Alasan LaMunai Records merilis album perdana Harry Roesli

Indra Rivai (kiri) dan Harry Sabar dengan piringan hitam album Philosophy Gang yang dirilis kembali LaMunai Records.
Indra Rivai (kiri) dan Harry Sabar dengan piringan hitam album Philosophy Gang yang dirilis kembali LaMunai Records.
© Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Sosok Harry Roesli yang mangkat pada 2004 karena penyakit gagal jantung dihadirkan kembali Jumat malam di Auditorium SAE Institute Indonesia, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (17/3/2017).

Kehadiran kembali seniman yang semasa hidup dijuluki "si bangor van Bandung" itu lantang diucapkan Layala Khrisna Patria. LaMunai Records selaku panitia mendaulatnya membuka peluncuran kembali album perdana The Gang of Harry Roesli bertajuk Philosophy Gang.

Layala bersama saudara kembarnya, Lahami Khrisna Parana, adalah buah cinta Harry bersama Kania Perdani Handiman.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Indra Rivai (keyboardist) dan Hari Khrisnadi (harmonika), dua personel tersisa dari The Gang of Harry Roesli yang berkontribusi dalam album tersebut. Tiga orang lainnya, yaitu Albert Warnerin, Janto Soedjono, dan Dadang Latief, telah berpulang.

Karena tidak hanya berisi peluncuran album, tapi juga diskusi santai, maka David Tarigan dari Irama Nusantara dan Edy Khemod (drummer kelompok Seringai) ikut dihadirkan sebagai pembicara. Wendi Putranto (jurnalis majalah Rolling Stone Indonesia) menjadi moderator.

Pembuka acara mengetengahkan penampilan tujuh pengamen jalanan asuhan Rumah Musik Harry Roesli (RMHR) membawakan lagu "Orang Basah" dari album bertajuk sama produksi Frogpeak (1991).

Walaupun sarat sinkopasi dan pola ritme nan padat, lagu yang kental unsur rock jazz itu dibawakan dengan mulus dari awal hingga akhir. Para penonton yang memenuhi ruangan, salah satunya musikus Harry Sabar, kontan memberikan aplaus panjang.

Beberapa saat kemudian diputarkan video singkat berisi aneka testimoni dari Glenn Fredly (penyanyi), Budi Dalton (aktor), Soleh Solihun (komika), Bens Leo (jurnalis musik), dan Khemod mengenai Harry Roesli.

Saat beranjak pada sesi diskusi, Rendi Pratama (30) menuturkan alasannya tertarik merilis Philosophy Gang melalui label LaMunai Records miliknya.

"Awalnya saya terpikat setelah mendengarkan lagu 'Don't Talk About Freedom' yang terdapat dalam album kompilasi Those Shocking Shaking Days (2011)," kata Rendi.

Lagu dengan durasi lebih dari delapan menit itu menonjolkan bass laiknya musik funk. Cocok jadi riddim alias ritme para disc jockey (deejay) untuk mengiringi acara dansa-dansi.

"Dibandingkan 'Malaria' yang lebih dahulu saya kenal dan menurut saya mirip lagu balada rock ala orang tua, 'Don't Talk About Freedom' lebih joget. Makanya saya pikir kalau album ini bisa dirilis kembali dan digunakan sebagai bahan mix para DJ pasti bakal keren," lanjut Rendi yang sebelumnya telah merilis album kompilasi Fairytales Of Megabiodiversity (2016) berisi lagu-lagu psikedelik.

Karena master album tidak ketahuan rimbanya, Rendi kemudian mengumpulkan beberapa piringan hitam Philosophy Gang untuk dijadikan sumber utama.

"Jadi kami terpaksa mentransfer dari analog ke digital. Kemudian hasil dari digital itu kami pindahkan lagi secara analog untuk menghasilkan master rekaman. Pengerjaannya di Belanda," jelas Rendi.

Indra Rivai dan Hari Khrisnadi termasuk salut dengan langkah LaMunai Records. "Waktu pertama dengar kabar ini, saya langsung bilang pasti pemilik labelnya orang gila," tukas Indra.

Pasalnya album tersebut adalah proyek idealisme. Sejak awal dikerjakan, para personel --terkhusus mendiang Harry Roesli-- tidak memikirkan urusan komersialisme.

Alhasil para petinggi label rekaman emoh melirik, termasuk Musica Studio's yang jadi tempat merekam album Philosophy Gang.

Menyadari realita itu, Harry kemudian menggandeng Lion Records milik Robert Wong Jr. dari Singapura sebagai label.

Indra dan Hari Khrisnadi alias Pochang meragukan keberadaan label ini karena hingga sekarang setelah ditelisik label tersebut tidak pernah eksis.

"Bisa jadi itu hanya akal-akalan Kang Harry saking enggak ada label yang mau merilis album ini. Juga biar kami punya nilai lebih dibandingkan band lain. Kalau dugaan saya betul, Kang Harry merupakan pelopor hoax di Indonesia. Ha-ha-ha," seru Pochang.

Saat rampung, album yang juga dicetak dalam bentuk piringan hitam itu tidak beredar resmi di toko. Mereka membagi-bagikan kepada siapa pun yang berminat.

Perkenalan Rendi pada album yang aslinya rilis pada 1973 terjadi saat masih berkuliah di Bandung. Salah satu pemilik toko musik bekas di kawasan Cikapundung menawarinya album itu seharga Rp150 ribu.

Harga yang kini termasuk murah untuk ukuran piringan hitam album Indonesia, apalagi jika masuk kategori album yang banyak diburu oleh para kolektor dalam hingga luar negeri semacam Philosophy Gang.

David Tarigan mengaku pernah menjual vinyl album itu seharga GBP400 (Rp4,1 juta) saat melancong ke London, Inggris, sekira tiga tahun silam.

Indra sang personel The Gang of Harry Roesli lebih nahas. Ia harus merogoh Rp800 ribu dari kocek pribadi untuk membeli versi piringan hitam album yang menghadirkan isian keyboard-nya. "Itu pun tanpa sampul," kisahnya sambil terkekeh-kekeh.

Kini perilisan kembali album yang jadi salah satu dari "150 Album Indonesia Terbaik" versi Rolling Stone Indonesia itu dilepas dengan harga Rp350 ribu untuk versi piringan hitam biasa. Ada pula paket bundle seharga Rp500 ribu yang juga menyertakan kaos, tote bag, dan poster.

Menurut Rendi, pihaknya sejauh ini hanya merilis versi piringan hitam ukuran 12 inci dengan jumlah terbatas, hanya 500 keping. Sebanyak 200 keping di antaranya bakal dipasarkan ke beberapa label independen lainnya di Eropa.

Jika kelak kuota itu ludes, LaMunai tidak menutup kemungkinan untuk merilis Philosophy Gang dalam format compact disc. "Kalau versi kaset pita kayaknya enggak akan kami produksi," tegas Rendi.

Bagi yang tidak memiliki pemutar piringan hitam, opsi lain untuk menikmati re-issued album ini adalah versi digital melalui layanan pengaliran musik seperti Spotify atau iTunes.

"Itu juga hanya untuk mereka yang menggunakan streaming versi berbayar. Kami hanya melepas satu lagu yang bisa didengarkan gratis," pungkasnya.

Ngobrol santai #PhilosophyGang di @keepkeepmusik Jl. Kiputih no. 1, Ciumbuleuit - Bandung

A post shared by LaMunai (@lamunairecords) on

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.