LINGKUNGAN HIDUP

Titik terdingin di Bumi semakin dingin

Ilustrasi antartika
Ilustrasi antartika | Pixabay

Antartika menyandang sebutan “benua beku” bukan tanpa alasan. Cuaca dingin tentu tidak mengherankan, tetapi seberapa rendah temperatur di sana masih menjadi pertanyaan.

Para peneliti dari Pusat Data Salju dan Es Nasional (NSIDC) di University of Colorado-Boulder, Amerika Serikat, kini telah mengidentifikasi tempat terdingin di planet ini. Area yang dimaksud adalah Dataran Tinggi Antartika Timur.

Hamparan luas yang kosong seukuran Australia ini dimulai tepat di dekat Kutub Selatan. Menduduki wilayah sekitar 3.500 meter di atas permukaan laut, udara di atas Dataran Tinggi ini sangat kering dan tipis.

Sementara membuatnya menjadi tempat yang sempurna untuk observatorium masa depan, karakteristik yang dimiliki wilayah itu juga membuatnya mendapat peringkat di jajaran tempat-tempat paling dingin di Bumi.

Pada tahun 1983, sebuah stasiun cuaca Rusia mengukur suhu udara di sana dan menghasilkan angka serendah -89 derajat Celsius. Kemudian pada tahun 2013 data satelit mengungkapkan kantong-kantong es (ruang berisi udara) tertentu di sana bisa mencapai suhu -93 derajat Celsius.

Kini studi baru dari tim yang sama pada tahun 2013 ditugaskan untuk memeriksa apakah kini kantong-kantong es tersebut menjadi lebih dingin. Antartika Timur memang terlihat datar di permukaan, tapi sebenarnya berbentuk kubah dari tengah hingga ujung seperti cangkang kura-kura yang luas, menyisakan ruang kosong di dalam.

Penemuan yang diterbitkan dalam Geophysical Research Letters dan dibuat oleh tim NSIDC ini menunjukkan bahwa titik terdingin di Antartika timur kini mencapai suhu -98 derajat Celsius. Angka ini mengejutkan mereka.

Suhu beku seperti itu terjadi di kantong-kantong kecil di atas es, dengan pembacaan satelit menunjukkan berada pada kedalaman hingga 3 meter.

Untuk mendapatkan gambaran bagaimana rasanya berada dalam suhu tersebut, tidak memungkinkan bagi seorang manusia untuk mengambil napas secara normal. Hal ini karena organ paru-paru akan mengalami pendarahan. Itulah sebabnya mengapa para ilmuwan Rusia memakai masker yang dirancang untuk menghangatkan udara di sekitar mulut mereka.

Menggambarkan maksud tersebut, pemimpin studi, Ted Scambos dari Universitas Colorado-Boulder, mengatakan, "Ini adalah tempat di mana Bumi sangat dekat dengan batasnya, di sana hampir seperti planet lain."

"Saya belum pernah dalam kondisi sedingin ini, dan saya berharap tidak akan pernah," tambah Scambos, kepada National Geographic (27/6). "Saya diberitahu bahwa setiap napas terasa menyakitkan, dan Anda harus sangat berhati-hati untuk tidak membekukan sebagian tenggorokan atau paru-paru ketika menghirup udara di sana."

Pada 2013 dan dalam studi barunya, para peneliti mengkalibrasi pengukuran suhu permukaan satelit yang sama dengan data yang dikumpulkan dari stasiun cuaca di permukaan Antartika. Hal ini dilakukan untuk menemukan suhu permukaan Bumi secara spesifik, bukan udara di atas permukaan tanah saja. Kedua jenis pengukuran ini bermanfaat bagi para ilmuwan.

Stasiun cuaca dapat mencatat kondisi persis seperti apa adanya, tetapi satelit dapat mencakup area yang jauh lebih besar sepanjang waktu. Dalam hal ini tim menggunakan data dari satelit Terra dan Aqua NASA, ditambah Satelit Lingkungan Operasional Polar NOAA, yang memiliki catatan antara tahun 2004 dan 2016.

Dengan pembaruan ini, mereka mengkalibrasi ulang data satelit dan mendapatkan ukuran yang lebih akurat dari suhu yang menusuk tulang di kantong-kantong dalam es dekat Kutub Selatan. Tempat yang sama di dataran tinggi yang sebelumnya diidentifikasi sebagai terdingin di Bumi masih memegang posisi terdingin--hanya saja kini lebih dingin sekitar 5 derajat Celsius, studi tersebut menemukan.

Untuk analisis baru, para peneliti mengambil pandangan segar pada data cuaca permukaan. Kali ini, mereka juga berperan dalam kekeringan atmosfer, karena udara yang lebih kering membuat penutup salju kehilangan panas lebih cepat.

Penurunan suhu terbesar terjadi pada malam hari selama musim dingin di Belahan Bumi Selatan, yaitu Juni, Juli, dan Agustus. Para peneliti menyimpulkan bahwa suhu udara di tempat yang sangat dingin (di mana tidak ada stasiun cuaca) mungkin sekitar -94 derajat Celsius.

Tim peneliti juga telah mengembangkan seperangkat instrumen yang dirancang untuk bertahan dan beroperasi di tempat-tempat yang sangat dingin melalui musim dingin dan mengukur suhu salju dan udara. Mereka berencana untuk menyebarkan instrumen tersebut pada tahun depan atau dua tahun lagi, selama musim panas di Antartika ketika suhu relatif sedang yaitu -30 derajat Celsius.

Sayangnya angka suhu terdingin tersebut tidak kan bertahan lama. Meningkatnya kadar karbon dioksida di atmosfer, dan semakin tingginya kadar uap air yang dihasilkan, berarti persyaratan yang diperlukan untuk menciptakan suhu super-dingin akan semakin kurang memenuhi.

"Proses radiasi yang mengendalikan rekor suhu permukaan dan udara yang rendah, dan komposisi atmosfer yang berubah, menyiratkan bahwa di masa depan kita mungkin melihat lebih sedikit peristiwa suhu rendah ekstrem," tulis para peneliti.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR