JAVA JAZZ FESTIVAL

100 musisi ramaikan Java Jazz 2019

Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production, ketika ditemui dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Rabu (27/2/2019).
Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production, ketika ditemui dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Rabu (27/2/2019). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Java Jazz 2019 segera digelar di JiExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Jumat hingga Minggu mendatang (1-3 Maret). Untuk penyelenggaraan tahun ini, 100 musisi akan meramaikan ajang tahunan besutan Java Festival Production tersebut.

"Jumlah musisi kalau asing ada 35, Indonesia ada sekitar 65," ujar Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production, dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (27/2/2019).

Musisi asing yang masuk ke kategori special show adalah Toto, Raveena, H.E.R.. Adapun penampil di panggung reguler adalah R+R = Now, Cyrus Chestnut Trio, GoGo Penguin, James Vickery, JMSN, Lucky Chops, Moonchild, Nathan East Band of Brothers, Sinéad Harnett, dan The Suffers.

Sementara musisi lokal antara lain Afgan, Andien, Barry Likumahuwa, Indra Aziz, Indro Hardjodikoro, Isyana Sarasvati, Kunto Aji, Parkdrive, Radhini, Teddy Adhitya, Yura Yunita.

Angka 100 penampil tak beda jauh dari tahun lalu, yang juga diisi 100-an musisi asing dan lokal. Jumlah panggung pun tetap sama, 11 buah.

Festival bertajuk asli Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2019 ini memang sudah memasuki tahap konstan dan mature (dewasa), jika mengikuti istilah Dewi.

Seperti jumlah traffic, yang sudah konstan pada kisaran 110 ribu hingga 115 ribu dalam tiga tahun belakangan ini. Dewi tak menggunakan istilah "penonton" atau "tiket terjual", melainkan "traffic" karena tiket Java Jazz bisa dibeli harian atau terusan.

Rahasianya adalah perubahan strategi dalam mengincar pangsa pasar. Dua tahun terakhir, Java Festival Production menampilkan artis muda yang populer di kalangan milenial dan gen Z. Tahun lalu ada Daniel Caesar, tahun ini ada Raveena dan H.E.R.

"Dua tahun ini kami melebarkan target audiensi untuk mengejar teman-teman yang lebih muda. Tahun lalu kami berhasil, tahun ini mengejar target yang sama,” jelas Dewi.

Regenerasi penonton diperlukan agar festival ini bisa bertahan hidup. Penonton setia Java Jazz yang mengikuti festival ini sejak tahun awal, kini beranjak tua dan matang.

Itu jadi salah satu faktor mengapa Java Jazz bisa bertahan di tahun ke-15. "Kami cukup bangga bisa jadi festival yang bertahan selama 15 tahun dan konstan," ungkap perempuan bernama asli Dewi Allice Lydia Gontha ini.

"Kami bisa bertahan 15 tahun karena sponsor dan penonton," lanjut Dewi. Biasanya, untuk pembelian awal, tiket Java Jazz dijual jauh lebih murah daripada membeli pada tanggal yang sudah dekat dengan hari penyelenggaraan.

Sponsor masuk untuk melakukan subsidi terhadap harga tiket. "Saya sudah pernah merasakan mengerjakan event yang sponsornya kurang. Akhirnya jatuh bangun," keluh Dewi.

Selama 15 tahun ini, tentu saja berbagai kendala pernah membayangi Java Festival Production. “Hal paling mudah (diingat, red.) adalah, tiba-tiba hujan. Pasti dimaki-maki. Kalau di luar, saya pernah ngetes, kalau hujan, penontonnya tenang-tenang saja. Di sini, penonton kita jauh lebih sensitif," ungkap Dewi.

Menurut putri pengusaha Peter F. Gontha ini, ada persoalan lain yang lebih berat. Sebagai festival yang berlangsung terus menerus selama 15 tahun, ada kendala dalam memilih musisi yang tampil.

Dirinya tak mungkin memilih seorang artis tertentu untuk tampil terus menerus dalam tiap penyelenggaraan Java Jazz. Sementara, mencari artis baru yang bisa "menjual" juga tak mudah.

"Kalau sudah 15 tahun, artis lama siapa lagi yang mau kami datangkan?” ujar Dewi sambil tersenyum.

Meski menjadi festival tertua di Indonesia yang masih bertahan, Java Jazz sedikit tertinggal soal teknologi. Tahun ini, ketertinggalan itu sudah diatasi.

E-ticket para penonton bisa ditukar dengan gelang berisi cip elektronik untuk berfungsi sebagai akses masuk keluar area Java Jazz. Gelang juga bisa dipakai untuk membeli makanan dan merchandise yang tersedia di lokasi.

"Kami satu-satunya promotor yang punya sistem ticketing sendiri di Indonesia. Pengembangan dari sistem itu adalah penukaran (e-ticket) menjadi gelang," ungkap Dewi.

Dengan usianya yang ke-15, apakah sudah saatnya Java Jazz berpindah ke kota lain? Mengingat, festival lain yang juga sudah lama seperti Djakarta Warehouse Project (DWP) pindah ke Bali pada tahun penyelenggaraannya yang ke-10.

Menurut Dewi, niat untuk bergeser dari Jakarta sebenarnya ada. “Yang saya tidak punya ilmunya. Saya tak tahu menjual harga tiket di daerah yang bisa diterima.

"Kalau mengejar jumlah traffic seperti kami, apakah bisa diakomodasi? Venue belum tentu ada yang mumpuni kalau untuk 11 panggung,” tutup Dewi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR