KESEHATAN

Transplantasi stem cell untuk mata pertama di dunia diklaim sukses

Foto ilustrasi. Seorang model mengenakan kaca mata mainan dalam International Tokyo Toy Show 2016 di Tokyo, 9 Juni 2016.
Foto ilustrasi. Seorang model mengenakan kaca mata mainan dalam International Tokyo Toy Show 2016 di Tokyo, 9 Juni 2016. | Christopher Jue /EPA

Perempuan Jepang berusia 40-an tahun menjadi orang pertama di dunia yang menjalani transplantasi stem cell untuk kornea matanya. Dokter Kohji Nishida mengklaim operasi transplantasi itu berhasil dan sukses.

Dilansir Nature, Senin (2/9/2019), Nishida menjelaskan bahwa operasi transplantasi dilakukan sebulan lalu. Sejak itu, kornea sang perempuan membaik dan pandangannya kian jelas.

Sang perempuan yang tak disebut namanya itu, menurut Nishida -- ahli mata dari Osaka University, memiliki penyakit di matanya. Lapisan pelindung di kornea matanya sudah hilang sehingga pandangannya kabur dan bisa menyebabkan kebutaan.

Saat ini seseorang dengan kerusakan atau penyakit pada kornea diobati dengan selaput dari para donor yang sudah meninggal. Namun di Jepang, antrean untuk mendapatkan donasi selaput ini cukup panjang sehingga ancaman kebutaan sulit dihindari.

Adapun stem cell, atau dalam bahasa Indonesia disebut sel punca dari sel induk tubuh makhluk hidup, berhasil mengatasi itu. Nishida mengatakan tim dokter lebih dulu membentuk timbunan sel kornea dari stem cell (iPS). iPS dibuat dari sel kulit seorang donor yang bisa ditransformasi menjadi berbagai macam tipe sel, termasuk sel kornea.

Nishida dan tim kemudian mendapat izin untuk mentransplantasikan sel punca itu dari Kementerian Kesehatan Jepang. Transplantasi dilakukan di bagian depan mata yang melindungi diafragma dan pupil.

Menurut Medical News Today, Jumat (6/9), sel punca akan memastikan mata tetap segar dan bisa dibenahi jika diperlukan sehingga cahaya bisa masuk ke mata. Namun jika sel punca itu rusak akibat penyakit atau cedera, perawatan kornea tak bisa lagi dilakukan dan dapat memicu kebutaan.

Adapun izin untuk Nishida diberikan untuk tiga orang pasien lainnya. Operasi berikutnya akan dilakukan pada akhir tahun ini dan Nishida berharap pengembangan iPS bisa dilakukan di klinik dalam lima tahun ke depan.

"Menurut hasil riset, hanya ada 1 kornea untuk pasien dari 70 yang dibutuhkan. Semoga teknologi terbaru ini bisa setidaknya mengurangi selisih itu," ujar Nishida.

Penggunaan sel punca sebenarnya cukup kontroversial dan masih diliputi pro-kontra. Sementara Jepang adalah satu di antara sedikit negara terdepan yang giat mengembangkan teknologi iPS.

Pada 2006, eksperimen sel punca diperkenalkan oleh Shinya Yamanaka dari Kyoto University yang kemudian berhasil menerima penghargaan Nobel. Di Jepang, iPS juga bisa digunakan untuk mengobati cedera syaraf, parkinson, dan penyakit mata lainnya.

Kendati demikian, jalan untuk menciptakan iPS tidak mudah. Meski potensial, iPS masih butuh waktu agar bisa dikembangkan di klinik --bukan cuma di laboratorium.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR