Cara Lala Timothy tekan bujet Wiro Sableng

Produser Sheila "Lala" Timothy saat mendatangi kantor Beritagar.id pada Kamis (20/7/2017).
Produser Sheila "Lala" Timothy saat mendatangi kantor Beritagar.id pada Kamis (20/7/2017). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Menghidupkan Wiro Sableng ke layar lebar tidak gampang. Bertandang ke kantor Beritagar.id pada Kamis (20/7/2017), produser sekaligus pendiri LifeLike Pictures Sheila Timothy menjelaskan perihal kesulitan yang ia alami, serta cara-cara mengirit bujet produksi.

Saat kami mewawancarai wanita yang akrab dipanggil Lala itu, sutradara Angga Dwimas Sasongko sedang berada di Gunung Gede dalam rangka melihat-lihat area yang akan menjadi lokasi syuting. "Kami sekarang sedang melakukan persiapan tahap akhir. Syuting akan dimulai tanggal 21 Agustus nanti," jelas Lala.

"Kalau dari segi cerita, saya rasa sudah cukup. Kami melakukan riset sudah lama, sejak tiga tahun lalu. Kami juga sudah bikin tim yang melakukan pertemuan tiap Senin. Pokoknya dari segi cerita, karakter, dan universe-nya sudah jadi," ungkap wanita kelahiran Jakarta ini.

Nah, soal teknik produksi yang jadi pertanyaan. Dengan genre aksi-fantasi, dapat dipastikan Wiro Sableng akan menggunakan koreografi pertarungan yang dipadu dengan pencitraan komputer (computer generated imagery/CGI).

Akhir Juni lalu, Lala berangkat ke Los Angeles, Amerika Serikat untuk melakukan pertemuan terakhir dengan pihak Fox International Productions (FIP). Maklum, untuk membuat sebuah proyek besar seperti Wiro Sableng, LifeLike Pictures butuh tandem untuk urusan dana dan teknik pembuatan.

"Soal visual efek terus terang di Indonesia salah satu kekurangan, belum ada yang mumpuni. Kami harus berpikir bagaimana supaya bujetnya nggak meledak. Karena kami punya bujet nggak gila-gilaan, masih tinggi untuk Indonesia, bukan Hollywood," jelas Lala.

Dalam konferensi pers yang berlangsung Februari lalu, kakak Marsha Timothy ini mengungkap kalau bujet Wiro Sableng di atas USD2 juta (sekitar Rp26,65 miliar). Sekadar perbandingan, film The Mermaid (2016) dari Tiongkok yang banyak menggunakan CGI punya ongkos USD60,7 juta. Sementara Transformers: The Last Knight (2017) mencapai USD217 juta.

Meski termasuk rendah dibanding kedua judul itu, tetap saja angka Rp26,65 miliar teramat tinggi untuk film lokal, yang paling banter ditayangkan secara komersial di regional Asia Tenggara saja. Itu melebihi ongkos pembuatan dan pemasaran Warkop DKI Reborn yang mencapai Rp25 miliar.

Lala punya kiat tersendiri menghadapi masalah bujet itu. Untuk mengirit, sinergi antar departemen harus benar-benar tinggi.

"Contohnya, kostum tidak bisa didesain sembarangan tanpa berbicara dengan fighting director, juga dengan tim kamera dan CGI. Karena harus sesuai dengan koreografi, safety juga harus dipikirkan," jelas wanita berusia 45 tahun itu.

Kedua, mencampurkan efek CGI dengan practical effect (efek praktis). "Kami sudah berkali-kali tes CGI dari bulan kemarin. Kami sudah campurkan antara practical shot dengan CGI. Jadi nggak pure 100 persen CGI," ujar Lala.

CGI memang terkesan "gampang". Mungkin, untuk tim produksi hal itu benar. Tapi kenyataannya sulit bagi tim pasca produksi. Bikin CGI bagus bisa lebih mahal dibandingkan efek praktis.

Dengan efek praktis, sineas bisa mengakali dengan tingkat kreativitas tinggi, misalnya menggunakan miniatur atau dengan teknik kamera yang dilakukan sedemikian rupa sehingga 'bohongannya' tidak kelihatan.

Sementara CGI melibatkan rendering gambar resolusi tinggi dengan komputer super canggih yang dilakukan para seniman digital --bayarannya tentu tidak murah.

Contoh anyar efek praktis vs CGI adalah dua calon film blockbuster yang baru tayang di Amerika Serikat pekan ini yakni Dunkirk dan Valerian and the City of Thousand Planets.

Dunkirk adalah film bertemakan Perang Dunia II yang digarap oleh sutradara Christopher Nolan. Pria Inggris itu lebih suka efek praktis daripada CGI. Ia bahkan lebih memilih untuk membeli pesawat tua senilai USD5 juta (Rp65,6 miliar) dari zaman Perang Dunia untuk dihancurkan dalam sebuah adegan.

Toh, tidak bikin bujet Dunkirk melejit. Ongkosnya 'hanya' USD150 juta saja. Bandingkan dengan Valerian yang dari cuplikannya saja sudah ketahuan dipenuhi CGI --film ini bertemakan luar angkasa. Bujet Valerian membumbung hingga USD209 juta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR