MUSIK DIGITAL

Album baru Adele absen di layanan pengaliran musik

Cakram padat (CD) album terbaru Adele siap dijual
Cakram padat (CD) album terbaru Adele siap dijual | Alexander Schippers/EPA

Ternyata Adele tidak hanya menolak tawaran berbagai iklan. Biduanita asal Inggris itu, laiknya Taylor Swift, juga menolak album terbarunya, 25, hadir dalam layanan pengaliran musik seperti Spotify dan Apple Music. Demikian laporan New York Times (19/11/2015) berdasarkan informasi dari beberapa narasumber yang mengetahui rencana tersebut.

Jika Swift berdalih bahwa alasan penolakannya karena musik seharusnya tidak dinikmati gratis, Adele maupun perwakilan dari pihak XL Recordings yang menaunginya belum memberikan pernyataan resmi.

Padahal, berdasarkan sejumlah laporan, salah satunya dari Recording Industry Association of America (RIAA), streaming musik merupakan bisnis paling berkembang yang bisa membantu pendapatan para musisi di tengah menurunnya tren penjualan lagu dan album saat ini.

"Mungkin ini adalah isu yang biasa bagi Adele dan timnya, tapi jadi masalah yang besar bagi layanan streaming musik. Pasalnya, sudah dua tahun mereka tidak bisa mengalirkan album terbesar tahun ini," ujar Mark Mulligan, analis media digital dari Midia Research, menanggapi absennya album 25 dan 1989 milik Taylor Swift yang rilis tahun lalu.

Tylor Goldman, Direktur Eksekutif Deezer di kawasan AS, mengatakan kepada LA Times bahwa keengganan Adele mengizinkan album 25 muncul di layanan pengaliran musik karena khawatir angka penjualan album tersebut akan menurun.

"Kami mencintai dan menghormati Adele, begitu juga dengan 24 juta penggemarnya di Spotify. Kami harap Adele akan mengizinkan kami memasukkan album terbarunya di Spotify, bersama kedua album Adele yang lain, 19 dan 21," tulis Spotify dalam pernyataan resminya.

Album 25 bocor di internet

Salah satu yang ditakutkan oleh oleh sejumlah penyanyi adalah perihal bocornya materi album lebih cepat dari jadwal perilisan. Hal tersebut potensial untuk disalahgunakan. Misalnya dengan mengedarkan versi ilegal dengan sistem unduh di internet.

Album 25 yang baru akan resmi dijual -versi digital dan fisik- mulai 20 November 2015 tampaknya juga tidak bisa menghindari hal tersebut.

Semua berawal dari kicauan disertai unggahan gambar dari versi cakram padat album tersebut dari pemilik akun @HausofFrancis tertanggal 18 November 2015 yang mengaku membelinya di Target.

Target adalah perusahaan Amerika Serikat yang mengoperasikan jaringan toko serba ada terbesar kedua di Negeri Paman Sam setelah Walmart. Perwakilan Adele kepada Billboard membantah bahwa Target telah mengedarkan album tersebut sebelum waktunya.

Melalui kicauannya, akun yang menyematkan nama Florence Welch (mengacu pada nama vokalis Florence + the Machine) di laman profilnya tersebut menanyakan apakah ada yang tertarik jika dia membocorkan isi album 25 tersebut secara ilegal?

Benar saja, terlepas siapa pelakunya, album yang diproduseri Greg Kurstin, Paul Epworth, Ariel Rechtshaid, dan Danger Mouse itu telah menghiasi berbagai situs unduhan lagu dan album ilegal yang tersebar di dunia maya.

Dari hasil penelusuran yang kami lakukan, album yang bocor tersebut adalah versi 11 lagu dengan tulisan "iTunes + 320". Urutan lagu sama dengan yang tertera di versi asli. Hanya saja, metadata penyanyi setiap lagu disamarkan alias tidak memakai nama Adele sebagai penyanyinya.

Jika album tersebut dibocorkan karena ulah Target yang menjualnya lebih cepat dari jadwal semula, mengapa hanya 11 lagu yang bocor? Pasalnya, dilansir Billboard, cakram padat yang diedarkan Target adalah eksklusif terdiri dari 14 lagu.

Tiga lagu tambahan tersebut, adalah Can't Let Go, Lay Me Down, dan Why Do You Love Me yang tidak ada dalam versi unduhan bocoran album ini di internet.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR