KESEHATAN

Uji klinis deteksi kanker lewat napas dalam 10 menit

Pengguna ReCIVA® Breath Sampler.
Pengguna ReCIVA® Breath Sampler. | Owlstone Medical /Owlstone Medical

Dengan bernapas 10 menit saja, analisis dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker. Tes analisis napas yang dikembangkan oleh para ilmuwan Inggris ini bisa merevolusi diagnosis kanker.

BBC.com melansir, uji klinis kini sedang digelar oleh Cancer Research UK bersama Owlstone Medical. Tes ini dirancang untuk mengenali tanda-tanda awal penyakit.

Dengan tes ini, kebutuhan untuk biopsi bisa berkurang. Ribuan nyawa pun bisa diselamatkan setiap tahun.

Teknik ini bergantung pada perangkat rintisan, ReCIVA yang dapat mendeteksi senyawa kimia yang dikeluarkan oleh tumor kanker. Percobaan besar teknologi yang melibatkan 1.500 pasien selama dua tahun ini pun diluncurkan.

Satu dekade lagi tes ini bisa menggantikan program screening yang biasa diterapkan para ahli kesehatan.

"Ini kedengaran futuristik tetapi sangat nyata dan potensinya sangat besar. Jika Anda menemukan kanker sejak dini, potensi untuk perawatan jauh lebih tinggi. Dalam banyak kasus, kita hanya tidak punya tes yang baik untuk mendeteksi kanker pada tahap awal karena tidak adanya gejala," kata Dr. David Crosby dari Cancer Research UK.

Sambung Dr. Crosby, "Jadi adanya tes yang relatif murah dan non-invasif sehingga tidak perlu melakukan biopsi akan menjadi kemajuan besar. Pada dasarnya ini adalah breathalyser untuk kanker."

Sementara biopsi atau tes invasif lain membutuhkan waktu, breathalyser dapat dioperasikan dalam operasi yang dilakukan dokter umum.

Teknologi ini adalah gagasan ilmuwan Cambridge Billy Boyle. Boyle mengembangkannya setelah sang istri, Kate Gross, meninggal karena kanker usus dalam usia 36 pada tahun 2014

Boyle pun terpacu sampai akhirnya jadi salah satu pendiri perusahaan Owlstone Medical. Ia berharap, teknologi yang ditemukannya dapat membantu orang lain mendapatkan perawatan dini.

Cara kerja tes ini adalah dengan mengamati produk buangan yang dikeluarkan oleh sel-sel kanker, dikenal sebagai senyawa organik volatil (VOC). VOC menyelisik napas pasien melalui aliran darah, dengan cara yang mirip dengan alkohol.

Dalam uji klinis yang dilakukan di Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge, pasien akan diminta untuk bernapas ke dalam perangkat selama sepuluh menit. Molekul udara yang terkumpul kemudian dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.

Pasien bisa mendapatkan hasil dalam beberapa hari. Sementara dengan metode biopsi yang biasanya dilakukan, pasien harus menunggu dua pekan.

Para ilmuwan di balik teknologi ini percaya bahwa kanker yang berbeda akan menyebabkan perubahan yang dapat dikenali dalam VOC. Ini memungkinkan mereka menentukan penanda senyawa kimia masing-masing jenis kanker.

Untuk uji klinis awal, pasien yang diduga menderita kanker kerongkongan dan lambung akan diberi tes. Baru kemudian tes diperluas untuk meliputi kanker prostat, ginjal, kandung kemih, hati, dan pankreas.

"Konsepnya adalah saat mengamati VOC, Anda akan dapat mengetahui apakah ada kanker dan apa jenisnya," terang Dr. Crosby.

"Ini baru tahap awal tetapi ada banyak sinyal menjanjikan yang kelihatannya seperti Anda akan mendapatkan penanda berbeda misalnya dari kanker di usus dan di paru-paru, pankreas, atau di mana pun."

ReCIVA, Breath Sampler produksi Owlstone Medical.
ReCIVA, Breath Sampler produksi Owlstone Medical. | Owlstone Medical /Owlstone Medical

Menukil CNN.com, di Inggris ada 360 ribu kasus baru kanker didiagnosis setiap tahun. Setengah dari jumlah tersebut biasanya terdeteksi pada tahap akhir, akibatnya mengurangi peluang bertahan hidup seseorang secara drastis. Secara global, menurut WHO estimasi angka kasus kanker baru mencapai 18,1 juta pada 2018.

Namun, kemajuan pesat teknologi berarti para ilmuwan sekarang bisa mendeteksi tanda-tanda awal kanker yang setara dengan sebagian kecil dari sebutir pasir.

Demikian pula, pemahaman yang lebih besar tentang biologi kanker berarti para peneliti sekarang yakin betul apa yang harus diamati.

Peneliti utama Profesor Rebecca Fitzgerald, dari Cancer Research UK Cambridge Institute, mengatakan cara terbaik untuk menaikkan tingkat kelangsungan hidup adalah melalui deteksi dini.

"Kita sangat perlu mengembangkan alat-alat baru--seperti tes napas ini--yang dapat membantu mendeteksi dan mendiagnosis kanker lebih awal, memberi pasien peluang terbaik untuk bertahan hidup," terang Profesor Fitzgerald.

"Melalui uji coba ini kami berharap bisa menemukan penanda yang diperlukan untuk mendeteksi kanker lebih awal. Ini langkah krusial berikutnya dalam mengembangkan teknologi ini."

Tes napas ini menurut Boyle bisa berjalan bersamaan dengan metode diagnosis lain. "Ada peningkatan potensial tes berbasis napas untuk membantu diagnosis, sama halnya dengan tes darah dan urin dalam upaya membantu dokter mendeteksi dan mengobati penyakit," tutur Boyle.

Boyle memaparkan, konsep memberikan gambaran seluruh tubuh dengan cara yang sepenuhnya non-invasif ini bersifat sangat kuat dan dapat mengurangi bahaya karena menghindarkan pasien dari tes-tes invasif yang tidak dibutuhkan pasien.

"Teknologi kami telah terbukti sangat efektif mendeteksi VOC dalam napas, dan kami bangga dapat bekerja sama dengan Cancer Research UK ketika kami berupaya menerapkannya pada area yang sangat penting dalam mendeteksi penyakit tahap awal dalam berbagai jenis kanker," pungkas Boyle.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR