Apa kata Chris Martin soal masa depan Coldplay

Chris Martin kerap menyatakan Coldplay mau bubar
Chris Martin kerap menyatakan Coldplay mau bubar | EPA

"Saya khawatir Coldplay tidak merilis album konvensional lagi di masa depan," kata Chris Martin saat diwawacarai Zane Lowe di Beats 1 Radio, Rabu (11/5/2016). Vokalis Coldplay itu menilai bandnya sudah meraih seluruh prestasi.

Selain vokalis, Martin adalah penulis sebagian besar lirik lagu, dan pianis band asal Inggris itu yang telah menjual lebih dari 80 juta unit album di seluruh dunia. "Kami telah menghasilkan tujuh album dan saya bangga," lanjutnya.

Namun para penggemar tidak perlu khawatir band berusia dua dekade itu bakal bubar. Martin mengungkap bahwa dirinya bersama Jonny Buckland (gitar), Guy Berryman (bas), dan Will Champion (drum) masih bisa berkarya, misalnya menggelar konser. Panggung di Glastonbury Festival 2016 adalah salah satunya.

Menggelar konser, terutama yang berlangsung di tanah air seperti Glastonbury, diakui Martin selalu terasa istimewa dan menyenangkan. Sedangkan merilis album justru penuh tekanan, terutama di tengah perubahan pola masyarakat mengonsumsi musik. Teknologi juga berperan dalam perubahan drastis industri musik.

Band yang populer berkat lagu "Yellow" ini telah lama lekat dengan rumor bubar, vakum, hiatus, dan berbagai istilah lain yang bermuara pada perpisahan. Penyulutnya adalah Martin.

Ketika album kedua A Rush of Blood to the Head (2002) terbit dan sukses terjual 15 juta unit di seluruh dunia, Martin sempat mengutarakan ketakutan bahwa bandnya tidak dapat membuat album lagi.

Tiga tahun berselang, meluncur album X&Y yang menghasilkan sejumlah lagu populer "Speed of Sound", "Fix You", "Talk", dan "The Hardest Part". Dari segi penjualan, album tersebut laku 13 juta salinan.

Usai menelurkan X&Y, yang berarti optimisme dan pesimisme, band yang terbentuk di London ini kembali diterpa gosip bubar. Pasalnya usai meraih dua trofi dalam Brit Awards 2006, Martin lagi-lagi mengatakan bandnya akan menghilang dalam waktu lama. Tapi, "Mereka tidak bubar," kata perwakilan EMI, label rekaman Coldplay, berusaha menenangkan suasana.

Giliran saat konser di Brisbane, Australia (2012), mulut bapak dua anak ini kembali mengeluarkan pernyataan yang bikin jurnalis dan penggemar berkerubung. "Ini adalah penampilan terakhir kami untuk tiga tahun atau lebih ke depan. Jadi, saya tidak mau berhenti bernyanyi," teriaknya dari atas panggung.

Dua tahun kemudian saat menggarap album A Head Full of Dreams (2015), Martin lagi-lagi memberi gelagat ambigu. "Kami sedang mengerjakan album ketujuh dan memperlakukannya ibarat novel terakhir Harry Potter. Saya tak bermaksud mengatakannya sebagai album terakhir, namun ini memang rangkuman cerita," ujarnya dilansir Consequence of Sound (5/12/2014).

Sejarah kemudian membuktikan bahwa berbagai pernyataan tersebut berakhir ibarat kepalan tangan yang meninju angin. Bagaimana dengan pernyataan terbarunya kali ini?

"Sejak dahulu saya selalu khawatir band ini tidak dapat bertahan. Perasaan tersebut muncul lagi sekarang. Jadi saya rasa album A Head Full of Dreams semacam bab penutup tentang sesuatu," pungkas Martin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR