FILM INDONESIA

Dominasi hantu perempuan dalam film horor

Salah satu adegan dalam film Pengabdi Setan
Salah satu adegan dalam film Pengabdi Setan | Rapi Films

Jika menonton film horor Indonesia, besar kemungkinan Anda akan ditakut-takuti oleh tokoh hantu berwujud perempuan. Arwah berupa wanita rupanya dianggap sebagai sosok yang menjadi nilai tambah sebuah film.

Kesimpulan ini diambil dari penelitian Lokadata Beritagar.id, dengan menghitung karakter hantu yang muncul dalam film-film genre horor dan horor komedi. Yang masuk hitungan kami adalah 15 film terlaris versi FilmIndonesia.or.id setiap tahunnya, dari 2007 sampai 7 Maret 2018.

Tim Lokadata Beritagar.id menemukan bahwa dari 55 hantu yang menjadi teror utama dalam 50 film horor, ada 46 yang berupa sosok arwah perempuan. Sebagian besar memiliki wujud dewasa, tepatnya ada 26. Mereka disusul oleh 8 pocong, 8 kuntilanak, dan 4 hantu berwujud anak-anak.

Meski wujudnya mirip--biasanya ditampilkan dengan rambut hitam panjang dan mengenakan gaun putih--tapi kuntilanak punya ciri dan definisi yang sangat khas jika dibandingkan dengan arwah perempuan dewasa lainnya.

Kuntilanak adalah hantu perempuan yang meninggal saat melahirkan. Sosok ini tak hanya milik masyarakat Indonesia, orang Malaysia juga punya legenda urban serupa dengan nama Pontianak.

Jenis hantu ini rupanya relatif populer di kalangan film horor lokal. Tercatat ada empat film laris yang mengandung kata "kuntilanak" pada judulnya. Sementara, film terlaris dengan karakter hantu berwujud kuntilanak adalah Terowongan Casablanca (2007), yang mampu mengundang 949.878 orang untuk menonton ke bioskop.

Film terlaris dengan sosok hantu perempuan tidak lain adalah Pengabdi Setan (2017), yang ditonton 4,2 juta orang dan menjadi film horor terlaris sepanjang masa di negeri ini.

Jenis-jenis hantu yang muncul dalam film horor terlaris di Indonesia periode 2007-2018
Jenis-jenis hantu yang muncul dalam film horor terlaris di Indonesia periode 2007-2018 | Lokadata

Dalam Pengabdi Setan, memang ada sosok pocong dan arwah dewasa lain, tapi seperti disebutkan sebelumnya, Lokadata Beritagar hanya mengambil karakter hantu yang menjadi tokoh penting atau teror utama dalam sebuah film.

Karakter Mawarni Suwono alias Ibu (diperankan oleh Ayu Laksmi) tak pelak merupakan ikon utama dalam film garapan sutradara Joko Anwar itu. Saking populernya, meme mengenai Ibu banyak bermunculan di media sosial.

Bagaimana dengan hantu lelaki? Dari total 55 hantu yang 46 di antaranya hantu perempuan, ternyata jumlah roh lelaki hanya 8 saja. Sisa satu adalah waria yang muncul dalam Taman Lawang (2013).

Film yang dibintangi Olga Syahputra, Angie Virgin, Nikita Mirzani itu memiliki latar di Taman Lawang, Jakarta Pusat. Sejak 1970-an, tempat tersebut memang dikenal sebagai lokasi berkumpulnya para lelaki yang berdandan seperti perempuan, alias banci.

Hantu berkelamin lelaki kerap muncul dalam rupa arwah dewasa seperti dalam film Bangkit Dari Kubur (2012), Kakek Cangkul (2012), Mall Klender (2014), dan Syirik (2018).

Pria juga kerap tampil sebagai pocong, hantu yang masih terbungkus dengan kain kafan sehingga ia berjalan dengan melompat-lompat. Ada tiga film dengan karakter pocong lelaki yaitu Pocong 3 (2007), Pocong Ngesot (2011), Poconggg juga Pocong (2011). Meski begitu, jumlah pocong perempuan lebih banyak, ada delapan.

Mengapa hantu perempuan?

Ada dua tulisan menarik mengenai dominasi hantu perempuan dalam cerita rakyat Indonesia, yang lalu diadaptasi menjadi film tersebut.

Pertama adalah tulisan Gita Putri Damayana, seorang peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) pada situs The Conversation, yang mengaitkan popularitas hantu perempuan tersebut dengan rendahnya akses perempuan Indonesia terhadap layanan kesehatan dan tiadanya rasa aman dari kekerasan.

"Si Manis Jembatan Ancol dan sundel bolong adalah perempuan korban kekerasan seksual yang menjadi hantu untuk menuntut keadilan," tulis Gita.

"Sementara, kuntilanak dan sundel bolong gagal mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Mereka meninggal bersama dengan bayi mereka saat persalinan."

Ia menyatakan, jika saja layanan kesehatan pada masa lalu sudah lebih baik dan kekerasan terhadap perempuan bisa terus dikurangi, kemungkinan besar kisah kuntilanak, sundel bolong, dan Si Manis Jembatan Ancol takkan menghantui kita saat ini.

Kemudian, dalam tulisan di Cinema Poetica yang berjudul "Mengapa Hantu Indonesia Selalu Perempuan?" Hatib Kadir, mahasiswa PhD Antropologi di University of California, Santa Cruz, Amerika Serikat, mencoba menjawab pertanyaan tersebut dari tinjauan antropologi.

Menurutnya, keberadaan hantu perempuan merupakan perwujudan dari alam bawah sadar akan ketakutan masyarakat modern terhadap kekuatan perempuan. Para hantu perempuan itu hadir seiring dengan kecemasan laki laki dalam menyikapi transisi prakapitalis ke industri kapitalisme.

"Figur hantu perempuan menunjukkan bentuk ketakutan masyarakat patriarki, sekaligus frustasi terhadap modernitas yang mewajibkan orang untuk harus selalu maju dan mampu bersaing," tulisnya.

"Norma kecemasan ini diproduksi dalam ratusan film horor Indonesia melalui sosok hantu perempuan."

Film horor kembali berjaya

Film hantu terpopuler di Indonesia dalam periode 2007 hingga Maret 2018
Film hantu terpopuler di Indonesia dalam periode 2007 hingga Maret 2018 | Lokadata

Dengan hantu perempuan itulah film horor kembali berjaya pada tahun 2017. Selain Pengabdi Setan, ada empat sinema lain yang masuk dalam 15 besar film terlaris tahun lalu, yaitu Danur: I Can See Ghosts (2,7 juta penonton), Jailangkung (2,55 juta), Mata Batin (1,28 juta), The Doll 2 (1,22 juta).

Kenyataan itu merupakan kebalikan dari tahun sebelumnya. Pada 2016 hanya satu film horor yang masuk 15 besar, itupun ada di urutan buncit. Film tersebut adalah The Doll (550.252 penonton). Genre seram juga hanya diwakili satu film pada 2015, yakni Tarot (329.258).

Dua periode tersebut rupanya merupakan puncak kejemuan penonton Indonesia terhadap film horor bikinan lokal. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelumnya film-film horor yang beredar didominasi oleh tayangan yang lebih mengandalkan keseksian tubuh perempuan, dibanding kisah dan teknik untuk menakuti penonton.

Semuanya berakar kepada tahun 2007, ketika genre horor sangat berkuasa. Meski yang terlaris adalah drama Get Married, masih ada 10 film horor yang menguasai 15 besar film terbanyak ditonton saat itu, dipimpin oleh Terowongan Casablanca (949.878 penonton).

Meski Terowongan Casablanca relatif tidak mengandalkan keseksian perempuan, film lainnya dalam periode 2007-2011 dipenuhi hal tersebut. Beberapa bahkan tak malu memasang judul yang "mengundang".

Tengok saja judul Tali Pocong Perawan (2008), Arwah Goyang Karawang (2011), Suster Keramas (2009), dan Tiran-Mati di Ranjang (2010).

Semua itu, ditambah teknik produksi yang bisa dibilang asal-asalan, membuat masyarakat bahkan enggan melirik film horor. Hingga tahun lalu, ketika Pengabdi Setan dan kawan-kawan kembali membuat orang rela berduyun-duyun ke bioskop hanya untuk ditakut-takuti.

BACA JUGA