FESTIVAL FILM INDONESIA

Dominasi Marlina, sol sepatu Mouly Surya, dan peluang Oscar

Sutradara Mouly Surya memegang Piala Citra kategori Sutradara Terbaik pada Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2018, di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (9/12/2018).
Sutradara Mouly Surya memegang Piala Citra kategori Sutradara Terbaik pada Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2018, di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (9/12/2018). | Aprillio Akbar /Antara Foto

Mouly Surya tampak amat bahagia saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Minggu (9/12/2018) malam. Film yang disutradarainya, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, dipilih juri Festival Film Indonesia (FFI) 2018 sebagai film terbaik, bahkan mendominasi ajang penghargaan tahunan bergengsi bagi insan perfilman nasional.

Menjadi nomine dalam 14 kategori, Marlina membawa pulang 10 Piala Citra, melampaui rekor lama 8 piala yang direbut Ibunda karya Teguh Karya pada 1986.

Piala itu termasuk kategori Sutradara Terbaik untuk Mouly. Itu adalah Piala Citra kedua yang dikoleksinya. Satu dekade lalu, Mouly menjadi perempuan sutradara pertama yang memenangi FFI berkat film Fiksi.

Hingga saat ini, ia adalah satu-satunya perempuan yang pernah mendapatkan Piala Citra untuk kategori sutradara terbaik.

Hebatnya lagi, sama seperti 2008, kali ini Mouly juga merebut dua piala. Satu lagi juga untuk Skenario Asli Terbaik. Bedanya, dulu ia memenanginya sendiri, kali ini skenario ditulis bekerja sama dengan Rama Adi, salah satu produser Marlina yang juga suaminya.

"Lucunya, ya, pertama kali saya menang Piala Citra, saya enggak berani speech (pidato) sama sekali. Saya langsung kabur," kenang perempuan berusia 38 tahun itu dalam wawancara dengan media, termasuk Andi Baso Djaya dari Beritagar.id, usai mendapat penghargaan.

Sepuluh tahun berlalu dan Mouly kini lebih berani. Ia menyampaikan pidato singkat dan tidak langsung kabur begitu mendapatkan Piala Citra.

Ia mempersembahkan piala tersebut untuk pendukung terbesarnya--sang ayah--yang telah tiada, juga untuk para perempuan yang bermimpi untuk menjadi sutradara.

"Dan buat semua cewek-cewek yang bermimpi menjadi sutradara, kalian pasti bisa. Dapatkan percaya dirinya, memang ini bukan stereotipe sutradara, tapi bukan berarti kalian tidak bisa," tegas Mouly dengan penuh percaya diri di panggung.

Selain soal pidato, ada peristiwa lain yang membuat ia merasakan de javu saat berada di TIM. Sol sepatunya, seperti 10 tahun lalu, juga lepas tepat saat akan berjalan ke panggung untuk menerima penghargaan.

"Aku bisikin suamiku, 'Sol sepatuku lepas, de javu nggak loh'," tutur Mouly lalu terbahak.

Di luar soal sol sepatu, ia memaparkan bahwa Piala Citra yang diraihnya 10 tahun lalu itu telah mengubah kariernya. Banyak tawaran untuk membuat film yang datang kepadanya. Marlina adalah film ketiga yang ditukanginya setelah berjaya lewat Fiksi.

Oleh karena itu, ia berharap agar para juri FFI mau lebih melirik sineas-sineas muda agar mereka bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan dirinya.

Sementara Rama Adi mengaku cukup terkejut dengan sederet Piala Citra yang didapatkan film perpaduan genre drama dan thriller tersebut. Ia mengatakan dari beragam penghargaan yang pernah didapat Marlina, Piala Citra adalah yang paling membuat dirinya bangga.

"Kami senang kalau kami dihargai, apalagi di negara sendiri. Karena ini tempat kami tinggal, tempat kami hidup ... Kami telah ke mana-mana dan (orang tua) kami bilang, tetap yang paling berharga adalah yang dari negara sendiri," tutur Rama.

Dominasi Marlina pada FFI 2018 sebenarnya sudah diprediksi para pengamat film nasional sejak jauh hari. Pasalnya, beragam penghargaan bergengsi dari luar negeri telah didapatkan sejak film berdurasi 93 menit itu tayang perdana di Festival Film Cannes, Prancis, pada Mei 2017.

Dalam Festival Film Wanita Internasional yang digelar di Sale, Maroko pada 25-30 September 2017, Marlina memenangi kategori Skenario Terbaik.

Film ini juga memenangi penghargaan NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival (FFAFF) di Warsawa, Polandia, pada 15-22 November. Selain itu, Marlina tayang di berbagai festival seperti Toronto International Film Festival (TIFF), Melbourne International Film Festival, dan New Zealand Film Festival.

Bahkan Marsha Timothy, yang memenangi kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2018, sebelumnya menjadi Aktris Terbaik dalam Sitges International Fantastic Film Festival ke-50 di Catalunya, Spanyol, Oktober 2017.

Kemudian, pada September 2018, Komite Seleksi Film Indonesia memilihnya untuk mewakili negara berkompetisi dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik ajang Academy Awards 2019.

Tak heran jika para pengamat film lokal seperti telah sepakat Marlina akan menjadi film terbaik FFI 2018 sejak jauh hari. Lagipula, bakal terasa janggal jika film yang dipilih sebagai wakil pada festival film sekelas Academy Awards (Oscar), tidak menang pada ajang serupa di negerinya sendiri.

Mengenai kemungkinan berjaya di Oscar, produser Marlina, Fauzan Zidni, tampaknya tak berharap banyak.

"Cuma ya, saya bersyukur bisa masuk set list, syukur-syukur bisa nominasi. Kita berusaha, cuma ya dari 87 negara berarti ada 87 film. Ya bisa dibayangin gitu ya, ini effort yang cukup lumayan," ujarnya.

Ia menjelaskan, dewan juri Oscar akan memangkas 87 film itu menjadi sisa sembilan pada 17 Desember 2018. Setelah itu pada awal tahun depan diseleksi lagi hingga hanya tersisa 5 film untuk masuk daftar nominasi.

Pemenang Piala Oscar akan diumumkan pada 24 Februari 2019 dalam acara di Dolby Theater, Hollywood, Amerika Serikat.

Berikut ini Piala Citra yang direbut Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak:

  1. Film Terbaik,
  2. Sutradara Terbaik: Mouly Surya,
  3. Pemeran Utama Wanita Terbaik: Marsha Timothy,
  4. Pemeran Pendukung Wanita Terbaik: Dea Panendra,
  5. Skenario Asli Terbaik: Mouly Surya dan Rama Adi,
  6. Pengarah Sinematografi Terbaik: Yunus Pasolang,
  7. Penata Musik Terbaik: Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani,
  8. Penata Suara Terbaik: Khikmawan Santosa dan Yusuf A Patawari,
  9. Penyunting Gambar Terbaik: Kelvin Nugroho, dan
  10. Penata artistik terbaik: Frans XR Paat.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR