Cara Raymond Handaya menyatukan pemain Cahaya Cinta Pesantren

Para pemain Cahaya Cinta Pesantren (dari kiri): Vebby Palwinta, Yuki Kato, Febby Rastanty, dan Sivia Azizah
Para pemain Cahaya Cinta Pesantren (dari kiri): Vebby Palwinta, Yuki Kato, Febby Rastanty, dan Sivia Azizah
© Fullframe Pictures

Sutradara selalu punya cara untuk mengeluarkan kemampuan terbaik para pemain dalam sebuah film. Raymond Handaya yang mengekranisasi Cahaya Cinta Pesantren mewajibkan para pemain utamanya untuk mondok di pesantren.

Para pemain yang terdiri dari Yuki Kato (21), Vebby Palwinta (20), Febby Rastanty (20), dan Sivia Azizah (19) mondok langsung di pondok pesantren (ponpes) Ar-Raudhatul Hasanah Medan, salah satu ponpes terbesar di Sumatra Utara, hampir sepekan sebelum syuting. Dalam film, ponpes tersebut bernama Al-Amanah.

Selama mondok; Yuki (sebagai Marshila), Vebby (Icut), Febby (Manda), dan Sivia (Aisyah) harus mengikuti tata tertib dan pola kehidupan santri yang berlaku di ponpes Ar-Raudhatul Hasanah.

Mereka tidur di asrama beralaskan kasur kapuk, belajar mencuci baju sendiri, bangun dini hari untuk salat Tahajud, hingga tidak boleh menggunakan telepon seluler.

Para pemain, termasuk Fachri Muhammad (Rifqi) dan Rizky Febian (Abu Bakar), juga tidak dipanggil dengan nama asli, melainkan nama masing-masing tokoh peranan mereka. Setiap kru dan santri sungguhan di Ar-Raudhatul Hasanah juga melakukan hal serupa kepada pemain.

"Tujuannya agar mereka bisa membaur dengan santri lain, melebur dalam karakter yang diperankan, dan semakin mengenal satu sama lain," kata Raymond kepada Beritagar.id usai konferensi pers di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (Senin 9/1/2017).

Berbeda dengan Febby dan Sivia yang sejak awal telah saling mengenal karena merupakan personel grup vokal Blink, Yuki dan Vebby belum saling kenal. Cahaya Cinta Pesantren adalah film pertama yang mempertemukan mereka berempat.

Diakui Sivia, ide sang sutradara yang mengharuskan mereka mondok di pesantren pada akhirnya berhasil mempersatukan tiap tokoh. "Kita semua juga jadi semakin akrab. Enggak ada ponsel juga tidak masalah," ungkap Sivia.

Selama menggarap versi film dari novel karya Ira Madan ini, Raymond yang sebelumnya menyutradarai Air & Api (2015), Warisan Olga (2015), dan I Love You Masbro (2012) mengaku berusaha tidak melenceng terlalu jauh dari cerita yang ada.

Pun demikian, ia tetap berusaha mengolah setiap adegan film Cahaya Cinta Pesantren dengan lebih ringan agar tidak terasa menggurui penonton. Caranya dengan menyisipkan beberapa adegan atau dialog yang memancing tawa.

"Kami ingin membuat penonton tertawa saat menonton filmnya, tapi pada saat bersamaan mereka tetap bisa menangkap pesan yang disampaikan. Lagi pula kalau berkaca pada film-film yang laku saat ini, unsur komedi dan romansa pasti ada. Jadi kami menggabung dua hal tersebut dengan natural," lanjut sineas kelahiran Ambon, Maluku, ini.

Menurut Raymond, kebanyakan film yang berkisah tentang santri ponpes selama ini dikemas terlalu serius.

"Kami tidak ingin seperti itu, tapi berusaha mengemasnya lebih ringan atau populer agar lebih mudah diterima penonton kalangan remaja," tambahnya.

Film Cahaya Cinta Pesantren yang merupakan produksi perdana Fullframe Pictures bakal tayang perdana di bioskop mulai 12 Januari.

Film ini mengisahkan empat santri perempuan dengan latar belakang berbeda; Shila adalah warga Medan, Manda orang Malaysia, Aisyah dari Minang, dan Icut asal Aceh.

Selain berusaha mewujudkan cita-cita, dalam kehidupan ponpes Al-Amanah yang berhiaskan warna-warni problematika khas remaja, empat santri ini juga menemukan makna persahabatan yang sesungguhnya.

"Harapan kami semoga kehadiran Cahaya Cinta Pesantren bisa menambah khazanah perfilman di Indonesia. Target kami sih tidak muluk. Dapat 300 ribu penonton sudah bersyukur," tutup produser eksekutif Haryanto Tian.

Cahaya Cinta Pesantren | Official Trailer
© Fullframe Pictures
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.