INDUSTRI FILM

Akatara, usaha Bekraf comblangi investor dengan sineas

Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf (kiri) bersama Fadjar Hutomo, Deputi Akses Permodalan Bekraf dalam konferensi pers Akatara di Senayan City, Jakarta Pusat, Senin (18/9/2017).
Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf (kiri) bersama Fadjar Hutomo, Deputi Akses Permodalan Bekraf dalam konferensi pers Akatara di Senayan City, Jakarta Pusat, Senin (18/9/2017). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kini berfungsi sebagai mak comblang. Lembaga yang dipimpin Triawan Munaf ini bakal "menjodohkan" para pelaku perfilman dengan investor dari berbagai sektor dalam acara Akatara Indonesian Film Financing Forum 2017.

Akatara bakal diselenggarakan pada 15-16 November di Jakarta, berupa pitching forum. Nantinya beberapa sineas terpilih berkesempatan mengungkap gagasan dan ide proyek mereka di hadapan para penyokong dana. Investor yang tertarik bisa langsung membantu sineas yang ia sukai.

Mengapa Bekraf sampai perlu menjadi mak comblang? Menurut Fadjar Hutomo, Deputi Akses Permodalan Bekraf, ini tak lepas dari sifat alamiah industri ekonomi kreatif yang biasanya dipandang tidak terstruktur. Padahal, sumber pendanaan seperti perbankan membutuhkan model investasi yang jelas dan terstruktur.

"(Kredit bank) agak susah kalau kita harapkan jadi sumber utama ekonomi kreatif. Harus didorong permodalan yang sifatnya equity, alias angel investor," ujar Fadjar dalam konferensi pers Akatara di Senayan City, Jakarta Pusat, Senin (18/9/2017).

Angel investor adalah istilah untuk penyokong dana yang menyediakan uang bagi sebuah bisnis start-up (rintisan), biasanya dengan imbalan berupa obligasi atau bagian dari kepemilikan start-up tersebut.

Selain angel investor, Bekraf juga akan menghadirkan beberapa perusahaan film besar, brand managers, filantrofi, distributor, agensi, dan pihak penampil--dalam hal ini bioskop. Tak lupa Kamar Dagang dan Industri Indonesia serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia akan diundang dalam acara pitching di Akatara.

Minat investor sebenarnya sangat besar, terutama sejak tahun lalu ketika masing-masing dari 10 film terlaris mendapat lebih dari sejuta penonton. Namun, investor ini kebanyakan masih takut kepada sifat tanpa struktur industri film--dan juga industri kreatif pada umumnya.

Fadjar mencontohkan, saat ia berkunjung ke berbagai daerah, banyak investor yang bingung, bagaimana mengontrol risiko saat mereka berinvestasi di sebuah rintisan. Solusinya adalah pitching, yang ternyata bisa dicoba di perfilman.

Pitching dapat menjadi win-win solution bagi kedua pihak (investor dan sineas). Dengan pitching, investor tahu mana sineas yang benar-benar serius dengan proyeknya, juga lebih memahami seperti apa kira-kira tantangan yang bakal dihadapi.

Sementara sineas bisa dapat dana yang ia butuhkan. Seandainya tidak dapat pun, setidaknya mereka dapat mempelajari presentasi seperti apa yang harus mereka siapkan saat menghadapi investor di lain kesempatan. "Mungkin juga ketemu jodohnya bukan di acara ini, tapi bisa membuka jalan lain," terang Fadjar.

Acara ini bakal memamerkan 40 proyek film. 12 di antaranya diberi kesempatan pitching. Dua dari 12 itu merupakan proyek yang sudah terpilih mewakili Indonesia pada Torino Film Lab.

Sepuluh sisanya adalah proyek dari 10 sutradara yang mengambil cerita berlatar belakang 10 destinasi wisata prioritas seperti Danau Toba, Belitung, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Gunung Bromo, Lombok, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.

Dengan Akatara, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Selain membantu industri film, Bekraf juga berusaha membantu pemerintah dalam rangka mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019, yang terwakili dari 10 destinasi prioritas itu.

"Sutradara dan tim kami kirim untuk riset, menggali budaya, dan potensi lokal setempat untuk jadi inspirasi proyek mereka," ujar Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf.

"Film punya multiplier effect yang besar dan berkelanjutan terhadap sektor lain dalam perekonomian," ujar Abdur sambil mencontohkan naiknya perekonomian Bangka Belitung setelah meledaknya film Laskar Pelangi (2008).

BACA JUGA