang ini merupakan pameran karya tugas akhir puluhan mahasiswa Teknik Elektro ITB yang berlangsung di Aula Timur pada Senin-Rabu (5-7/8/19).

In Charge menarik perhatian dari pada jejeran stan karena bentuknya. Sekilas tampak seperti pengisian bahan bakar minyak (BBM), tapi lebih ramping, unik, dan sederhana.

Perangkat In Charge menempel pada papan kayu tegak setinggi 160 selebar 40 centimeter dengan dudukan. Pada bagian mukanya terdapat port kabel listrik dan lampu indikator. Dari alat utamanya itu tersambung kabel sepanjang 2,5 meter berdiameter 2 centimeter untuk dipasang ke mobil.

"Sambil diparkir mobil listrik bisa dicas tanpa harus ditunggui pemiliknya," ujar Ratna.

Pengguna bisa memantau proses pengisian setrum itu dari ruang kerja atau tempat mana pun yang jauh dari tempat parkir kantor. Caranya dengan membuka aplikasi khusus yang mereka buat dengan nama In Charge pula.

Aplikasi itu untuk sementara bekerja pada ponsel bersistem operasi minimal Android 5.0 atau Lollipop. Informasinya bisa real time lewat jaringan Internet kabel atau wi-fi.

Stasiun pengisian listrik itu bertegangan input 220 volt AC atau arus listrik bolak-balik dua arah. Adapun tegangan keluarannya 208-240 volt AC. Arus keluarannya maksimal hingga 32 Ampere. Agar bisa dipasang 4-5 alat In Charge, ketersediaan listrik di kantor itu minimal 6,4 kilowatt.

"Daya listrik sebuah kantor bisa sampai 50-200 kilowatt," kata Ingmar.

Menurutnya, arus listrik baru akan mengalir dari In Charge ketika colokannya (plug) masuk ke soket mobil listrik. Sebelum tersambung, ujung kabel dari stasiun pengisian ketika terpegang tetap aman. "Pengguna tidak akan tersengat listrik," ujarnya.

Adapun jika terjadi kebocoran akibat kabel putus atau hal lain yang bisa menyetrum pengguna saat mencolokkan kabel ke mobil, In Charge menyediakan sistem pengaman.

Sistem segera mendeteksi untuk melindungi pengguna dengan cara memutuskan aliran listrik. “Kecepatannya dalam waktu 30 mili sekon atau 30/1000 detik," kata Rizky.

Setelah dicolokkan ke mobil, langkah selanjutnya pengguna mengatur pengisian di panel In Charge. Ada dua pilihan yang mereka tawarkan yaitu pengisian, berdasarkan durasi atau banyaknya listrik yang ingin dipakai. "Berdasarkan energi, tarifnya Rp2.000/kwh, atau ngecas per jam Rp10 ribu," papar Rizky.

Aplikasi kemudian digunakan untuk memindai QR Code pembayaran. Mereka menerapkan cara prabayar yang dirancang terhubung dengan penyedia jasa layanan pembayaran daring (online).

Kabel komunikasi dari perangkat ke mobil juga menunjang aliran data ke server dan pengguna. Aplikasi pun bisa menampilkan riwayat pengisian. "Nanti ada fitur tambahan untuk melihat tempat pengisian baterai mobil listrik yang terdekat," kata Ingmar.

Pembuatan In Charge dirintis sejak Agustus 2018. Setelah melihat situasi dan masalah, mereka mencari standard, menyusun spesifikasi produk, dan merancang perangkat keras dan lunaknya. "Yang paling susah bikin desain sistem listriknya," kata Ingmar.

Adapun untuk bagian kemasan alat mereka bekerjasama dengan rekan di jurusan Desain Produk. Pengembangan selanjutnya akan menyesuaikan Standar Nasional Indonesia yang kini belum keluar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR