FILM INDONESIA

Cara Rachmania Arunita mengindonesiakan Cinta Itu Buta

Dodit Mulyanto , salah satu pemeran utama film Cinta Itu Buta, berpose dengan latar pemandangan Kota Gamcheon di Busan, Korea Selatan
Dodit Mulyanto , salah satu pemeran utama film Cinta Itu Buta, berpose dengan latar pemandangan Kota Gamcheon di Busan, Korea Selatan | Koleksi foto akun @cintaitubutaofficial di Instagram

Setelah film Bebas yang mengadaptasi Sunny dari Korea Selatan, giliran adaptasi film Kita Kita asal Filipina berjudul Cinta Itu Buta menyusul tayang mulai 10 Oktober 2019. Film tersebut disutradarai Rachmania Arunita.

Untuk membuatnya tetap seperti film Indonesia, Nia --sapaan akrab sang sutradara-- bersama Fanya Runkat, Renaldo Samsara, dan Sigrid Andrea Bernardo sebagai penulis naskah melakukan beberapa perubahan.

Selain tentu saja karena menghadirkan aktor Indonesia, semisal Dodit Mulyanto dan Shandy Aulia, sebagai pemeran utama, ada beberapa perubahan lain yang membedakannya dengan versi asli.

Hal paling kentara dari film ini adalah pemilihan lokasi. Versi asli yang rilis dua tahun silam bertempat di Sapporo, Jepang.

Sementara Cinta Itu Buta menghadirkan lanskap Gamcheon di Busan, Korea Selatan, yang berada di dataran tinggi berpadu dengan laut.

Deretan rumah penduduk yang berundak-undak mengikuti kontur tanah berkelir warna-warni. Secara visual sangat memanjakan mata.

Selain itu, banyak spot artistik pula di daerah ini untuk menarik perhatian wisatawan datang berkunjung.

Dalam jumpa pers usai pemutaran film Cinta Itu Buta untuk kalangan pers di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (7/10/2019), Nia mengaku bahwa pemilihan lokasi syuting bukan semata agar membedakannya dengan versi terdahulu.

“Kami coba cari tempat yang belum banyak digunakan dalam film Indonesia. Harus menyesuaikan juga dengan cerita dalam film ini,” sambungnya.

Dalam Cinta Itu Buta, salah satu tokoh bernama Diah yang diperankan Shandy dikisahkan bekerja sebagai pemandu wisata. Untuk itu lokasi syuting harus menyediakan banyak titik wisata. Kota Gamcheon sangat memenuhi kriteria yang dimaksudkan.

Alasan mengapa harus syuting di Korsel tentu tak lepas juga dari pertimbangan pasar. Kurun beberapa tahun terakhir segala yang berhubungan dengan Korsel sangat familiar di Indonesia. Mulai dari sajian film dan serialnya, musiknya, hingga kulinernya.

Sebagai penambah kekentalan budaya Indonesia dalam film ini, terpilihlah Dodit sebagai Nik, lengkapnya Nikmatullah, dengan aksen Jawa Timur yang kental. Bahkan Dodit ikut menyumbang suara untuk lagu tema film ini.

Lagu tersebut sekilas terkesan Inggris karena berjudul “Darling”, tapi sesungguhnya seluruh liriknya berbahasa Jawa.

Sementara Diah, walaupun tidak eksplisit menyebut berasal dari daerah mana, dalam sebuah adegan bercerita bahwa anggota keluarganya tinggal di Yogyakarta.

“Harapan kami dengan dengan perpaduan dari film Kita Kita, lokasi syuting di Korsel, juga cerita yang disesuaikan dengan budaya kita, penonton bisa menikmati film ini dan merasa terkoneksi,” pungkas Nia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR