Dewan Kesenian Jakarta mengkritisi sejarah melalui tari

Anak-anak pengungsi gunung api Sinabung, Sumatera Utara, berlatih tari tradisional Karo "Lima Serangkai" di Desa Ndokum Siroga, Karo, Sumatera Utara, Sabtu (12/11/2016).
Anak-anak pengungsi gunung api Sinabung, Sumatera Utara, berlatih tari tradisional Karo "Lima Serangkai" di Desa Ndokum Siroga, Karo, Sumatera Utara, Sabtu (12/11/2016). | Irwansyah Putra/Antara Foto

Beragam ikhtiar bisa dilakukan untuk mengkritisi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Komite Tari dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melakukannya lewat tari.

Melalui program "Telisik Tari" dengan fokus bahasan tentang tari Melayu yang berlangsung di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat (23-24/11/2016), DKJ ambil bagian untuk mengingatkan kembali bahwa banyak budaya Indonesia berdasar pada budaya Melayu.

"Kami merasa generasi muda saat ini melihat Melayu seolah hanya milik negara tetangga," jelas Ketua Komite Tari DKJ Hartati dilansir Antaranews.com, Kamis (24/11).

Sebagai salah satu dari beragam produk budaya masyarakat yang ada di Nusantara, tari Melayu dalam perjalanannya juga tidak luput mengalami pengaruh dan dinamika sejarah dan sosial masyarakat.

Sejarah kelahiran tari Melayu tidak merujuk pada sebuah batas satu wilayah atau satu negara tertentu. Pasalnya tari ini telah hadir sebelum adanya batas negara, sehingga keberadaannya bisa dirujuk pada banyak negara dalam satu kawasan.

Itu sebabnya masyarakat dari negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam sah-sah saja jika memiliki tarian Melayu khas mereka sendiri.

Sebelum masa kemerdekaan Indonesia, lanjut Hartati, budaya Melayu sebenarnya juga sangat dekat dengan hiburan rakyat, seperti pada teater atau Komedi Stamboel.

Periode awal masuknya Islam di Nusantara juga banyak menggunakan budaya Melayu sebagai alat syiar.

Presiden Soekarno bahkan sempat menjadikan Tari Serampang Dua Belas asal Serdang Bedagai, Sumatera Utara, sebagai tari nasional.

Alih-alih terlarut dalam goyangan cha-cha, waltz, dan agogo yang mengetren pada era 60-an, Bung Besar --julukan Soekarno-- mengimbau remaja kala itu untuk mempelajari tari tradisional.

Kejadian di atas merupakan salah satu alasan mengapa tari Melayu menarik untuk ditelisik lebih jauh. Terutama melihat eksistensinya sekarang.

"Program Telisik Tari Melayu adalah ikhtiar yang tidak sedikit prosesnya, tidak ringan dalam persiapannya. Seni Melayu yang ada saat ini harus kita pertahankan dan lestarikan terus agar tidak hilang ditelan zaman," tutur Kak Wardi, empu tari Melayu, yang termaktub dalam buku program "Telisik Tari Melayu". Buku tersebut dapat diunduh gratis melalui tautan ini.

Dalam pengantarnya, Komite Tari DKJ menyatakan bahwa program Telisik Tari bukan sekadar ajakan untuk bernostalgia atau klangenan menonton prestasi seorang empu tari, tetapi menciptakan wadah untuk mendiskusikan isu-isu tari tradisional di Indonesia secara lebih kritis dan mendalam.

Telisik Tari yang merupakan pengembangan program Maestro! Maestro! ingin lebih mendiskusikan dan mempermasalahkan istilah tradisi dan tradisional sebagai bagian dari pembentukan identitas tari Indonesia.

"Tari tradisi dan tradisional harus ditelisik dengan kritis," ujar Helly Minarti, anggota Komite Tari DKJ yang juga ketua bidang program DKJ.

Peneliti tari dan dosen senior Institut Kesenian Jakarta Julianti Parani dalam Kompas edisi cetak (24/11) mengatakan bahwa tari Melayu memiliki ciri keterbukaan dan keluwesan. Ibarat air yang bisa berada di mana pun, unsur Melayu bisa ditemukan dalam tari Bali, Jawa, dan Betawi.

Dalam rilis persnya kepada Beritagar.id, Telisik Tari yang merupakan program DKJ sepanjang November 2016 tidak melulu menampilkan pertunjukan tari Melayu yang berbasis penelitian dan penelusuran historis-kritis, diadakan pula pameran foto Melayu, dan kuliner.

Sesi diskusi yang diisi oleh Julianti, Rene Sariwulan (antropolog tari), dan Suhaimi Bin Magi (koreografer dan praktisi tari Melayu Malaysia) juga semakin menambah keragaman acara. Selain itu diadakan pula master class yang menghadirkan Irianto Catur dan Kak Wardi.

Malam Melayu! #telisiktari #tarimelayu

A video posted by Dewan Kesenian Jakarta (@jakartscouncil) on

Tari Zapin oleh Tom Ibnur. #tarimelayu #telisiktari

A video posted by Dewan Kesenian Jakarta (@jakartscouncil) on

BACA JUGA