FILM INDONESIA

Deretan karya lawas ramaikan Vintage Film Festival

Poster film Pengabdi Setan (1980) di sebuah bioskop
Poster film Pengabdi Setan (1980) di sebuah bioskop | Flik TV /Facebook.com/flikTV

Pencinta film lawas di Indonesia punya masalah mendasar, sedikit sekali film dari era sebelum tahun 2000-an yang dapat dinikmati dengan kualitas tontonan yang tinggi. Penyimpanan yang seadanya membuat kondisi fisik film amat rusak, sehingga terkadang malah tidak bisa ditonton sama sekali.

Namun baru-baru ini ada usaha untuk merestorasi film lawas dan menayangkannya di bioskop berlayar lebar. Acara bertajuk Vintage Film Festival ini merupakan kolaborasi Go-tix, Flik TV, dan CGV Indonesia untuk menyambut Hari Film Nasional--diperingati tiap 30 Maret--dan dimulai dengan penayangan Pengabdi Setan versi 1980.

Pengabdi Setan hanya satu dari beberapa film lawas Indonesia yang siap tayang di CGV. Ada beberapa film lawas lain yang siap ditayangkan, tapi sementara ini Pengabdi Setan siap melenggang lebih dulu di beberapa bioskop CGV selama sebulan, dari 29 Maret hingga 29 April, pada hari Kamis hingga Minggu.

"Dimulai dari Pengabdi Setan selama sebulan, nanti kita tanya masyarakat. Sebulan selanjutnya film lawas mana yang akan tayang duluan," ungkap Head Marketing CGV Cinemas, Wisnu Triatmojo kepada JawaPos.com (28/3/2018).

Inilah film lawas Indonesia yang siap meramaikan Vintage Film Festival. Data-data dan sinopsis film diambil dari FilmIndonesia.or.id.

Matt Dower (1969)

Sutradara Nya Abbas Akup (lahir 1932, wafat 1991) dikenal sebagai ahli dalam menangani film komedi. Lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur, itu membuat 34 film sepanjang kariernya, hanya empat yang bukan film lucu.

Namun film-film Nya Abbas bukan sekadar menjual banyolan. Terselip unsur pelajaran moral di dalamnya.

Seperti Matt Dower. Tokoh titular (diperankan S. Bagio) adalah orang yang dianggap kurang waras oleh penduduk setempat, namun ia justru paling merasa sedih karena desanya dikuasai preman bernama Munafik (Mansjur Sjah) dan Matt Geledek (S. Bagio).

Ya, pelawak legendaris S. Bagio memerankan protagonis sekaligus antagonis dalam film hitam putih ini.

Ateng Sok Aksi (1977)

Selain S. Bagio, pelawak legendaris Indonesia sebelum era Warkop adalah Ateng dan Iskak. Ketiganya bersatu dalam film Ateng Sok Aksi garapan sutradara Hasmanan. Karakter mereka menggunakan nama asli masing-masing.

Ateng adalah orang yang sok aksi, tapi karena itu ia bisa menyelamatkan majikannya dari Bagio si perampok, yang ternyata takut kucing. Ateng pun menjadi incaran komplotan Bagio.

Aksi Ateng tak berakhir di situ. Temannya Iskak naksir pada pembantu lain bernama Supini (Lenny Marlina). Ateng berusaha membantu temannya dengan mengirim surat atas nama Supini kepada Iskak, juga sebaliknya.

Ratu Ilmu Hitam (1981)

Ratu horor Suzanna mungkin paling dikenal sebagai Sundel Bolong, tapi ia tak selamanya menjadi hantu. Namun tentu saja aura seram tetap ada dalam peran yang ia lakoni.

Dalam film Ratu Ilmu Hitam, Suzanna memerankan Murni, wanita malang yang disangka mengirimkan teluh saat pernikahan mantan kekasihnya. Rumahnya dibakar, ia dijatuhkan ke jurang.

Namun Murni diselamatkan dukun bernama Gendon, yang ternyata pelaku teluh sesungguhnya. Sang dukun pun membujuk Murni untuk membalas dendam dan menjadi Ratu Ilmu Hitam.

Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)

Membuat ulang film lawas rupanya sudah terjadi di Indonesia, jauh sebelum Falcon Pictures mendaur ulang filmnya Warkop DKI dan Benyamin S.

Pada 1982, film Titian Serambut Dibelah Tujuh dari tahun 1959 lahir kembali. Penulis skenarionya tetap sama, Asrul Sani, sang legenda yang juga menangani naskah Lewat Djam Malam (1954), Malin Kundang (Anak Durhaka) (1971), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), dan Naga Bonar (1986).

Asrul juga menyutradarai film lawas Titian Serambut Dibelah Tujuh, tapi untuk remake-nya, kursi sutradara diduduki oleh Chaerul Umam.

Titian Serambut Dibelah Tujuh mengisahkan Ibrahim (El Manik), seorang guru muda yang menemukan berbagai kejanggalan dalam kehidupan di kampung yang ia tinggali. Sesepuh yang keras kepala, orang kaya yang bejat, perilaku perjudian, premanisme, hingga homoseksual ada di kampung ini.

Sama Juga Bohong (1986)

Seperti beberapa komedi sebelum generasi mereka, film-film grup lawak Warkop DKI juga tak lepas dari perempuan-perempuan cantik sebagai pemanis. Sama Juga Bohong menampilkan Ayu Azhari, Chintami Atmanegara, Nia Zulkarnaen, dan Rina Hassim.

Alkisah trio Warkop adalah kelompok mahasiswa yang berhasil membuat robot. Lantas mereka bertemu Soraya (Chintami), seorang penyanyi top yang kemudian diajak ketiganya untuk melakukan pertunjukan amal. Namun, ketika pertunjukan hampir berlangsung, Soraya tidak juga muncul.

Pelesetan lagu yang kerap dilakukan Kasino dalam film-film Warkop juga turut meramaikan film berdurasi 98 menit ini. Anggota Warkop tertua itu menyanyikan "Black Dog" dari Led Zeppelin yang diparodikan menjadi "Suwe Ora Jamu". Juga lagu "Rock N'Roll Music" dari Chuck Berry yang sebagian liriknya diganti dan dinyanyikan secara jenaka oleh Kasino.

Catatan Si Boy (1987-1991)

Catatan Si Boy (1987) merupakan salah satu film remaja yang paling top. Pertama hadir di bioskop pada 1987, setiap tahun berikutnya ada sekuel, hingga berakhir pada Catatan Si Boy 5 tahun 1991. Multivision bahkan sudah merencanakan untuk membuat produksi ulang kisah Si Boy.

Pemeran utama Catatan Si Boy dari film pertama hingga kelima adalah Onky Alexander sebagai Boy, sosok lelaki ideal yang tampan, kaya, suka olahraga, dan saleh sehingga ia diperebutkan banyak wanita.

Dengan penokohan seperti itu, tak heran lima seri Catatan Si Boy dipenuhi aktris-aktris yang top pada zamannya. Mereka adalah Meriam Bellina, Btari Karlinda, Ayu Azhari, Bella Esperance Lee, Paramitha Rusady, Venna Melinda, hingga Sophia Latjuba. Tidak ketinggalan almarhum Didi Petet memerankan Emon, sahabat si Boy.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR