LITERASI DIGITAL

WhatsApp bersih-bersih 2 juta akun setiap bulan

Aplikasi WhatsApp Messenger pada iPhone di Kaarst, Jerman, 08 November 2017.
Aplikasi WhatsApp Messenger pada iPhone di Kaarst, Jerman, 08 November 2017. | Sascha Steinbach /EPA-EFE

Untuk mencegah spam dan berita bohong (hoaks), WhatsApp (WA) memblokir sekitar 2 juta akun pengguna. Seperti dilansir Venture Beat, Rabu (6/2/2019), WA melakukannya dengan menggunakan kombinasi intervensi dan pembelajaran mesin (machine learning).

Dalam jumpa pers di New Delhi, India, WA menjelaskan bahwa pemblokiran dilakukan untuk menyambut pemilu di negara tersebut. WA menyatakan manusia melakukan pemblokiran terhadap 25 persen akun, sedangkan 75 persen sisanya dihapus oleh algoritma yang bertugas mencari aktivitas berbahaya.

Matt Jones, teknisi perangkat lunak WA, mengatakan dalam Fortune bahwa platform-nya bisa menangkal 20 persen akun bermasalah sejak mereka mendaftar pada awal.

Ada beberapa faktor yang dikategorikan sebagai tindakan yang mencurigakan. Antara lain apakah alamat IP pengguna dan negara asal nomor telepon yang digunakan untuk mendaftar layanan merujuk ke lokasi yang sama; umur akun; dan penggunaan akun untuk mengirim dan menerima pesan sejak dibuat pertama kali.

"Beberapa orang mungkin mencoba untuk mengeksploitasi layanan kami. Beberapa dari mereka mendistribusikan tautan umpan-klik yang dirancang untuk menangkap informasi pribadi, sementara yang lain ingin mempromosikan iklan," ujar WA dalam pernyataan resmi.

"Terlepas dari tujuannya, pengiriman pesan otomatis dan massal melanggar persyaratan layanan kami. Salah satu prioritas kami adalah mencegah dan menghentikan penyalahgunaan semacam ini,” sambungnya.

Dilaporkan The Guardian, WA juga mampu mengidentifikasi metode baru yang dimanfaatkan pengguna untuk menyalahgunakan layanannya. Metode tersebut termasuk menggunakan sejumlah akun berbeda di komputer yang sama untuk menyebarkan pesan bohong.

WA menemukan beberapa perangkat lunak khusus yang bisa mendukung puluhan kartu SIM untuk mendukung aksi hoaks. Namun, WA mengawasinya lewat saluran, tim, dan API terpisah.

Menurut Jones, sekitar 95 persen dari 2 juta akun yang diblokir setiap bulan memiliki perilaku aktivitas WA yang tidak normal. Mereka terdeteksi oleh WA, bukan akibat laporan dari pengguna lain.

Jones menjelaskan, pesan yang dikirim oleh akun otomatis jarang menampilkan status "mengetik" atau "typing..." di bagian atas akun. Akun yang mencurigakan juga cenderung mengirim volume pesan yang tinggi tak lama setelah mendaftar.

Ini menjadi langkah terbaru aplikasi pesan instan milik Facebook tersebut untuk membuat suasana obrolan menjadi kondusif. Bulan lalu, WA membatasi penerusan pesan (forward) maksimal lima kali di seluruh dunia untuk meminimalisir peredaran konten yang keliru atau menyesatkan.

WA merasa perlu melakukan itu semua karena layanannya kini dipakai oleh 1,5 miliar orang di dunia. Karena popularitasnya, seperti juga layanan pesan instan atau jejaring sosial lain, WA pun menjadi lahan subur untuk peredaran spam atau hoaks.

WA tidak hanya melakukan pemblokiran atau penghapusan akun. Di India, WA aktif melakukan kampanye edukasi dan rutin beriklan di semua media informasi.

WA pun bekerja sama dengan sejumlah lembaga pengawas serta pihak berwenang. Bahkan pada Januari lalu, WA menjalin mitra dengan BuffaloGrid, perusahaan asal Inggris, untuk membangun stasiun cas ponsel demi perluasan kampanye edukasi di India.

Semua ini dilakukan karena India dan sejumlah negara lain seperti Indonesia akan menggelar Pemilu 2019 pada April. Namun begitu, sejumlah aksi ini tak serta merta bisa menghapus pesan hoaks 100 persen.

Dalam kasus pembatasan penerusan pesan, menurut Lowy Institute (1/2), pengguna masih bisa melanjutkannya ke grup obrolan (chat groups) yang masing-masing memiliki 256 pengguna. Artinya, total 1.280 orang masih dapat menerima pesan itu meskipun ada pembatasan baru.

Salah satu penyebabnya adalah orang bisa memiliki lebih dari satu ponsel, seperti di Indonesia. Dan masing-masing nomor bisa memiliki satu akun WA tunggal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR