Dua sosok perancang aksi laga film Wiro Sableng 212

Cecep Arif Rahman (kiri) dan Yayan Ruhian dalam acara syukuran pembuatan film Wiro Sableng 212 di JS Luwansa Hotel, Karet Kuningan, Jakarta Selatan (9/2/2017).
Cecep Arif Rahman (kiri) dan Yayan Ruhian dalam acara syukuran pembuatan film Wiro Sableng 212 di JS Luwansa Hotel, Karet Kuningan, Jakarta Selatan (9/2/2017).
© Andi Baso Djaya /Beritagar.id

Pendekar Wiro Sableng terkenal dengan aneka jurus sakti dan senjata mematikan. Untuk dapat memaksimalkan gaya pertarungan sang pendekar berjuluk 212 itu, ditunjuk Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhian sebagai koreografer adegan laga. Akankah gaya bertarung Wiro jadi lebih brutal?

Semua tergantung kebutuhan cerita dan arahan Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara. Cecep dan Yayan belum bisa memberikan jawaban pasti karena setiap film punya karakteristik berbeda.

Film The Raid 2: Berandal (2014) misalnya. Gareth Evans sebagai sutradara memang menghendaki mereka bertarung serba brutal karena film itu menjadi arena bentrokan berbagai campuran seni bela diri. Tidak hanya silat, tapi ada taekwondo, karate, sedikit jiu-jitsu, hingga gaya tarung bebas.

Pun demikian, kedua pesilat itu sudah mendapatkan gambaran akan seperti apa aneka pertarungan yang akan mereka ciptakan untuk Wiro Sableng 212.

"Kami sudah mencari ide bagaimana mengembangkan jurus-jurus dengan atau tanpa senjata yang akan digunakan Wiro Sableng," ungkap Cecep (44) saat berbincang dengan Beritagar.id di JS Luwansa Hotel, Karet Kuningan, Jakarta Selatan (9/2/2017).

Dalam versi buku, beberapa jurus milik Wiro Sableng yang didapatkannya dari Sinto Gendeng, antara lain pukulan kunyuk melempar buah, dinding angin berhembus tindih-menindih, angin es, angin puyuh, dan pukulan matahari.

Bagi Cecep yang sebelumnya menjadi penata laga untuk film 3: Alif Lam Mim dan Shy Shy Cat (2016), tantangan paling berat dalam meramu aneka adegan perkelahian --khususnya untuk tokoh utama Wiro Sableng-- bukan penggunaan jurus tangan kosong, tapi pada penggunaan senjata.

"Jurus-jurus dengan tangan kosong kami sudah ada sedikit gambaran. Tapi kalau senjata, butuh riset lagi. Sebagai contoh Kapak Naga Geni 212 yang merupakan senjata ikonis Wiro. Kami harus berpikir bagaimana memaksimalkan penggunaan kapak itu dalam pertarungan jarak dekat dan jarak jauh," jelasnya.

Cecep melanjutkan bahwa kapak sebenarnya bukan senjata yang umum dipakai dalam bela diri silat laiknya golok, clurit, atau trisula.

Berangkat dari fakta tersebut, desain terbaru Kapak Naga Geni 212 menurut Sheila Timothy yang menjadi produser merupakan gabungan dari keris dan kujang (senjata tajam khas daerah Jawa Barat). Dua senjata itu cukup sering digunakan pesilat kala bertarung.

Khusus untuk Kapak Naga Geni 212, fungsinya bukan hanya untuk menebas, tapi juga mengait, mendorong, menusuk, bahkan bisa mengeluarkan jarum-jarum mematikan. "Semua fungsi akan coba kami maksimalkan," kata Cecep.

Selain kapak, Wiro juga masih punya beberapa senjata lain seperti Pedang Naga Suci 212, Batu Hitam 212, dan Bintang 212 yang sangat jarang digunakan.

Lala --sapaan Sheila-- membocorkan bahwa keempat senjata tersebut bakal mereka eksplorasi. Apakah semua bakal digunakan Wiro dalam film perdana yang tayang pada 2018? "Lihat saja nanti," jawab Lala sembari tersenyum.

Untuk menciptakan semua gerakan laga yang diperlukan untuk film Wiro Sableng 212, tiga bulan adalah waktu yang diberikan. "Bulan Maret ini saya dan tim sudah mulai bekerja. Semoga bisa rampung tepat waktu," ujar Yayan.

Dalam menjawab setiap pertanyaan yang terlontar, pengajar di Pencak Silat Tenaga Dasar Indonesia ini tampak berhati-hati.

Contohnya saat kami menanyakan apakah film Wiro Sableng hanya mengeksplorasi pencak silat dalam setiap adegan laga? Ia menjawab, "Pastinya saya tidak boleh keluar dari konteks yang hanya akan mengaburkan sosok Wiro sebagai ahli bela diri nan tengil."

Fight choreographer di film Merantau (2009), The Raid (2011), dan The Raid 2 (2014) bersama Iko Uwais itu mengaku sangat terbantu dengan kesediaan Vino G. Bastian memerankan Wiro Sableng.

Pasalnya tidak ada aktor lain yang punya kedalaman memahami Wiro selain Vino yang notabene anak mendiang Bastian Tito, penulis buku Wiro Sableng yang menjadi pondasi film.

"Dalam setiap bela diri, soal rasa adalah faktor yang cukup penting. Aktor lain mungkin bisa tetap bagus menjadi Wiro Sableng, tapi jika tidak mengetahui siapa dan bagaimana Wiro sebenarnya, tetap saja tidak akan meresap ke hati penonton. Kelebihan Vino karena dia sudah punya perasaan itu," pungkas Yayan.

Film Wiro Sableng 212 yang naskahnya ditulis oleh Lala bersama Tumpal Tampubolon dan Seno Gumira Ajidarma dijadwalkan syuting Agustus 2017. LifeLike Pictures dan Fox International Pictures sebagai rumah produksi juga akan mendistribusikan film ini ke luar negeri dengan judul Warrior 212.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.