LITERASI DIGITAL

WhatsApp batasi forward hanya 5 kali demi cegah hoaks

Logo WhatsApp di sebuah ponsel
Logo WhatsApp di sebuah ponsel | Hayoung Jeon /EPA-EFE

Menyambut Pemilu 2019 pada April nanti, bukan hanya pemerintah yang sibuk. Pihak asing juga berkepentingan, salah satunya adalah aplikasi pesan instan WhatsApp (WA).

Layanan chatting ini memberlakukan aturan baru yang membatasi penerusan pesan atau forward hanya maksimal lima kali. Dilansir Reuters, Senin (21/1/2019), kebijakan baru WA ini berlaku di seluruh dunia.

Sebenarnya secara global, seorang pengguna tidak bisa meneruskan pesan lebih dari 20 dengan WA. Tapi menurut aturan baru, batasan diturunkan menjadi lima pesan dengan harapan pengguna tidak menerima pesan yang salah.

Victoria Grand, Wakil Presiden Facebook untuk Kebijakan dan Komunikasi WhatsApp, menyatakan batasan lima pesan ini diterapkan di seluruh dunia -- bukan cuma di Indonesia. "Kami bekerja keras untuk membuat platform WhatsApp lebih berintegritas," ujar Victoria dari Hotel Pulman, Jakarta, dilansir Liputan6.com.

Victoria lebih lanjut mengatakan bahwa inisiatif ini diambil setelah bertemu dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. "...guna menjaga agar platform WhatsApp lebih aman lagi," katanya.

Dengan begitu, jika sebuah pesan telah "diteruskan" sebanyak lima kali maka Anda tidak akan dapat meneruskannya untuk keenam kalinya. Apabila Anda menilai informasi dalam pesan itu cukup penting, Anda bisa bisa mengetik ulang, menyimpan fotonya, dan kemudian mengirimkannya secara manual karena tombol "teruskan (forward)" tidak berfungsi lagi.

Sekitar 90 persen pesan WA merupakan percakapan privat antara dua orang pengguna. Sementara 10 persen di antaranya merupakan pesan berantai. Victoria mengatakan pesan berantai jadi bagian misinformasi sehingga hoaks tumbuh subur di media sosial.

Menurut siaran pers Kementerian Komunikasi dan Informatika, pembatasan jumlah terusan pesan menjadi maksimal lima kali ini mulai berlaku efektif pada 21 Januari 2019 waktu Los Angeles atau Selasa (22/1) pukul 12.00 WIB.

Pengguna Android akan mengalami aturan baru tersebut lebih dulu. Sedangkan pengguna iOS harus menunggu karena versi baru masih dalam pengembangan.

Enam bulan yang lalu, aturan baru ini diberlakukan di India. Dan efeknya, menurut Victoria, perilaku penerusan pesan berantai kepada pengguna lain di India turun hingga 25 persen.

WA terpaksa menerapkan aturan tersebut di India setelah tersebar (viral) kabar penculikan anak melalui WA bahkan mengarah ke pembunuhan pelaku (palsu). Kebetulan, India adalah salah satu negara dengan tingkat terusan pesan paling tinggi di dunia sehingga WA terpaksa meniadakan fitur tersebut.

"Saat WhatsApp menurunkan menjadi 5 pesan, ada penurunan perilaku penyebaran pesan berantai sebesar 25 persen," ujar Victoria kepada The Guardian (21/1).

Selama ini pula, WA menyematkan label Forwarded (terusan) ketika seseorang menerima pesan non-orisinal. Hal ini membantu pengguna mengetahui bahwa pesan yang mereka terima tidak dibuat oleh orang yang mengirimkannya.

Selain itu, WA juga bisa mengidentifikasi akun pengguna yang dianggap tidak lazim. Caranya adalah dengan memantau perilaku pengguna berdasarkan pembelajaran mesin.

Perilaku abnormal dalam hal ini adalah pengguna yang sering meneruskan dan menyebarkan pesan berantai ke berbagai nomor. Jika terindikasi menyebarkan pesan hoaks (spamming), WA tak segan menghapus akun tersebut.

"WhatsApp juga melakukan identifikasi perilaku pengguna di seluruh dunia. Kami memiliki ratusan teknisi (engineer ) yang memantau perilaku pengguna," kata Victoria.

Sebagai catatan, WA merupakan aplikasi yang didukung fitur enkripsi end-to-end. Dengan fitur itu, hanya pengirim dan penerima yang bisa melihat isi pesan.

Terkait identifikasi perilaku pengguna, teknisi WA hanya bisa melihat nomor telepon dan perilaku dalam menggunakan aplikasi. Jadi, para teknisi tidak bisa membaca pesan.

Jika sebuah akun terindikasi memiliki perilaku yang abnormal, maka WA akan menghapusnya. Menurut Berita Satu (21/1), di Brasil, misalnya, WA telah menghapus 400.000 akun karena terdeteksi melakukan penyebaran hoaks.

Pembersihan WA ketika itu dilakukan pada 90 hari menjelang pilpres. "Yang terjadi di Brasil, 90 hari jelang pemilu, (kita) mulai identifikasi akun-akun spamming. Kemungkinan akan di lakukan di Indonesia," ujarnya.

Guna memaksimalkan perlindungan WA dari penyebaran hoaks, pengguna juga bisa melakukan pelaporan nomor akun spam. Opsi ini akan muncul ketika pengguna menerima pesan dari nomor yang belum tersimpan di kontak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR