FILM INDONESIA

Ave Maryam, dilema antara cinta dan pengabdian

Sebuah adegan dalam film Ave Maryam.
Sebuah adegan dalam film Ave Maryam. | Pratama Pradana Picture

Film bertema agama bukan hal asing di Indonesia, tapi yang mengangkat agama minoritas masih relatif jarang. Ini jadi salah satu alasan sutradara Ertanto Robby Soediskam menggarap Ave Maryam, tayang serentak di Indonesia mulai Kamis (11/4/2019).

“Ketika kita ingin sesuatu tapi kita enggak melakukan apa-apa, bisanya cuma protes juga sia-sia kan,” ujar Robby dalam kunjungannya ke kantor Beritagar.id di Tanah Abang pada Jumat (5/4).

Film berdurasi 73 menit ini mengisahkan dilema seorang suster Katolik. Berlatar belakang kota Semarang, tokoh utama Ave Maryam adalah Maryam (Maudy Koesnadi), seorang suster penuh pengabdian yang ditugaskan untuk merawat koleganya yang sudah berusia lanjut.

Suatu hari, Pastor Yosef (Chicco Jerikho) datang untuk mengajar orkestra. Maryam terkesan pada Yosef. Di tengah menjalankan tugasnya, Maryam dihadapkan pada dilema antara cinta dan pengabdiannya sebagai suster.

Inilah hasil perbincangan antara Andi Baso Djaya dari Beritagar.id dengan Robby dan aktris Olga Lidya, pemeran Suster Mila dalam Ave Maryam.

Aktris Olga Lidya dan sutradara Ertanto Robby Soediskam mengobrol saat  kunjungan ke kantor Beritagar.id di Tanah Abang pada Jumat (5/4/2019).
Aktris Olga Lidya dan sutradara Ertanto Robby Soediskam mengobrol saat kunjungan ke kantor Beritagar.id di Tanah Abang pada Jumat (5/4/2019). | Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

Sebelum tayang di bioskop-bioskop Indonesia, Ave Maryam telah meramaikan beberapa festival di berbagai negara. Bagaimana respons penonton?

Robby: Ada satu kritikus di Hongkong, dia ngikutin lagi di Amsterdam. Dia bilang, ‘Saya penasaran banget next film kamu apa’. Terus dia bilang, ‘Kalau misalkan (ada) sutradara yang ditunggu film berikutnya apa, berarti kamu menarik secara karya’.

Dengan proses syuting yang pendek, tak sampai sebulan, bagaimana persiapan mencari lokasi syuting yang pas?
Robby: Syutingnya sembilan hari, tapi sebelumnya aku sama Bang Ical sudah bolak-balik ke Semarang tiga kali, kita benar-benar harus cari (gereja) satu-satu. Sampai waktu itu ada yang bilang, ‘Ini ada gereja nih, Pak’.

Pas kami datang, wah, ini keren banget ya. Bangunannya klasik, dia punya mesin cuci zaman Belanda dan masih digunakan sampai sekarang, terus dapurnya kayak sisa-sisa masa kejayaan, dapurnya kayak dapur hotel, jemurannya juga masih jemuran Belanda.

Bagaimana proses pemilihan pemain Suster Maryam?
Robby: Ketika punya cerita, namanya (Maudy Koesnaedi) sudah ada di tulisan saya, jadi saya tawarin Mbak Maudy. Waktu itu belum kepikiran, ‘Ah kan dia agamanya Islam’. Kalau mau main ya main, kalau enggak ya enggak.

Saya baru baca Instagram, terus ada yang tiba-tiba ngomong, ‘Jangan sampai nanti pindah agama’. Padahal saat itu enggak ada kepikiran. Ketika saya menjalankan profesi, saya menjalankannya dengan profesional.

Apa maksud adegan buka jendela dalam film Ave Maryam?
Robby: Aku mau gambarin dunia diluar sana luas banget. Terus ada kupu-kupu datang menandakan bahwa akan ada tamu. Makanya scene berikutnya menjelaskan siapa yang datang dan siapa yang membawa mimpi-mimpinya.

Bagaimana proses kerja sama dengan seluruh pemain?
Olga: Asyik banget, aku melihat Maudy dan Chicco juga gila bagus banget, ini berdua lagi all out banget. Buat saya tantangan juga supaya bisa mengimbangi.

Tapi lebih dari itu kami semua (para pemain) mungkin enggak bisa menghasilkan hal seperti ini kalau tidak dibantu dengan art-nya yang gila-gilaan, dengan DOP (director of photography, red.) yang bagus banget, kostum dan make-up yang pas, tentunya dengan skrip juga.

Kenapa penonton harus menyaksikan Ave Maryam?
Olga
: Ini akan jadi pengalaman dan perjalanan yang menyenangkan selama dua jam di dalam gelapnya bioskop. Dengan gambar sinematografi yang memanjakan kita, dengan DOP yang luar biasa.

Nonton saja dengan pikiran terbuka, nikmati gambarnya dan lama-lama ceritanya akan merasuk kepada kita, karena ceritanya ini cara bercerita yang sangat lembut, sangat sensitif, dan romantis.

Untuk Robby, mari kita membahas kutipan film Ave Maryam pilihan warganet.
Kutipan: “Saya ingin mengajakmu melihat hujan di tengah kemarau.”
Robby
: Itu dapet idenya pas syuting. Si Maryam ini 40 tahun meredam hasrat terus, dan harus ada statement dari Yosef untuk ngomong, tapi enggak secara verbal seperti bahasa anak muda biasanya.

Nah, karena background si Yosef adalah pemusik, lagu-lagunya seni banget. Jadi, keluarlah kalimat itu. Explicit meaning dari aku sih, ‘tengah kemarau’ itu dia (Yosef) menganggap Maryam punya rasa menahan hasrat selama 39 tahun.

Kutipan: “Aku juga manusia biasa yang terus belajar untuk memurnikan diri, tanpa menghakimi batas hasrat."
Robby:
Setiap orang punya tujuan hidup, kita selalu belajar-belajar sampai kapanpun. Belajar itu enggak ada titik terakhirnya sampai kita mati. Dalam belajar ada proses-proses, ada gangguan manusiawi, karena kita hidup pada hasrat juga, dia selalu belajar memurnikan diri tanpa membatasi nafsu dan lain-lain.

Kunjungan FIlm: Ave Maryam /Beritagar ID

Penulis: Refani Denik

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media untuk film Ave Maryam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR