FILM INDONESIA

Adinia Wirasti akhirnya bersedia main film horor

Adinia Wirasti berperan sebagai Netta dalam film Lampor: Keranda Terbang.
Adinia Wirasti berperan sebagai Netta dalam film Lampor: Keranda Terbang. | Starvision

Harus diakui produksi film horor di Indonesia meningkat pesat dalam beberapa terakhir. Hampir tiap pekan minimal ada satu judul film dari genre ini yang menyempil dalam jadwal tayang di bioskop.

Begitu juga pemilihan pemainnya. Terkesan dia melulu musabab produser atau sutradara terlalu sering menggaet satu nama tertentu.

Hal berbeda dilakukan oleh Adinia Wirasti. Jika melihat perjalanan kariernya sebagai pemain film sejak menjalani debut dalam Ada Apa dengan Cinta? (2001), aktris yang kini berusia 32 itu nyaris belum pernah membintangi film horor.

Kiprahnya lebih banyak hadir dalam film-film bergenre drama, komedi, dan aksi laga, semisal Critical Eleven, Kapan Kawin?, atau Sultan Agung.

Alasannya bukan karena pemenang Piala Citra pada 2005 itu alergi terhadap genre horor. Buktinya ia pernah berakting dalam Halfworlds, mini seri garapan Joko Anwar yang memadukan horor, misteri, dan fantasi.

Pecah telur membintangi genre film seram ini dilakukan Asti, sapaan akrabnya, dalam Lampor: Keranda Terbang yang tayang di bioskop mulai 31 Oktober 2019. Ia tak kuasa menolak tawaran produser Chand Parwez dari Starvision.

Asti dalam film ini berperan sebagai Netta. Kisah masa lalu yang kelam membuatnya memutuskan pergi meninggalkan kampung halaman mereka di Temanggung, Jawa Tengah.

Puluhan tahun kemudian, Netta yang telah menjadi istri Edwin (diperankan Dion Wiyoko) dan dikaruniai dua orang anak, harus kembali ke Temanggung ditemani keluarga kecilnya.

Ia harus menyampaikan amanat dari mendiang ibunya, Ratna (Unique Priscilla), kepada ayahnya, Jamal (Mathias Muchus).

Kedatangan Netta di kampung bersambut kabar duka bahwa ayahnya baru saja meninggal dunia.

Sebagian warga menganggap kedatangan Netta sebagai penyebab kematian Jamal, juragan tembakau yang oleh warga kampung dikenal sebagai sosok baik hati.

Masa berkabung membawa Netta berada di tengah pusaran intrik keluarga, pengkhianatan, juga teror lampor yang kembali datang dan terus memakan korban.

Teror lampor yang diyakini merupakan pasukan dedemit Nyi Blorong itu merupakan ide cerita Guntur Soeharjanto selaku sutradara.

Guntur yang tumbuh besar di Temanggung kerap mendapatkan cerita tentang keseraman lampor. Hingga sekarang sebagian warga di sana meyakini keberadaan lampor. Bahkan ada yang mengaku anggota keluarganya hilang karena diambil lampor.

Cerita personal dari Guntur itu pula jadi salah satu alasan mengapa Asti menyetujui ajakan membintangi film Lampor: Keranda Terbang.

“Ketika Mas Guntur menyampaikan bahwa film ini sebagai sesuatu yang sangat personal, saya yakin film ini akan dibuat dengan hati. Dan memang niat banget bikinnya. Usaha yang kami curahkan juga panjang,” ungkap Asti dalam jumpa pers di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (3/10/2019).

Usaha yang dimaksudkan Asti antara lain persiapan berupa reading yang berlangsung selama sebulan --ini salah satu syarat yang diajukannya, juga proses syuting selama satu setengah bulan bermula sejak awal 2019.

Dalam proses pengembangan skenario yang ditulis Alim Sudio, Asti memujikan setiap perubahan yang terjadi membuat skrip tersebut semakin dalam mengakar pada adat dan tradisi Temanggung.

Hal tersebut membuatnya tertantang untuk menjambatani antara kisah mistis lokal tersebut kepada penonton Indonesia yang notabene heterogen.

Asti melanjutkan bahwa ia belajar banyak hal selama mengikuti produksi film ini. “Ternyata syuting film horor enggak gampang. Maksud saya secara general syuting film apa pun memang enggak gampang, tapi dalam film horor kita harus mengeluarkan effort yang lebih. Adegan sesimpel apa pun harus dipikirkan secara matang dan dilaksanakan oleh semua departemen dengan benar.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR