FILM INDONESIA

Arini jadi benang merah Love for Sale 2 dengan film pertama

Della Dartyan, pemeran Arini, saat ditemui dalam press junket film Love for Sale 2 di markas Visinema Pictures, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/9/2019).
Della Dartyan, pemeran Arini, saat ditemui dalam press junket film Love for Sale 2 di markas Visinema Pictures, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/9/2019). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Love for Sale adalah film yang terbilang sukses. Drama garapan sutradara Andibachtiar “Ucup” Yusuf ini berhasil mengantarkan Gading Marten, sang pemeran utama, meraih piala Citra kategori Aktor Utama Terbaik.

Dalam film itu, Gading menjadi Richard, jomlo akut yang terlalu lama hidup sendiri. Suatu ketika teman-teman nongkrongnya menantang Richard untuk membawa pacarnya dalam acara pernikahan salah satu dari mereka.

Richard tak mau malu, hingga akhirnya ia ke sebuah situs kencan bernama Love Inc mempertemukannya dengan Arini Kusuma (Della Dartyan). Dari yang tadinya hanya pacar bohongan, akhirnya benih asmara mulai tumbuh dalam diri Richard.

Sekuelnya akan tayang pada 31 Oktober 2019. Sutradaranya masih Ucup. Namun, Gading tak membintanginya. Pasalnya, benang merah Love for Sale 2 dan film pertama adalah Arini.

“Film kedua lebih menjelaskan Arini tuh siapa. Di film pertama, Arini hanya robot cinta tanpa perasaan,” ujar Della dalam sebuah wawancara di markas Visinema Pictures, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/9/2019).

Love for Sale 2 mengisahkan Indra Tauhid alias Ican (Adipati Dolken) yang terus berdebat dengan ibunya, Rosmaida (Ratna Riantiarno). Ros ingin anak keduanya itu menyusul dua saudara lelakinya yang sudah menikah. Suatu hari, Ican ingin mengakhiri perselisihan dengan ibunya.

Ia nekad membawa calon menantu palsu melalui aplikasi Love Inc. Datanglah Arini, yang diperkenalkan Ican sebagai mantan pacarnya zaman kuliah. Siapa sangka, keluarga Ican jadi lebih erat berkat Arini. Melihat hal itu, Ican mulai terbawa dengan peran Arini. Pelan-pelan ia merasa jatuh cinta.

Dalam film kedua, Arini memperkenalkan dirinya sebagai Arini Chaniago, bukan Arini Kusuma seperti film pertama. Ini demi menyenangkan Ros yang berdarah Minang.

“Itu untuk menegaskan bahwa Arini ini profesional dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Dia seperti bunglon yang bisa menjelma jadi wanita sesempurna apapun yang kliennya mau,” Della menjelaskan perannya. “Kasarnya, saya memerankan peran dalam peran.”

Menariknya, peran Arini sebagai “perempuan bayaran” membuat dua pemain lain tidak mau menonton film pertama. Mereka adalah Ratna Riantiarno dan Ariyo Wahab, yang memerankan Anandoyo “Ndoy” Tauhid, si sulung dalam keluarga Ros.

“Saya enggak mau nonton Love for Sale biar saya enggak tahu si Arini ini. Lebih baik saya enggak tahu apa-apa,” jelas Ratna Riantiarno. Ini demi lebih menghidupkan karakter Ros, ibu yang tertipu oleh profesionalitas Arini dalam membawa perannya sebagai calon menantu sempurna.

“Saya jadi jatuh cinta dengan si Arini ini. Pilihan saya tidak menonton ternyata jauh lebih baik, karena jadi tidak punya opini apa-apa terhadap Arini,” ungkap Ratna.

Alasan senada diungkap Ariyo Wahab. “Pas baca skrip, ada satu scene, si Ndoy itu kaget melihat Arini. Sebenarnya gue mau nonton film pertama, tapi karena ada scene ini, ya sudah entar dulu deh,” ungkap Ariyo. “Lagipula film pertama dan kedua enggak ada hubungan, benang merahnya hanya Arini aja.”

Meski tak berhubungan, baik Ariyo, Della, dan Ratna sepakat bahwa kisah Love for Sale dan sekuelnya sama-sama bersifat faktual. Perselisihan antara orangtua dan anak; ketika orangtua menginginkan anaknya menikah sesegera mungkin, padahal si anak juga punya alasan tersendiri mengapa belum menikah.

“Dulu gue ingin seperti almarhum papa. Galak, tegas, disiplin,” kisah Ariyo yang kini sudah memiliki tiga anak; si sulung sudah berusia 17. “Ternyata gue enggak bisa kayak bokap. Dan gue enggak bisa memaksakan itu,” ungkap lelaki berusia 45 ini.

“Hal ini (perbedaan antara orangtua konvensional dan anak muda, red.) terjadi di mana-mana. Film ini harus ditonton yang tua dan muda, jadi pelajaran buat mereka. Dulu, kita harus nurut. Zaman sekarang, anak punya logika masing-masing,” tutup Ratna.

Catatan redakasi: Beritagar.id merupakan mitra media Love for Sale 2
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR