INDUSTRI PONSEL

Xiaomi kian menghantui Samsung di pasar Indonesia

Logo jenama Tiongkok, Xiaomi
Logo jenama Tiongkok, Xiaomi | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Xiaomi, akhir-akhir ini gencar menelurkan beragam produk teranyar dan mengadakan sejumlah aktivitas promosi, baik yang berfokus pada penjualan maupun yang berupa program apresiasi untuk Mi Community mereka yang semakin besar jumlahnya.

Tampaknya, jenama dari Tiongkok ini tidak mau diam dan bersantai dalam menanggapi sengitnya pasar, apalagi dengan sesama rekan sejawat Tirai Bambu.

Berdasarkan data terbaru perusahaan analisis International Data Corporation’s atau IDC.

Laporan mengenai "Quarterly Mobile Phone Tracker" yang diterima Beritagar.id menyebutkan bahwa Xiaomi menjadi pemain terbesar kedua pada industri ponsel pintar di Indonesia.

Xiaomi menghantui Samsung dengan selisih persentase yang semakin tipis.

Lalu, untuk kuartal kedua 2018, Xiaomi berhasil mendapat ceruk pasar sebesar 25 persen.

Xiaomi menunjukkan, pertumbuhan yang pesat dengan pertumbuhan tahun-ke-tahun (year-on-year) sebesar 838,8 persen, hanya terpaut dua persen dari pemimpin pasar, yakni Samsung.

Oppo dan Vivo mengikuti pada urutan berikutnya, yakni nomor tiga dan empat.

Dalam lingkup global, untuk periode yang sama, laporan IDC menyebutkan bahwa Xiaomi mengisi posisi ke empat sebagai produsen ponsel pintar terbesar di dunia. Di atasnya terdapat Samsung, Huawei, dan Apple.

“Xiaomi, yang menghadapi berbagai tantangan pertumbuhan di masa lalu, telah muncul menjadi kuda hitam di pasar ponsel pintar Indonesia, menjadi pemain terbesar kedua setelah Samsung,” kata Risky Febrian, Market Analyst, IDC Indonesia dalam pernyataan resmi.

Bukan rahasia lagi, Oppo dan Vivo membuat langkah di pasar lokal dengan kampanye pemasaran yang gencar dan margin keuntungan yang menggiurkan bagi mitra. Hal ini memiliki kompensasi penggelembungan harga di pasar.

Strategi mereka secara langsung mendorong pangsa pasar ponsel pintar kelas menengah (Rp2 sampai 4 jutaan). Konsumen yang mencari pengganti untuk ponsel yang mereka gunakan menjadi tertarik dengan jenama-jenama yang agresif tersebut.

Berbeda dengan strategi Oppo dan Vivo, ponsel Xiaomi, meskipun kampanye pemasarannya yang minim dan margin tipis untuk mitranya, tetap mampu memasok handset dengan rasio harga-ke-spesifikasi yang kompetitif ke pasar. Hal tersebut memberikan nilai yang lebih tinggi bagi pengguna atas dana yang mereka miliki.

Pada kuartal kedua 2018, harga jual rata-rata ponsel Oppo dan Vivo sekitar tiga juta sementara Xiaomi berada pada 1,8 juta.

Selain mengandalkan harga berbanding performa, pemasaran Xiaomi berpusat pada kampanye di dunia internet, seperti penjualan kilat secara reguler melalui mitra e-dagang, dan dukungan terus-menerus kepada komunitas penggemarnya.

Pada gilirannya, strategi tersebut berhasil menyebarkan nama Xiaomi melalui mulut ke mulut dan media sosial.

“Dengan strategi ini, Xiaomi secara bertahap menyusul dan memperoleh mindshare dan pangsa pasar yang signifikan,” lanjut Risky.

Steven Shi, Head of Xiaomi South Pacific Region, Xiaomi Indonesia Country Manager mengatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk menghadirkan produk luar biasa dengan harga sebenarnya. Hal ini dilakukan agar semua orang dapat menikmati manfaat teknologi.

“Untuk itu kami bekerja keras dan bekerja sama dengan partner lokal untuk meningkatkan kehadiran produk Xiaomi, baik melalui kanal daring dan luring, serta untuk menghadirkan lebih banyak produk di seluruh Indonesia.”

Dalam pemberitaan terpisah, salah satu petinggi Xiaomi di India, Manu Kumar Jain, melontarkan pernyataan bahwa Xiaomi tidak akan pernah menjual ponsel dengan harga banderol 699 USD ke atas.

Alasannya karena tidak ada teknologi ponsel pintar yang "layak" untuk disertakan dalam ponsel Xiaomi yang akan mematok harga di atas angka itu.

Sementara petinggi Xiaomi membatasi margin keuntungan perusahaan pada perangkat keras hingga lima persen, sebenarnya ponsel Xiaomi di masa depan harus dibanderol harga lebih tinggi apabila harga komponen naik, atau jika teknologi baru ditemukan yang mewajibkan produknya untuk menggunakannya.

Hal ini karena bagaimanapun Xiaomi masih mengandalkan pasokan cip dari Qualcomm untuk gawai-gawai andalannya (Contoh: Mi 8 dan Pocophone F1).

Di sisi lain, pemain lokal semakin sulit untuk bertahan dari gempuran jenama asing. Advan menjadi satu-satunya nama lokal yang masuk ke dalam peringkat lima besar. Persentasenya semakin tipis. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kini Advan mendapatkan ceruk enam persen dari sebelumnya sembilan persen.

“Di kuartal-kuartal mendatang, pemain lain akan dipaksa untuk meninjau kembali strategi harga mereka untuk bersaing secara efektif, dan jenama lokal diperkirakan bakal dihantam oleh alur permainan mengganggu dari Xiaomi ini,” kata Risky.

“Meski demikian, sejumlah tantangan tetap dihadapi oleh Xiaomi, seperti kendala pasokan dan pengapalan ‘abu-abu’ model ponsel populernya, yang keduanya akan berdampak negatif terhadap strategi penetapan harga lokal dan permintaan pasar Xiaomi,” tutupnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR