ARTEFAK KEBUDAYAAN

Asah kecerdasan lewat permainan tradisional

Foto ilustrasi congklak
Foto ilustrasi congklak | Lucky Vectorstudio /Shutterstock

Di daerah asal Anda, apa nama permainan yang tertera pada foto di atas? Congklak? Badaku? Dakon? Atau ada sebutan yang lain?

Untuk mereka yang lahir dan besar di Banten dan Jawa Barat, permainan yang biasanya melibatkan dua pemain ini dikenal dengan nama "congklak".

Zaman dulu, warga DKI Jakarta menyebut permainan ini dengan nama "punggah", karena biji-biji dijalankan dan dimasukkan ke dalam "gedong" yang berupa rumah induk di kedua ujungnya. Rumah induk ini yang disebut punggah.

Perlahan, nama punggah mulai tergantikan juga dengan congklak.

Permainan yang menggunakan cangkang kerang kecil atau biji-bijian -- bahkan batu-batuan kecil juga bisa -- sebagai alat bantu main, memang punya banyak nama di seluruh Indonesia.

Di daerah Jawa Barat, permainan ini disebut "dakon". Sedikit ke tengah dan timur Jawa, permainan ini lazim disebut "dhakon" atau "dhakonan".

Ketika sudah berada di provinsi yang ada di seberang Pulau Jawa, misalnya saja Kalimantan Tengah, permainan ini berubah nama menjadi "badaku". Begitu juga orang Sumatra Utara yang sering menyebut permainan ini dengan nama "makaotan".

Tidak ada catatan jelas bagaimana dan dari mana permainan ini berasal. Namun pada zaman dahulu, permainan ini biasanya dimainkan di lubang-lubang yang dibuat langsung di tanah, dan biji-bijinya terbuat dari pecahan genting.

Meski namanya berbeda-beda, aturan permainan ini relatif sama.

Menyisir situs resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dulunya permainan ini hanya terdiri dari empat anak lubang yang saling berhadapan dan satu lubang pada masing-masing ujung di sebelah kanan dan kiri, sedang bijinya berjumlah total 32 buah. Tiap satu anak lubang diisi empat biji.

Pada perkembangannya, satu set mainan ini bisa memiliki lebih dari empat lubang. Ada yang mengisi tiap lubang mengikuti jumlah anak lubangnya, ada juga yang mengisinya langsung dengan 10 biji di tiap anak lubangnya.

Berapa pun itu, permainan ini akan dianggap selesai bila sudah tidak ada lagi biji yang bisa diambil di anak lubang. Pemenangnya adalah dia yang mendapatkan biji terbanyak di rumah induknya.

Permainan ini tetap bisa dimainkan oleh lebih dari dua pemain dan/atau dengan jumlah genap, selama papan permainan juga ada sebanyak jumlah pemain dibagi dua.

Pada permainan dengan jumlah lebih banyak, para pemain akan mulai menjalankan biji congklak dalam waktu yang sama. Pemenang di tiap-tiap kelompok nantinya akan saling bertanding hingga tersisa satu pemenang pada babak akhir.

Tak ada aturan saklek yang menyebut permainan ini hanya bisa dimainkan perempuan atau anak-anak. Sebab, manfaat penting dari bermain congklak adalah membantu pemainnya berpikir cermat.

Di Indonesia, permainan tradisional yang dapat mengasah kecerdasan pemainnya tentu bukan hanya congklak.

Dari 516 nama permainan tradisional yang diinventariskan oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan diolah tim Lokadata Beritagar.id, ada 185 permainan tradisional yang punya manfaat mengasah kecerdasan kognisi dan motorik.

Nilai kecerdasan itu mendominasi dibandingkan dengan kerja sama, kompetisi, sportivitas, kemandirian, dan religi/budaya. Angka ini masih bisa berubah, karena ada 30 permainan yang tak ditemukan penjelasannya dalam situs Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.

Nilai permainan tradisional nusantara
Nilai permainan tradisional nusantara | Lokadata /Beritagar.id

Tak kalah dari permainan gawai

Berbeda dengan yang ada di gawai, permainan tradisional ini tidak perlu di-install, diisi baterainya, dan diunduh sistem operasi terbarunya supaya bisa menyesuaikan dengan kecanggihan game-nya.

Modal bermain pun tak melulu dengan benda pengiring, seperti halnya congklak. Dengan fisik yang mumpuni saja, Anda sudah bisa bermain. Semakin banyak teman, tentu semakin menyenangkan.

Ratusan permainan tradisional yang kita punya ini setidaknya bisa dibagi dalam enam kategori tunggal: bermain dengan benda, permainan fisik, lagu, bermain peran, dan teka-teki. Namun, tidak menutup kemungkinan juga bahwa ada permainan yang menggabungkan dua kategori sekaligus.

Salah contoh permainan yang melibatkan dua kategori adalah yang berasal dari DKI Jakarta, "wak-wak kung (atau ada juga yang menyebutnya wak-wak gung)".

Permainan fisik yang mirip dengan "ular tangga" ini menggunakan lantunan musik sebagai peneman bermain.

Wak wak gung nasinye nasi jagung alapnye lalap putat
sarang goak dipoon jagung gang ging gung
Pit a la ipit anak satu kejepit sipit
maen-maenan anak Betawi
Rame-rame maenya di pinggir kali
Bulannye timbul gede sekali
Cahayanye aduh terang sekali
Lan lan tok bulannye s'gede batok
nggak abis buat besok eh nyang jadi musti dipatok
Pit a la ipit anak satu kejepit sipit

Jika ada yang lupa atau tidak tahu, sila tengok cara bermain "wak-wak kung" dalam buku Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta kls 3 dalam tautan ini.

Untuk lebih tahu ragam permainan tradisional berikut dengan kategorinya, Anda bisa melongoknya dalam Tableu di bawah ini (tampilan akan lebih optimal jika menggunakan perangkat desktop).

Cegah radikalisme

Bermain kebanyakan dilakukan untuk mengisi waktu luang. Tapi di luar itu, manfaat lain dari bermain adalah sebagai sarana membangun interaksi sosial.

Dalam permainan, anak-anak dan orang dewasa juga diajarkan untuk bersikap adil dan legawa menerima kekalahan.

Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Suwarno, bahkan punya pandangan lain tentang permainan tradisional.

Mengutip Republika, permainan tradisional yang berbasis kebudayaan lokal sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak. Sebab, beragam permainan itu ada bukan hanya sekadar agar anak bermain.

Selain itu, kebudayaan lokal yang memiliki nilai-nilai kearifan yang bisa dipakai untuk mencegah paham-paham yang mengarah pada radikalisme.

Suwarno mengambil contoh cara dakwah yang dilakukan Wali Songo yang menggunakan wayang untuk menyampaikan petuah-petuah supaya jujur dan cerdas dalam melihat hal yang membahayakan.

Menurutnya, cara pintar dengan menerjemahkan pemikiran-pemikiran melalui atraksi menyenangkan lebih mudah dipahami masyarakat.

"Makanya tidak mudah terpengaruh, karena mempunyai kekuatan kearifan dalam memilah dan memilih mana yang baik mana yang buruk. Para ulama dulu cerdas sekali dalam menggunakan kearifan lokal," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR