KRITIK FILM

Alita: Battle Angel menurut kritikus

Sebuah adegan dalam Alita: Battle Angel memperlihatkan Alita (Rosa Salazar) dengan mata seperti tokoh anime Jepang.
Sebuah adegan dalam Alita: Battle Angel memperlihatkan Alita (Rosa Salazar) dengan mata seperti tokoh anime Jepang. | 20th Century Fox

Sebuah film berjudul Alita: Battle Angel telah diputar di bioskop se-Indonesia sejak Kamis (7/2/2019).

Film live action ini menarik perhatian karena merupakan kolaborasi dua sineas ternama; produser James Cameron dan sutradara Robert Rodriguez. Cameron adalah orang di balik film Titanic (1997) dan Avatar (2009), sementara Rodriguez menggarap Sin City (2005) dan Spy Kids (2005).

Kisahnya adalah seorang perempuan muda bernama Alita (diperankan Rosa Salazar) yang terbangun tanpa ingat apapun dalam dunia masa depan nan asing. Ia dirawat Dokter Ido (Christoph Waltz) yang menyadari bahwa Alita adalah manusia buatan dengan hati dan jiwa seorang perempuan muda dengan masa lalu nyata.

Ido melarang Alita mencari tahu soal masa lalunya. Karena penasaran, Alita bersama Hugo (Keean Johnson) justru berusaha mencari tahu.

Ternyata, Alita punya kekuatan tempur nan hebat. Namun, tantangannya adalah kota Iron City yang didiaminya sekarang sangat kejam dan penuh kriminal.

Oleh kritikus, Alita: Battle Angel dianggap biasa saja. Rating-nya dalam Rotten Tomatoes hanya 60 persen; 32 dari 81 kritikus menganggapnya buruk.

Nilai rata-ratanya 5,9 dari 10 poin. Namun, angka tersebut belum sahih karena jumlah ulasan masih relatif sedikit. Film ini pun baru tayang di bioskop Amerika Serikat pada 14 Februari atau saat tradisi budaya Valentine Day.

Kesimpulan kritik dari Rotten berbunyi, "Kisah film ini kesulitan mengejar efek spesialnya, tapi penggemar film aksi fiksi ilmiah nan futuristis mungkin akan lebih dari terhibur."

Kritikus Mick LaSalle dari San Fransisco Chronicles agak tak sependapat dengan kesimpulan Rotten. Ia merasa film ini dipenuhi unsur emosi dalam drama yang lebih berarti dari adegan-adegan aksi dan kelahi.

LaSalle memuji penampilan Salazar sebagai si manusia setengah robot. "Performa Salazar mendalam dan penuh hati. Film ini mampu menangkap performa tersebut dan menggambarnya ulang secara digital," tulis La Salle.

Darren Franich dari Entertainment Weekly agak tak sepaham dengan LaSalle. "Mungkin saja Salazar berpenampilan bagus. Gerakan bibirnya awut-awutan dengan wajah digital Alita, yang memancarkan kekosongan dalam segala wujud emosi yang ditampilkan," tulis Franich.

Rafer Guzman dari Newsday menganggap Alita: Battle of Angel punya ketidakjelasan yang mengganggu. “Film ini separuh live action, separuh digital, tapi Robert Rodriguez mampu menghidupkan beberapa adegan aksi dan tetap menjaga alur cerita. Sebagian penonton mungkin (akan) menganggapnya kacau dan membingungkan.”

Sementara Rashid Irani dari Hindustan Times kecewa, padahal ekpekstasinya terhadap karya kolaborasi Cameron-Rodriguez begitu tinggi.

“Kita digiring untuk mengharapkan tontonan yang akan menancap di ingatan oleh pembuat Avatar dan Sin City. Namun ternyata, karya kolaborasi mereka lebih baik dihapus saja dari memori,” tulis Irani. “Adegan klimaks di arena kejuaraan rollerball ternyata menjemukan dan mengecewakan.”

Berasal dari manga

Penampilan Alita mungkin tak asing bagi penggemar manga dan anime Jepang. Kepala besar, bentuk tubuh sangat ramping, dan bola mata yang hampir memenuhi wajah.

Film ini memang diangkat dari manga berjudul Gunnm (dibaca “Ganmu”, artinya “senjata impian”) hasil karya Yukito Kishiro yang terbit pertama kali pada 1990. Saat itu seniman Jepang kerap merilis manga dan anime berlatar futuristis dengan set yang kelam.

Genre ini disebut Cyberpunk. Contoh lainnya ada Akira dan Ghost in the Shell. Gunnm terbit dari 1990-1995, mencapai 9 volume. Pada 1993, kisah manga ini dijadikan dua episode video dengan judul sama.

ALITA: BATTLE ANGEL | OFFICIAL HD TRAILER #3 | 2019 /20th Century Fox UK
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR