Diskriminasi dan pelecehan seksual di industri musik

Archipelago Festival menggelar diskusi mengenai Women, Gender Equality Within Local Scene, di Jakarta, Minggu (15/10/2017).
Archipelago Festival menggelar diskusi mengenai Women, Gender Equality Within Local Scene, di Jakarta, Minggu (15/10/2017).
© Agustina NR /Beritagar.id

"Apakah ini kodrat perempuan, kalau kita masuk dalam industri musik, kita nggak cuma dituntut bermusik, tetapi juga penampilan, menghadapi sexual harassement, atau memaklumi teman-teman satu band kita merendahkan perempuan? Menurut saya nggak."

Itulah sikap tegas Kartika Jahja, vokalis Tika and the Dissidents, yang dibeberkannya dalam acara Archipelago Festival di Gedung Energy, Jakarta, Minggu (15/10/2017).

Tika, sapaan akrabnya, berbicara dalam sesi Women, Gender Equality Within Local Scene. Musisi sekaligus aktivis tersebut menceritakan bahwa perempuan menghadapi tantangan saat berkarier di industri musik.

Kemampuan mereka masih dipandang sebelah mata. Selain itu, mereka juga mengalami diskriminasi, pelecehan, hingga kekerasan seksual. Tindakan tidak menyenangkan tersebut bisa dilakukan oleh teman sesama musisi, produser, hingga penonton.

Terperangkap stereotipe

Tika menjelaskan bahwa di dunia musik, perempuan dianggap sebagai objek atau properti publik. Ia digambarkan seperti puteri cantik, calon istri, tidak ada cacatnya sama sekali, atau justru sebaliknya.

Sedangkan laki-laki diposisikan sebagai subjek. Ironisnya, anggapan seperti itu tak hanya datang dari laki-laki, sesama perempuan pun tak jarang menganggap hal yang sama. Hal ini disebabkan oleh pengaruh budaya dan keluarga patriarki sehingga cara berpikir mereka terperangkap dalam stereotipe.

Hal itu dialami pula oleh Yacko. Perempuan rapper asal Surabaya, Jawa Timur, ini pernah dihakimi oleh pelaku industri radio.

Yacko disebut tak akan bisa berada di jalur musik mainstream maupun indie pada 2006. Padahal Yacko mengawali karier sejak 1996.

Namanya kemudian muncul dalam album kompilasi Pesta Rap 2 (1997). Sementara dua bulan lalu, Yacko merilis video klip Hands Off sebagai alat melawan pelecehan seksual.

Yacko juga pernah mengalami stereotipe ketika calon mertuanya memaksanya meninggalkan dunia hip-hop bila sudah menikah nanti. Sang calon mertua hanya mengizinkannya menyanyi lagu pop.

Alhasil, Yacko harus mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya. Lebih lanjut, Yacko menjelaskan bahwa stereotipe bukan cuma terjadi di industri hip-hop dalam negeri. Di luar negeri, musisi seperti MC Lyte dan Salt-N-Pepa juga mengusung perlawanan terhadap eksploitasi perempuan.

"Ada majalah yang menobatkan gue 'Perempuan Penembus Batas', tapi fotografernya bawa apron. Dia bilang, 'Lo harus pake apron ini untuk difoto, karena temanya perempuan, dan perempuan identik dengan masak'. Gue nggak mau. Gue udah berada di titik, 'Kalau lo mau nyuruh gue foto kayak gini, pulang aja,'" tutur Tika.

Musik sebagai edukasi

Keluar dari stereotipe dan budaya patriarki memang tidak mudah. Tika, Yacko, dan Hera Mary (sutradara film dokumenter Ini Scene Kami Juga) mengakuinya.

Hera yang pernah yang merekam peran perempuan musisi dalam musik punk dan hardcore mengatakan masih terdapat pelecehan seksual dan diskriminasi. Bahkan, salah satu teman perempuannya dilecehkan, bagian dadanya diremas oleh penonton saat melakukan stage diving.

Namun, setelah filmnya dirilis dan diputar di beberapa kota, muncul sebuah gerakan yang mengangkat isu kesetaraan dan seksualitas. "Hal-hal kecil itu bisa dimulai dari lingkup teman-teman sendiri," kata Hera.

Musisi, ujar yacko, menggunakan musik sebagai media edukasi. Sebagaimana sebuah edukasi disampaikan ke orang lain membutuhkan waktu perlahan. Diskusi dan bertemu support system merupakan dua hal yang bisa dilakukan untuk "mematahkan" stereotip perempuan dalam kelompok sosial patriarki. Termasuk edukasi soal batasan bercandaan dan catcall dan pelecehan seksual. Karena selama ini, definisi di atas masih rancu di masyarakat.

"Karena sesuatu yang sifatnya tidak bisa dikomentari, kayak melawan patriarki, kita melawan dengan budaya yang saling menghargai. At the end of the day, perempuan nggak bisa jalan sendiri, harus semua jalan bersama, laki-laki perempuan saling menghargai," tambah pemilik nama Yani Oktaviana.

Archipelago Festival berlangsung pada 14-15 Oktober 2017 akhir pekan lalu. Kegiatan ini merupakan festival perdana yang diselenggarakan oleh Sounds from the Corner dan Studiorama Jakarta. Festival menggelar serangkaian konferensi musik, emerging talent, dan penampilan musisi Indonesia dan luar negeri.

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media Archipelago Festival 2017
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.