SERIAL TELEVISI

Alasan Monty Tiwa mau menggarap serial The Publicist

Aksi Adipati Dolken dalam serial The Publicist
Aksi Adipati Dolken dalam serial The Publicist | Viu.com

Saat ini, konten hiburan audio visual tidak terbatas pada bioskop dan televisi saja. Ada satu platform yang tengah bermunculan yaitu layanan video-on-demand (VOD, video berbasis permintaan). Salah satu pelakunya adalah Vuclip, kerap disingkat Viu, yang kembali mencoba membuat serial orisinal untuk pasar Indonesia.

Sebelumnya, layanan yang didirikan pada 2008 ini menggunakan jasa sutradara Nia Dinata dan Pritagita Arianegara dalam serial berjudul Switch. Seperti Switch yang digarap secara serius, Viu tidak bermain-main dengan serial orisinalnya. Untuk serial selanjutnya yang berjudul The Publicist, mereka menggunakan jasa sutradara Monty Tiwa.

Mengapa Monty, yang biasanya menggarap film bioskop seperti Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007), XL: Extra Large (2008), Get Married 3 (2011), Critical Eleven (2017), dan yang terbaru Mau Jadi Apa? (2017) mau menggarap serial, yang kerap dipandang sebagai karya seni nan inferior dibanding film layar lebar?

Menurut sutradara berusia 41 ini, Viu membuka pintu bagi pekerja seni di Indonesia, hal yang ia apresiasi. "Kalau kita bicara seni, mau medium apapun, saya di titik di mana saya enggak berani bilang mana yang benar dan salah. Semua ada market-nya," ujar Monty.

"Ibu saya penggemar sinetron, saya tahu sinetron punya stigma yang buruk. Tapi itulah yang disukai masyarakat, kita tidak bisa menghakimi."

"Yang saya yakin dan tertarik dengan Viu, ada market lain di luar sana yang menurut saya besar tapi belum tersentuh. Bukan penonton sinetron atau bioskop, dan jumlahnya besar. Saya lihat ini yang dituju oleh Viu," jelas Monty.

Biarpun ia sudah menangani puluhan film, tetap saja ada tantangan tersendiri dalam menyutradarai serial. Alur kerja yang amat berbeda antara serial dan film bioskop, diakui Monty cukup menyulitkan.

Contohnya proses reading naskah. Dalam film bioskop, satu kali sebelum syuting para pemain akan dikumpulkan untuk bersama-sama membahas dan berlatih dengan naskah yang sudah jadi. Sementara dalam serial The Publicist, Monty menyatakan proses reading terjadi tepat sebelum syuting tiap episode.

Apalagi fase syuting kadang-kadang tidak bisa linear mengikuti naskah. Menurut Monty ini menyulitkan para pemain untuk merengkuh kedalaman karakter yang tentunya berbeda, karena ada perkembangan dari awal hingga akhir cerita.

Berbagai kesulitan ini bikin Monty mencoba untuk membuat serial dengan latar yang tidak jauh dari kehidupannya sebagai orang film. "Begitu cepatnya saya ingin menanggapi tawaran Viu. Karena tak ingin melewatkan kesempatan, cerita yang saya sampaikan ya yang dekat dengan saya, yang saya sudah paham," jelas lelaki berdarah Sulawesi Utara ini.

Latar itu adalah dunia hiburan. The Publicist mengisahkan seorang wanita bernama Julia (Prisia Nasution), seorang humas hebat. Julia mampu mengubah citra Robert (Baim Wong) seorang pengusaha yang pernah tersangkut kasus korupsi, membersihkan namanya hingga bisa menjadi calon wakil gubernur.

Di sisi lain ada Reynaldi (Adipati Dolken), aktor peraih Citra yang kariernya terancam tamat karena kasus narkoba. Bersama dua asistennya yaitu Erika (Poppy Sovia) dan Javier (Reza Nangin), sang aktor harus menggunakan jasa Julia untuk mengembalikannya ke dalam industri perfilman. Namun, perjuangannya tentu tidak gampang.

Nantinya serial orisinal dari Viu Indonesia ini akan dibawa ke berbagai negara lain di mana layanan ini eksis. Head of Marketing & Ad Sales Viu Indonesia Myra Suraryo menyatakan kalau rencana ini sudah ada dalam pipeline bisnis mereka.

"Kami cukup kaget dengan performance (serial) Switch yang bagus dan diterima oleh pemirsa di Indonesia, itu bikin kami yakin untuk membuat original series berikutnya di negeri ini," ujar Myra.

The Publicist terdiri dari 13 episode dan mulai tayang perdana di Viu Indonesia mulai 22 November 2017 melalui situs Viu atau dengan mengunduh aplikasi Viu untuk Android dan Apple iOS.

The Publicist Viu Original | Prisia Nasution, Adipati Dolken, Baim Wong | /Viu Indonesia
BACA JUGA