Ketika sutradara film mempertanyakan manfaat FFI

Sutradara Edwin saat ditemui dalam acara perilisan trailer film Posesif yang bertempat di Mall Senayan City, Jakarta Pusat (12/9/2017).
Sutradara Edwin saat ditemui dalam acara perilisan trailer film Posesif yang bertempat di Mall Senayan City, Jakarta Pusat (12/9/2017). | Indra Rosalia /Beritagar.id

"Pertanyaannya sekarang, gunanya FFI itu apa?"

Kata-kata itu keluar dari mulut Edwin, sutradara Indonesia yang karyanya kerap ditampilkan di berbagai festival film internasional, seperti Babi Buta Yang Ingin Terbang (memenangi FIPRESCI Award 2009), Postcards From The Zoo (masuk seleksi Berlinale 2012), dan Kara Anak Sebatang Pohon (film Indonesia pertama yang tayang di Festival Film Cannes pada 2005).

Ihwalnya adalah perilisan film teranyar Edwin berjudul Posesif. Ini tak biasa bagi sineas spesialis art house itu. Art house, menurut definisi Wonderfulcinema, adalah film yang diproduksi independen, di luar sistem studio besar, karena studio-studio besar tidak menganggap film-film itu menguntungkan akibat pasarnya yang terlalu niche (terbatas).

Posesif adalah karya pertama Edwin yang masuk lembaga sensor dan akan tayang secara luas di bioskop-bioskop Indonesia mulai 26 Oktober 2017.

Nah, seleksi film-film yang masuk radar para juri Festival Film Indonesia (FFI) 2017 adalah karya yang dirilis di bioskop-bioskop pada bulan September 2016 hingga September 2017, untuk mengejar acara puncak malam penghargaan yang diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara, pada November.

"Kami bukannya sok, sombong bilang kalau kami pasti menang. Tapi kalau bisa masuk nominasi kan membantu kami dalam menyebarkan film ini. Sekarang ada kebijakan sampai September ini artinya Posesif nggak bisa (ikut)," ujar Edwin dalam acara perilisan trailer film Posesif yang bertempat di Mall Senayan City, Jakarta Pusat, Senin (12/9).

Maksud Edwin soal membantu penyebaran adalah kasus film Siti (2014). Film garapan Eddie Cahyono itu pertama kali tayang bukan di bioskop, melainkan dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival 2014.

Lalu, Siti tayang, jadi nomine, atau menang dalam beberapa kompetisi film internasional seperti Singapore International Film Festival 2014, Shanghai International Film Festival 2015, Taiwan International Film Festival 2015, FilmFest Hamburg 2015, Warsaw Five Flavours Film Festival 2015, dan Toronto Reel Asian International Film Festival 2015.

Pada penghujung 2015, Siti memenangi Film Terbaik dalam FFI 2015. Ini bikin heboh, karena pertama kalinya sepanjang sejarah FFI, pemenang film terbaik tidak/belum tayang di jaringan bioskop nasional.

Oleh karena itu sempat ada tagar #SitiMasukBioskop dari beberapa warganet di Twitter yang penasaran dengan film produksi Fourcolour Films itu.

Siti punya dana produksi terbatas, sementara syarat sebuah film untuk diputar di bioskop secara komersil harus punya sekian puluh salinan yang tentu tidak bisa mereka penuhi. Belum lagi kewajiban untuk digunting lembaga sensor terlebih dulu, yang dianggap memberatkan bagi para sineas art house.

Awal tahun 2016, akhirnya Siti bisa masuk bioskop, meskipun ditayangkan secara terbatas. Tahun berikutnya, ada juga beberapa film yang menjadi nomine FFI 2016, tapi belum tayang di bioskop seperti Headshot, Salawaku, Istirahatlah Kata-Kata, dan Ibu Maafkan Aku.

Masuknya film-film itu menjadi nomine atau pemenang FFI bisa menjadi ajang promosi dan membangkitkan minat masyarakat untuk menontonnya saat sudah tayang di bioskop.

Tahun ini memang banyak perubahan pada FFI, antara lain cara penentuan pemenang. Mungkin perihal nomine non-bioskop yang sempat jadi kontroversi menjadi penyebab juri mengubah regulasi baru soal kewajiban sudah tayang di bioskop pada September 2016-September 2017.

"Kalau nggak menang film terbaik, Siti mungkin nggak kita kenal. Dengan aturan seperti itu, artinya menutup kemungkinan film-film seperti Siti," jelas Edwin.

Padahal, menurut pria berusia 39 tahun itu, ikut sertanya film-film art house seperti Siti memberi warna tersendiri pada penyelenggaraan FFI.

Edwin memberi contoh, pada FFI 2017 bisa jadi film komersial seperti Cek Toko Sebelah (2016) yang menyedot jutaan penonton diadu dengan Marlina The Murderer In Four Acts, film kelas festival yang jelas sulit meraih jumlah penonton serupa.

Mengapa akhirnya ia memproduksi film kisah cinta remaja yang bisa digolongkan sebagai produk mainstream?

"Saya butuh challenge. Seperti bikin film yang komunikatif. Bikin film itu seperti petualangan. Ketika pola mengarah ke zona nyaman, itu kurang menguntungkan. Perlulah bicara hal yang nggak baru-baru banget seperti cinta, tapi dikemasnya dengan gaya baru," jelas sineas kelahiran Surabaya ini.

Posesif bercerita tentang Lala (diperankan Putri Marino), atlet loncat indah yang hidupnya juga ikutan jungkir balik setelah menemukan cinta pertamanya, si murid baru Yudhis (Adipati Dolken). Cinta pertama itu jadi jebakan, karena Yudhis ternyata mencintai Lala secara obsesif, bahkan cenderung berbahaya.

Naskah Posesif ditulis oleh Ginatri S. Noer (sebelumnya menulis skenario film Rudy Habibie, Pinky Promise, dan Habibie & Ainun) berdasarkan novel karangan Lucia Priandarini. Film yang dijadwalkan tayang medio Juli 2017 ini juga menampilkan Yaya Unru, Cut Mini, Gritte Agatha, dan Chicco Kurniawan.

Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy bertindak sebagai produser film perdana Palari Films ini.

Official Trailer Film POSESIF /Palari Films
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR