FILM INDONESIA

Edwin memfilmkan kewajaran dalam Aruna dan Lidahnya

Sebuah adegan dalam film Aruna dan Lidahnya.
Sebuah adegan dalam film Aruna dan Lidahnya. | Palari Films

Aruna dan Lidahnya punya keunikan tersendiri yang jarang ada pada film Indonesia lainnya. Sutradara Edwin menjelaskan beberapa keunikan itu kepada Beritagar.id setelah acara pemutaran perdana Aruna dan Lidahnya untuk kalangan pers di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (20/9/2018).

Contoh keunikan itu ada pada beberapa adegan yang menampilkan tokoh utama bernama Aruna (Dian Sastrowardoyo) berbicara sendiri, mengarah ke kamera. Ia menuangkan pikirannya, seakan-akan menjelaskan mengenai apa yang terjadi dalam layar kepada penonton.

Teknik itu disebut breaking the 4th wall alias memecahkan dinding keempat, ketika tokoh fiksi seakan menyadari kalau ia hanya bikinan dan berusaha berkomunikasi dengan pembaca/penonton.

Contoh paling terkenal adalah film Deadpool dengan karakter titularnya (Ryan Reynolds) yang kerap berinteraksi dengan penonton.

Di film-film lain, umumnya informasi itu dituangkan dalam bentuk narasi suara atau tulisan. Edwin rupanya menganggap Aruna perlu memecahkan dinding keempat.

“Ada kepentingan untuk bikin narasi yang tidak bisa dikeluarkan dalam bentuk dialog, karena sifatnya lebih personal,” jelas sutradara Posesif (2017) itu.

Aruna dan Lidahnya mengandalkan dialog sehari-hari, sehingga Edwin merasa perlu berusaha lebih untuk turut melibatkan penonton.

“Ini eksplorasi saya, saya senang membongkar batas antara layar dan penonton. Ada koneksi yang disumbangkan kepada penonton," jelas Edwin. “Cara ngomong ke kamera ini lebih efektif untuk bikin penonton masuk ke dunianya Aruna.”

Selain memecahkan dinding keempat, rupanya dialog sehari-hari dalam Aruna dan Lidahnya juga merupakan gagasan dari sineas yang berangkat dari film-film arthouse--karya independen yang diproduksi di luar sistem studio besar karena dianggap terlalu sempit pasarnya.

Dialog sehari-hari yang wajar tanpa drama berlebihan justru jadi salah satu keunikan Aruna dan Lidahnya.

“Untuk menghadirkan obrolan-obrolan wajar itu usaha saya dari dulu. Dulu film saya tak banyak dialog, Aruna lebih banyak. Saya memang ingin menampilkan dialog sewajar-wajarnya,” tutur Edwin.

Contohnya ketika Aruna dan Nad (Hannah Al Rashid) sedang berada di kamar. Dua perempuan berusia 30-an ini dengan santainya membicarakan soal kegiatan seksual, kondom, menstruasi, dan pembalut wanita. Hal-hal yang mungkin dianggap agak tabu dan jarang dieksplorasi oleh para pembuat film.

Namun, pembicaraan seperti itu bukan hal yang jarang terjadi di dunia nyata. “Adegan Aruna dan Nad itu kan terjadi di tempat yang intimate, itu girl talk yang saya enggak pernah liat di film Indonesia lainnya,” ujar Hannah Al Rashid.

“Pada saat cuma ada cewek dalam satu ruangan, pembicaraan tuh jadi lebih bebas. Itu normal banget. Film ini mencoba potret itu, persahabatan yang dinamis dari dua perempuan. Nad lebih adventurer, Aruna sangat konservatif,” tambah Dian Sastrowardoyo.

Soal hal yang dianggap tabu untuk dibicarakan, Hannah mengaku justru senang. “Dalam industri (film) kita banyak self-censorship. Film tentang pertemanan sehari-hari, enggak usah ada self-censorship dong,” jelas pemain film Buffalo Boys (2018) ini.

“Wajar dan apa adanya” juga jadi kata kunci saat Edwin memfilmkan 21 jenis makanan yang tampil dalam Aruna dan Lidahnya. Dari yang biasa kita lihat dan makan seperti sop buntut, nasi goreng, hingga yang langka seperti lorjuk ditampilkan secara wajar, tanpa pencahayaan berlebihan yang membuat makanan tampak seperti iklan.

“Enggak ada trik khusus. Yang kami jaga adalah kewajaran itu. Tidak mencoba untuk genit-genitanlah. Buat saya penting sekali kewajaran itu ada. Apalagi makanan itu kita kenal. Ada yang asing, tapi sebagian besar orang-orang sudah kenal,” jelas Edwin.

Aruna dan Lidahnya menceritakan perjalanan seorang ahli wabah penyakit, Aruna (diperankan Dian Sastrowardoyo), yang bertugas keliling Nusantara untuk menyelidiki kasus flu burung.

Selain menunaikan tugas, perjalanan itu dimanfaatkan Aruna untuk berwisata kuliner bersama dua sahabatnya--koki bernama Bono (Nicholas Saputra) dan kritikus kuliner bernama Nad (Hannah Al Rashid).

Di pertengahan jalan, mereka bertemu dengan Farish (Oka Antara), bekas teman kantor Aruna. Kebalikan dengan Bono, Nad, dan Aruna; Farish adalah orang yang pragmatis kalau soal makanan. Konflik pun dimulai.

Aruna dan Lidahnya tayang di bioskop-bioskop se-Indonesia mulai Kamis, 27 September 2018.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR