Anugerah Bakti Musik Indonesia 2016 untuk 4 tokoh

Para peraih Anugerah Bakti Musik Indonesia 2016 (searah jarum jam); Yessy Wenas, Bens Leo, Panbers, dan Vina Panduwinata
Para peraih Anugerah Bakti Musik Indonesia 2016 (searah jarum jam); Yessy Wenas, Bens Leo, Panbers, dan Vina Panduwinata | Antara Foto/Tempo/dan koleksi Jose Choa Linge

Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kembali mengadakan malam penghargaan Anugerah Bakti Musik Indonesia di The Ice Palace Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan, Kamis (17/3/2016) malam. Penghargaan untuk tahun ini diberikan kepada Yessy Wenas, Vina Panduwinata, Panbers, dan Bens Leo.

"Penghargaan diberikan kepada grup musik yang inspiratif, pencipta lagu yang melahirkan banyak single, penyanyi yang bisa disebut lifetime achievement, dan terakhir kritikus musik," ujar Ketua PAPPRI Tantowi Yahya dinukil VIVA.co.id , Jumat (18/3).

Telah ada beberapa tokoh yang dianggap berjasa bagi perkembangan industri musik Indonesia diberikan penghargaan ini. A. Riyanto, Rhoma Irama, Elly Kasim, Franky Sahilatua, dan Dharma Oratmangun menerimanya pada 2012.

Mari Elka Pangestu yang kala itu menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan bahwa pemberian penghargaan dimaksudkan sebagai pendorong bagi generasi muda untuk terus memajukan industri musik nasional.

Setahun berselang giliran Slamet Abdul Sjukur (tokoh musik kontemporer), Heins Enteng Tanamal (produser dan pejuang hak kekayaan inteletual bidang musik), Waldjinah (penyanyi keroncong), Peter F Gontha (produser musik dan penggagas Java Jazz Festival), dan Iwan Fals (penyanyi dan pencipta lagu) yang mendapatkan penghargaan.

Chrisye (penyanyi), Erros Djarot (produser musik), Harry Roesli (penyanyi dan komponis), Nano Suratno (pencipta lagu), Addie MS (dirigen Twilite Orchestra), Pono Banoe (pendidik musik), dan Frans Sartono (wartawan musik) mendapatkan penghargaan serupa pada 2014.

Anugerah Bakti Musik Indonesia yang merupakan rangkaian kegiatan Hari Musik Nasional sempat absen diberikan pada 2015. Penyebabnya karena Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dihapus oleh Presiden Joko Widodo.

Untuk lebih mengenal empat tokoh penerima Anugerah Bakti Musik Indonesia 2016, berikut sekilas profil mereka.

Yessy Wenas

Terlahir dengan nama Jehezkiel Robert Wenas di Tomohon, Sulawesi Utara, 14 April 1939. Yessy mengawali kariernya sebagai gitaris di kelompok Alulas yang sempat menjadi juara pertama dalam Festival Group Band di Hotel Homan, Bandung (1959).

"Saya sudah mengagumi bunyi gitar dan kebetulan ayah saya punya gitar. Bunyi gitar itu enak sekali rasanya," katanya menceritakan ihwal kecintaannya pada gitar dilansir Kabari News (27/4/2014).

Yessy kemudian bergabung dengan kelompok Aneka Nada pada 1961. Personelnya terdiri dari Guntur Soekarno Putra (gitaris ), Iwan (bassis), Indradi (drummer), serta Samsudin, Atjil, dan Memet Slamet (vokalis). Pada tahun yang sama Yessy mulai menciptakan lagu, di antaranya "Abunawas", "Si Gareng", "Kisah Setangkai Daun", dan "Menuai Padi" untuk kelompok Yanti Bersaudara.

Dekade 1960-an dan 70-an merupakan masa produktif Yessy sebagai pencipta lagu. Mulai Ernie Djohan, Titiek Puspa, Bob Tutupoli, Elly Kasim, Ineke Kusumawati, Titiek Sandhora, hingga Patty Bersaudara antre menyanyikan lagu ciptaannya. "Saya mencipta lagu karena ada kebutuhan saja, studio meminta lagu lalu saya buatkan lagu" katanya.

Selain sebagai pencipta lagu, Yessy juga pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Pencipta Lagu Populer Indonesia (1970), wakil direktur di studio rekaman Metro Studio (1971-1974), kepala studio rekaman Yukawi (1975-1978), wartawan majalah Sonata (1979-1981), kolumnis musik dan seni budaya untuk surat kabar harian Sinar Harapan dan mingguan Mutiara (1981-1984), pemimpin redaksi majalah Duta Kawanua (1998-1999), dan pemimpin redaksi tabloid Palakat (1999-2000).

Vina Panduwinata

"Si Burung Camar" adalah julukan bagi Vina Panduwinata (kelahiran 6 Agustus 1959). Julukan yang berasal dari salah satu judul lagunya paling terkenal, "Burung Camar", ciptaan Aryono Huboyo Jati dan Iwan Abdulrachman. Lagu tersebut terdapat dalam album kompilasi Festival Lagu Populer Indonesia 1985 .

Pengidola Dionne Warwick, Samantha Sang, Karen Carpenter, dan Barbra Streisand itu dikenal sebagai "macan festival". Selain tiga kali beruntun menjadi penyanyi berpenampilan terbaik dalam Festival Lagu Populer Indonesia sejak 1983-1985, Vina juga berhasil meraih penghargaan "Kawakami Award" dari ajang bergengsi tingkat dunia World Popular Songs Festival 1985 di Budokan Hall, Tokyo, Jepang.

Panbers

Kelompok yang terdiri dari Hans Panjaitan (gitar), Benny Panjaitan (vokal/gitar), Doan Panjaitan (bas, keyboard), dan Asido Panjaitan (drum) berdiri sejak 24 Januari 1967. Nama Panbers merupakan akronim dari Panjaitan bersaudara.

Album pertama yang mereka rilis bertajuk Panbers Volume 1: Kami Tjinta Perdamaian (Dimita/Mesra Records - 1971). Lagu-lagu dalam album tersebut seperti "Djakarta City Sounds" dan "Achir Tjinta" telah sering dibawakan dalam berbagai acara sejak setahun sebelumnya. Misalnya saat terpilih sebagai salah satu band yang tampil dalam Djambore Band Djakarta 1970 di Istora Senayan Jakarta.

Laiknya band seangkatan mereka seperti Koes Plus dan AKA, Panbers juga merilis lagu-lagu daerah, rohani, dan duet dengan penyanyi lain. Lagu daerah yang mereka nyanyikan bukan hanya Tapanuli (Sing Sing So), tapi juga Flores (Bale Nagih), Minang (Kisah Cinto Rang Mudo), dan Manado (Apa Tapesala).

Beberapa lagu yang membuat nama band ini dikenang hingga sekarang, antara lain "Musafir", "Gereja Tua", "Pilu", "Terlambat Sudah", dan "Indonesia My Lovely Country".

Pengaruh musik Panbers merasuk dalam benak John Paul Patton alias Coki (vokalis/bassis), Rey Marshall (gitaris), dan Viki Vikranta (drummer) dari Kelompok Penerbang Roket (KPR). Ketika berhasil memenangkan sebuah kompetisi band berhadiah rekaman album dengan Sinjitos Records, mereka memilih membuat album persembahan untuk Panbers berjudul Haai (2015).

Bens Leo

Benedictus Benny Hadi Utomo adalah nama aslinya. Tahun 1972 jadi wartawan majalah musik Aktuil kontributor Jakarta. Dalam wawancaranya yang termuat dalam laman situs Rolling Stone Indonesia (9/3), Bens yang kini berusia 63 mengaku telah jadi wartawan musik sejak usianya belum genap 19 tahun.

Saat itu ia diminta mengasuh rubrik "Berita Yudha Sport & Film" setelah tulisan berjudul "Sejarah Koes Bersaudara" yang dikirimkannya ke surat kabar Berita Yudha berhasil jadi headline.

Karena Remy Sylado yang jadi idolanya ada di Aktuil, tanpa pikir panjang Bens menerima pinangan majalah tersebut dan bertahan di sana selama lebih dari satu dekade. Setelah hengkang dari Aktuil sekitar awal 1980-an, Bens masuk di majalah Anita Cemerlang, Gadis, hingga NewsMusik.

Pengalaman Bens sebagai jurnalis musik membawanya mencicipi beragam profesi yang masih berkaitan dengan musik. Mulai dari menjadi juri di berbagai festival musik, manajer promosi Slank, hingga produser eksekutif album pertama Kahitna yang berjudul Cerita Cinta (1993).

BACA JUGA