Bekraf klarifikasi masalah Efek Rumah Kaca dan SXSW

Di gedung Kementerian BUMN, Jakarta Pusat (12/3/2018), Kepala Bekraf Triawan Munaf (kiri) bersama wakilnya, Ricky Pesik (tengah) memberi klarifikasi mengenai batalnya ERK menggunakan dukungan lembaga tersebut.
Di gedung Kementerian BUMN, Jakarta Pusat (12/3/2018), Kepala Bekraf Triawan Munaf (kiri) bersama wakilnya, Ricky Pesik (tengah) memberi klarifikasi mengenai batalnya ERK menggunakan dukungan lembaga tersebut. | Indra Rosalia /Beritagar.id

"Terima kasih banyak atas dukungan dan doa teman-teman semua selama sebulan terakhir."

Melalui Instagram (12/3/2018), kelompok musik Efek Rumah Kaca (ERK) mengumumkan kalau akhirnya mereka jadi pergi ke Amerika Serikat. ERK akan meramaikan South by Southwest Conference and Festivals (biasa disingkat SXSW), festival tahunan yang berisi konferensi film, media interaktif, dan musik di Austin, Texas.

Keberangkatan tersebut seperti mengakhiri kontroversi yang terjadi antara ERK dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Awalnya, konser band tersebut di Texas bakal disponsori oleh Bekraf. Namun, seminggu sebelum keberangkatan, band yang didirikan pada 2001 ini memutuskan menarik diri dari dukungan itu dan pergi dengan biaya mereka sendiri.

Masalah utamanya, seperti dijelaskan dalam siaran pers, ERK merasa ada yang janggal dengan harga tiket pesawat yang mencapai Rp32 juta per orang, padahal setelah mereka cek tiket yang sama, harganya hanya sekitar belasan juta rupiah.

Band beranggotakan Cholil Mahmud, Adrian Yunan Faisal, Airil "Poppie" Nur Abadiansyah dan Akbar Bagus Sudibyo itu lalu protes kepada Bekraf, namun mengklaim tidak mendapat tanggapan yang memuaskan atas kejanggalan tersebut.

"Hal ini terus terang bertentangan dengan hati nurani kami dan nilai-nilai yang selama ini kami suarakan melalui lagu-lagu kami. Dan tentu saja praktik seperti ini jauh dari pemenuhan salah satu prinsip tata laksana pemerintahan yang baik, yaitu efektif dan efisien," kata ERK, dikutip Liputan6 (11/3).

Pada Senin (12/3), bertempat di gedung Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Bekraf memberi klarifikasi mengenai batalnya ERK menggunakan dukungan lembaga tersebut. Hari sebelumnya mereka sempat berbicara langsung kepada ERK soal masalah ini.

"Tidak ada tuduhan pada kami. Mereka ingin anggaran pemerintah yang dari uang pajak lebih dimaksimalkan," ujar Ketua Bekraf Triawan Munaf menceritakan hasil pertemuan mereka.

Menurut ayah penyanyi Sherina Munaf ini, persoalan dengan ERK hanya masalah komunikasi. "Intinya, ERK, meski tidak pakai biaya Bekraf, toh tetap mewakili Indonesia," ujar Triawan.

Perbedaan harga tiket, menurut Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik, dikarenakan tiket yang dibelikan untuk ERK berjenis fleksibel. Artinya, jadwal terbang bisa diubah sewaktu-waktu. Tiket jenis ini memang jauh lebih mahal dibanding tiket biasa yang disebut jauh lebih murah oleh ERK.

Lantas Ricky menegaskan lembaga tersebut tidak pernah mengeluarkan uang untuk tiket tersebut, melainkan langsung dari Kementerian Keuangan.

Kementerian Keuangan memberi batas atas untuk tiap eselon/pelaku kreatif yang setara. Angka Rp32 juta untuk tiket, menurut Ricky, merupakan batas atas pembelian tiket untuk pelaku kreatif, dalam hal ini para personil ERK.

"Ada matriksnya, pelaku kreatif di level ini (setara) dengan pejabat eselon berapa," lanjut Ricky.

Lelaki yang mengawali kariernya sebagai copywriter pada tahun 1989 itu kemudian menjelaskan bahwa perjalanan luar negeri itu sifatnya lump sum. Artinya, pengguna dana bebas tinggal di mana saja selama perjalanan, tapi uang yang digantikan tetap tergantung kepada batas atas yang ditetapkan Kemenkeu.

Nantinya semua tiket, boarding pass, bon, dan segala surat bukti mengeluarkan uang dikumpulkan dalam laporan pertanggungjawaban pelaku.

Proses yang panjang, kaku, dan berliku

SXSW adalah festival tahunan yang menampilkan karya multi-subsektor seperti film, musik, dan pameran media digital interaktif yang bertempat di Austin, Texas, Amerika Serikat.

Untuk kategori film dan musik, kurasi dilakukan oleh panitia SXSW. Sementara peserta kategori digital interaktif dapat "melamar" melalui program open call "Satu Pintu" yang dibuka oleh Bekraf, untuk ditentukan siapa yang memenuhi syarat dan layak tampil dalam acara tahunan itu. Dalam hal ini, ERK masuk karena terpilih pihak penyelenggara SXSW.

Namun mereka tetap harus mengikuti prosedur. Nah, proses yang terjadi hingga dana diturunkan oleh Kementerian Keuangan itu sangat panjang dan berliku. Ada belasan hingga puluhan langkah yang harus dilakukan semua pihak yang terkait, dari pelaku kreatif, Bekraf, hingga Sekretariat Negara dan Kementerian Keuangan.

"Semua proses ini tidak seperti swasta. Cukup kaku dan menantang," ujar Triawan seraya menjelaskan bahwa mulanya ia juga terkaget-kaget atas kekakuan itu, mengingat latar lelaki berusia 59 ini adalah pengusaha swasta.

Apalagi yang diurus Bekrat tidak hanya SXSW saja. Ada pameran dagang Ambiente di Jerman, konferensi pengembang permainan Game Connection di AS, hingga pameran kriya Salone del Mobile di Italia.

"Setiap permohonan harus dipersiapkan dengan mata anggaran yang tersedia. Kami proyeksikan kurang lebih perjalanan dinas ke luar negeri itu ada 1.000 pelaku setahunnya," ungkap Ricky.

Masalah lain yang sering muncul adalah visa. Dari sisi Bekraf sudah mencoba membantu dengan menyiapkan surat pengantar.

"Tujuan surat pengantar kalau kami mengirim siapapun ke luar negeri itu kan menggunakan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Harus jelas yang berangkat. Jadi kami harus mengajukan ke Setneg," ujar Ricky.

Setelah disetujui Setneg, Bekraf baru membantu mempersiapkan paspor dan visa.

"Kami mempersiapkan dokumen pendukung, tapi itu (lolosnya visa yang diajukan) adalah kewenangan lembaga pemerintah lain. Itu kerap ketolak," ungkap lulusan Teknik Kimia ITB itu sambil menyebut Inggris dan Amerika Serikat sebagai negara yang kerap menolak visa dari Indonesia.

Selanjutnya, Bekraf mengaku tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa membantu memudahkan pelaku kreatif dalam mendapatkan informasi dan persetujuan dari pihak lain.

"Untuk sementara ini sampai ada perubahan UU Keuangan dan Menkeu baru, kami memang tidak bisa berkelit dari alur ini. Yang kami upayakan berusaha sebisa mungkin menjangkau dan memberikan konsekuensi supaya tidak mengalami kesulitan di kemudian hari," ungkap Ricky.

Ke depannya, Bekraf ingin masalah komunikasi bisa lebih jelas. Mereka akan menggunakan jasa sebuah komite yang dibentuk khusus untuk acara internasional. "Manajemen mikro untuk sebuah event itu penting," tutup Triawan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR