POLUSI UDARA

WHO: 93 Persen anak hirup udara beracun

Ilustrasi anak korban polusi.
Ilustrasi anak korban polusi. | Ermolaev Alexander /Shutterstock

Lebih dari 90 persen anak di penjuru dunia terpapar udara beracun yang dapat mengganggu kesehatan dan proses tumbuh kembang. Begitu isi laporan terbaru WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).

Polusi udara dapat memengaruhi perkembangan saraf anak, mengganggu kemampuan kognitif mereka. Ini termasuk polusi yang berasal dari transportasi urban, pemanasan bahan bakar, proses memasak, atau industri.

"Udara tercemar polusi meracuni jutaan anak-anak dan merusak hidup mereka. Ini tidak bisa dimaafkan. Setiap anak harus bisa bernapas dengan udara bersih sehingga mereka bisa tumbuh dengan potensi maksimal," tegas Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jendral WHO dalam sebuah pernyataan.

Hal ini memiliki konsekuensi tragis. Menurut laporan WHO, pada 2016 saja sekitar 600 ribu anak meninggal akibat infeksi pernapasan akut rendah yang disebabkan udara yang tercemar.

Dilansir Reuters, secara global, 93 persen anak di bawah usia 15 tahun--sebanyak 1,8 miliar--terpapar polutan particulate matter (PM) 2,5 melewati batas rekomendasi WHO. Ini termasuk racun seperti sulfat dan karbon hitam, yang menimbulkan risiko kesehatan terbesar karena mereka dapat menembus jauh ke dalam paru-paru atau sistem kardiovaskular.

Di negara-negara miskin, angka tersebut malah lebih buruk. Menurut WHO, 98 persen balita di negara berpenghasilan rendah dan menengah terpapar polutan PM 2,5 yang lebih tinggi, dibandingkan dengan 52 persen balita di negara berpenghasilan tinggi.

Anak-anak adalah golongan yang menghadapi risiko lebih besar dari polusi udara dibandingkan orang dewasa. Sebab mereka bernapas lebih cepat, karena itu menyerap lebih banyak polutan mana kala tubuh mereka masih terus berkembang.

Belum lagi, mereka juga hidup lebih dekat ke tanah, di mana sejumlah polutan mencapai konsentrasi puncak. "Polusi udara mengerdilkan otak anak-anak, memengaruhi kesehatan mereka melalui cara-cara yang tak terbayangkan. Namun, ada banyak cara langsung untuk mengurangi emisi polutan berbahaya," jelas Dr. Maria Neira, seorang direktur di WHO.

Polusi udara dapat memicu asma dan kanker anak. Anak-anak yang telah terpapar polusi udara tingkat tinggi mungkin juga berisiko lebih besar menderita penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular di kemudian hari.

Karena itu WHO menyerukan percepatan peralihan demi kualitas udara yang lebih baik. Termasuk memasak dengan bersih, bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, transportasi lebih bersih, emisi lebih rendah, dan pengelolaan limbah lebih baik, di antara langkah-langkah lain.

Cara-cara itu dan metode lainnya untuk mencegah polusi udara akan didiskusikan dalam Global Conference on Air Pollution and Health pertama WHO yang akan digelar di markas besar WHO di Genewa pada 30 Oktober hingga 1 November mendatang.

Masih soal polusi udara, organisasi lingkungan global Greenpeace merilis laporan Airpocalypse II yang menunjukkan bahwa India adalah salah satu negara paling tercemar di dunia saat ini.

Menukil CNN, tingkat rata-rata PM2.5--materi partikulat berdiameter lebih kecil dari 2,5 mikrometer yang dapat menyumbat paru-paru--di kota New Delhi, India pada hari Senin ada pada angka 354. Padahal menurut WHO udara yang dianggap layak untuk bernapas secara teratur adalah di bawah 25.

Kualitas udara yang sudah sedemikian buruknya di New Delhi, semakin merosot menjelang musim dingin. Ini akibat kebiasaan pembakaran tanaman, petasan, dan penurunan suhu.

Setiap tahun, petani di negara-negara tetangga yang subur membakar ladang, bersiap untuk musim berikutnya. Dikenal sebagai pembakaran jerami, praktiknya berarti jutaan ton residu tanaman dibakar, melepaskan jumlah partikel yang tak terhitung ke lingkungan.

Pihak berwajib setempat sudah mencoba mengurangi hal ini. Tapi bagi banyak petani tidak ada alternatif lain yang terjangkau.

Pemerintah setempat sudah memperingatkan warganya untuk menutup jendela, menggunakan masker, dan meminimalkan penggunaan kendaraan pribadi guna menekan angka polusi. Warga juga diminta menghindari aktivitas di luar ruangan.

Tentu, upaya mengurangi polusi perlu terus dilakukan secara global. "Dunia perlu mengurangi ketergantungan berlebih pada bahan bakar fosil dan mempercepat proses energi terbarukan," pungkas Neira.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR