ALBUM MUSIK

Coldplay siap bikin album baru

Coldplay beraksi saat paruh waktu pertandingan Super Bowl ke-50 di Santa Clara, California, Amerika Serikat (7/2/2016).
Coldplay beraksi saat paruh waktu pertandingan Super Bowl ke-50 di Santa Clara, California, Amerika Serikat (7/2/2016). | John G. Mabanglo /EPA

Tahun depan, Coldplay bakal kembali mengerjakan album baru. Hal ini diungkap oleh Mat Whitecross, sineas sekaligus teman dan kolaborator band asal London, Inggris, ini kepada NME (15/11/2018).

“Sejauh yang saya tahu, mereka belum melakukan apapun. Namun, mereka punya rencana untuk tahun depan, tapi saya bukan bagian dari rencana itu,” jelas Whitecross.

Sineas spesialis film dokumenter ini bisa dibilang adalah juru kamera pribadi untuk Coldplay.

Sejak kuliah, Whitecross sudah mengenal para anggota Coldplay; Chris Martin, Jonny Buckland (gitar), Will Champion (drum), dan Guy Berryman (bas). Sineas berusia 41 ini juga menggarap beberapa video klip Coldplay seperti “Paradise”, “A Sky Full of Stars”, dan “Adventure of a Lifetime”.

Baru-baru ini, Whitecross membuat dokumenter Coldplay: A Head Full of Dreams yang mengisahkan perjalanan Coldplay dari awal berdiri hingga rangkaian konser tur A Head Full of Dreams.

Dengan kata lain, ia selalu berada di sekitar band ini sejak berdiri pada 1996, untuk merekam mereka.

Whitecross mengaku sudah mendengar materi yang dirancang Coldplay untuk album berikutnya, yang bakal jadi album kedelapan. “Saya sudah sedikit memfilmkan mereka membicarakan hal ini, tapi sepertinya saya belum boleh membuka apapun.”

Saat ini, Coldplay tengah libur panjang. Album terakhir mereka adalah A Head Full of Dreams, yang dirilis pada 2015, lalu diikuti 114 konser tur di 31 negara pada September 2015 hingga November 2017.

“Sebelumnya, mereka tak pernah melakukannya (berlibur). Saya tak tahu apakah Anda bisa menyebut Chris (Martin, vokalis Coldplay, red.) sebagai orang yang gila kerja atau bukan. Sebab, ia menyukai apa yang ia kerjakan. Ia keluar masuk studio, menulis tiga hingga empat lagu setiap harinya.”

Namun, ada satu kesamaan yang selalu dilakukan Coldplay setiap mereka selesai tur panjang. “Chris selalu merasa, ‘Oh, kami telah berakhir. Sebagai band, kami sudah tak punya apapun untuk dikatakan’,” tutur lelaki yang pernah bikin dokumenter untuk band Oasis ini.

Meski begitu, secara bertahap Coldplay akan kembali. “Lalu, mereka mulai bersemangat membahas apa yang akan dilakukan untuk karya berikutnya.”

“Tiap album adalah eksperimen mereka dan sangat berbeda dibanding sebelumnya. Mereka selalu ingin menantang diri sendiri dan mengejutkan orang lain,” ujar Whitecross. “Oleh karena itu, saya yakin apapun yang dilakukan Coldplay, orang-orang bakal terkejut.”

Film dokumenter laris manis

Coldplay: A Head Full of Dreams tayang serentak di bioskop hanya sehari, 14 November. Saat menontonnya di CGV Blitz Grand Indonesia, Jakarta Pusat; Beritagar.id menjadi saksi antusiasme para penggemar Coldplay.

Ratusan orang datang mengenakan kaos bergambar logo band yang berdiri sejak 1996 itu. Beberapa dari mereka ikut menyanyi keras-keras saat lagu-lagu Coldplay diputar di layar bioskop.

Meski hanya tayang sehari, film dokumenter ini berhasil mengundang banyak penonton dan mencetak uang. Dilansir dari Deadline (15/11/2018), A Head Full of Dreams tayang di 70 negara termasuk Indonesia. Jumlah penontonnya mencapai 300 ribu orang, menghasilkan uang sebesar $3 juta.

Film yang dirilis oleh Trafalgar Releasing, Warner Music, Parlophone, dan David Holmes Management ini menjadi nomor satu di Belanda, kedua di Inggris, Australia, dan Italia, serta menjadi nomor lima di Amerika Serikat.

Kedekatan Whitecros dengan Chris Martin, Will Champion, Guy Berryman, dan Jonny Buckman membuat ia bisa menceritakan lebih dalam mengenai band pop-rock asal Inggris itu; sejak mereka masih jadi band anak kuliahan yang manggung di kafe lokal di London.

Whitecross bahkan sudah pernah merekam musik Coldplay saat empat orang anggotanya memperdengarkan musik mereka untuk pertama kali di kamar asrama.

Setelah tayang di bioskop, Coldplay: A Head Full of Dreams tersedia secara eksklusif di Amazon Prime Video Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru pada 16 November.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR