David Bowie dan Indonesia

David Bowie meninggal setelah berjuang selama 18 bulan melawan kanker.
David Bowie meninggal setelah berjuang selama 18 bulan melawan kanker.
© Maurizio Gambarini/EPA

Saat industri hiburan, juga aktivitas di linimasa Twitter, larut dalam keramaian ajang Golden Globe Awards, Senin (11/1/2016), sebuah kabar duka nan mengejutkan datang memecah keramaian. David Bowie meninggal dunia karena penyakit kanker pada usia 69 tahun.

Semasa hidupnya, penyanyi ikonis asal Inggris itu dikenal punya hubungan cukup dekat dengan Indonesia. Ia berkawan dekat dengan Setiawan Djody, musisi sekaligus pengusaha asal Solo, Jawa Tengah.

Dalam salah satu wawancara dengan majalah Far (edisi Oktober-November 2010), Djody yang kini berumur 66 tahun mengatakan bahwa mendiang David Bowie adalah sosok yang paling cocok diajak diskusi soal politik.

Perkawanan itu juga menghantar Bowie mengenal lebih dalam soal Indonesia. Kesukaan sosok pelantun "Heroes" itu pada kebudayaan disajikan dengan beraneka ragam oleh Indonesia. Jawa dan Bali adalah dua tempat yang sering disinggahi Bowie saat liburan.

Mengetahui kesukaan pemilik nama lengkap David Robert Jones itu terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan, Djody yang bergelar Kanjeng Pangeran Haryo di lingkungan Kerajaan Mangkunegaran sempat membawanya menghadiri acara malam 1 Suro di Keraton Mangkunegaran, Solo.

Lewat dua foto yang diunggah oleh pemilik akun @adia311 di Twitter, terlihat Bowie ditemani istrinya, Iman Mohamed Abdulmajid, menghadiri acara yang rutin digelar oleh lingkungan kerajaan menyambut datangnya tahun baru Islam, pada 1991. Djody dan Japto Soerjosoemarno (juga anggota keluarga Kerjaan Mangkunegaran) tampak menemani.

Salah satu pelaku pariwisata yang enggan disebutkan namanya dalam salah satu arsip situs Berita Bali (2009) mengatakan bahwa Bowie sempat punya vila di Ubud pada tahun 1990-an. "Saya dan keluarga pernah diundang makan malam oleh David Bowie dan Iman di vilanya. Begitu sampai, mereka malah cuek, tidak menyapa, lantas pergi begitu saja. Ya, namanya juga seniman eksentrik."

Dilansir Architectural Digest (1992), Bowie memiliki sebuah vila bernama Mandalay di Mustique, Karibia, dengan arsitektur Jawa dan Bali yang kental. Mulai dari bentuk atapnya yang serupa Joglo (rumah adat masyarakat Jawa), hingga perabotan di dalamnya. Vila yang dibangun 1989 tersebut dijual Bowie kepada Felix Dennis dengan harga USD5 juta (Rp69 miliar) pada tahun 1995.

Tidak sekadar menyukai ragam budaya dan pemandangan alam di tanah air, Bowie juga tercatat punya dua lagu yang berlirik bahasa Indonesia. Pertama berjudul "Amlapura" (1991) yang diambil dari album kelompok Tin Machine. Selain Bowie, band tersebut diperkuat oleh Reeves Gabrels (gitar), Tony Sales (bas), dan Hunt Sales (drum). Seperti judulnya, Bowie terinspirasi menciptakan lagu tersebut setelah berlibur di Amlapura, Karangasem, Bali, Juli 1989.

Satu lagu lainnya adalah "Jangan Susahkan Hatiku" yang merupakan lagu bonus dari album solo Black Tie White Noise (1992) edisi Indonesia. Jika pada lagu pertama judul aslinya sama dengan versi Indonesia, maka versi asli lagu "Jangan Susahkan Hatiku" adalah "Don't Let Me Down and Down".

Amlapura - Indonesian Version
© ImpermanentChord1
David Bowie - Don't Let Me Down & Down (Indonesian Vocal Mix
© Allan Mardle
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.