PERANGKAT LUNAK

WhatsApp uji fitur pencarian gambar demi perangi hoaks

Logo aplikasi WhatsApp ditampilkan pada sebuah ponsel di Taipei, Taiwan, 07 April 2016.
Logo aplikasi WhatsApp ditampilkan pada sebuah ponsel di Taipei, Taiwan, 07 April 2016. | Ritchie B. Tongo /EPA

WhatsApp melanjutkan upaya mereka untuk memerangi penyebaran hoaks di platformnya. Setelah membatasi penyebaran sebuah pesan, kini mereka tengah mencoba fitur yang disebut "search by image" atau pencarian gambar.

Menggunakan fitur ini, nantinya pengguna aplikasi berbagi pesan instan yang populer disebut WA tersebut, bisa mendeteksi asli atau tidaknya sebuah gambar yang dikirimkan lawan bicara mereka.

Fitur ini pertama kali muncul di laman WABetaInfo pada Rabu (13/3/2019) dalam pembaruan versi 2.19.73.

Adapun cara kerjanya sederhana. Fitur tersebut memungkinkan pengguna WA untuk mengunggah gambar dalam pesan yang mereka terima langsung ke Google Search. Kemudian peramban itu akan menunjukkan gambar yang serupa atau mirip dengan yang diterima pengguna. Dengan demikian pengguna bisa mengetahui kadar keasliannya. Proses tersebut dikenal dengan nama pencarian terbalik atau reverse image search.

Memang, saat ini peramban sudah bisa digunakan untuk mengonfirmasi sebuah gambar, tetapi reverse image yang terintegrasi dengan WA akan mempermudah pencarian tersebut. Dengan fitur ini nantinya pengguna tak perlu lagi berpindah aplikasi hanya untuk mencari keabsahan gambar yang telah diterima dalam obrolan WhatsApp.

Fitur pencarian gambar terbaru ini terpisah dari advanced search feature yang baru diluncurkan beberapa hari lalu. Menurut Business Today, fitur pencarian lanjutan memungkinkan pengguna mencari berbagai pesan di aplikasi itu sendiri, tidak seperti pencarian gambar yang menggunakan API Google.

Untuk sementara, fitur ini belum tersedia untuk pengguna. WA mungkin masih butuh waktu untuk bisa membuat reverse image search bisa dilakukan live langsung dari aplikasi.

Anak perusahaan Facebook tersebut juga belum mengumumkan kapan mereka akan meluncurkannya secara resmi. Namun, karena fitur tersebut telah dikembangkan, mungkin pembaruan akan datang beberapa minggu kemudian.

Fitur pencarian gambar tentu akan berguna bagi semua pihak untuk mencegah penyebaran informasi yang salah di aplikasi perpesanan terbesar di dunia itu.

Dengan lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif, WhatsApp adalah platform perpesanan paling populer di dunia. Ini membuatnya menjadi target utama untuk berita palsu, serta memanipulasi foto, dan video.

WhatsApp telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah berita palsu di platformnya. Perusahaan mengembangkan inisiatif untuk mendanai penelitian yang berfokus pada menghentikan informasi yang salah pada layanannya.

Sebelumnya, WA telah membatasi penerusan pesan (forward) di Indonesia dan India. Sebelumnya pengguna bisa meneruskan pesan tanpa batas, namun peraturan ini membuat mereka hanya dapat meneruskan pesan ke lima kontak saja. Upaya ini disebut langkah nyata perusahaan untuk memerangi hoaks di platformnya.

Selama beberapa bulan terakhir, WhatsApp juga telah berupaya untuk mencegah spam dan hoaks dengan memblokir sekitar 2 juta akun pengguna. WA melakukannya dengan menggunakan kombinasi intervensi dan pembelajaran mesin (machine learning).

Facebook akui WhatsApp dan Instagram alami gangguan

Sementara itu, masalah menimpa Facebook--perusahaan induk WA. Sejumlah layanannya--Facebook, Instagram, dan WA--sulit diakses di berbagai belahan dunia.

DownDetector mencatat bahwa Indonesia, Malaysia, Singapura, serta beberapa wilayah di Amerika Selatan mengalami gangguan yang paling parah.

"Kami sadar sejumlah orang mengalami masalah mengakses berbagai aplikasi dari keluarga Facebook (Facebook, Instagram, dan WhatsApp). Kami berusaha menyelesaikan masalah ini secepatnya," kata Facebook dalam akun Twitternya.

Facebook juga meyakinkan bahwa masalah yang menimpa berbagai aplikasinya itu bukan akibat serangan DDoS (denial-of-service). DdoS adalah serangan siber di mana seorang peretas membanjiri sebuah situs dengan lalu lintas yang sangat tinggi.

"Kami tengah fokus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin tapi kami mengonfirmasikan bahwa ini tidak terkait dengan serangan DDoS," cuit Facebook.

Pengakuan serupa juga dilakukan Instagram di akun Twitter mereka.

"Kami sadar ada berbagai orang mengalami kesulitan mengakses Instagram saat ini. Kami tahu ini sangat memusingkan dan tim kami tengah bekerja keras untuk menyelesaikannya sesegera mungkin," seperti dikutip Instagram pada 14 Maret.

Sementara WhatsApp masih belum memberikan keterangan apapun terkait masalah ini.

Bukan cuma tiga aplikasi populer ini, perangkat VR Oculus yang juga dimiliki Facebook juga dilaporkan mengalami masalah.

Masalah aplikasi-aplikasi milik Facebook ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Eropa Barat, India, Paraguay, dan Argentina. Demikian dinukil The Verge (13/3).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR