EUROPE ON SCREEN

Europe on Screen 2018 menghadirkan 8 film Indonesia

Suasana konferensi pers Europe on Screen ke-18 di Institut Francais d'Indonesie, Gondangdia, Jakarta Pusat (19/4/2018)
Suasana konferensi pers Europe on Screen ke-18 di Institut Francais d'Indonesie, Gondangdia, Jakarta Pusat (19/4/2018) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Memasuki tahun ke-18 penyelenggaraannya, Europe on Screen (EoN) alias festival film Eropa, tak hanya sibuk memutar film-film pilihan produksi atau karya sineas dari Benua Biru. Total delapan film Indonesia jadi menu festival yang berlangsung 3-12 Mei 2018.

Kehadiran film-film Indonesia tersebut terangkum dalam satu program baru bernama "On Location". Mendapat sebutan demikian karena semua film Indonesia yang masuk di dalamnya berlokasi syuting di negara-negara Eropa.

Lima film pertama merupakan film pendek bertema pedesaan dengan durasi tak genap 30 menit yang merupakan proyek Goethe-Institut.

Pengambilan gambar semua film pendek itu berlangsung di Jerman, masing-masing berjudul Der Grenzgaenger (sutradara Adrianus Oetjoe), Neutral Street (Bani Nasution), Bavarian Fragments (Rahung Nasution), Mechanical Ghost (Tunggul Banjarsari), dan Maja's Boat (Wahyu Utama Wati).

Sementara tiga film sisanya merupakan film panjang, yaitu Laura dan Marsha (Dinna Jasanti), Surat dari Praha (Angga Sasongko), dan Satu Hari Nanti (Salman Aristo). Jadwal pemutaran film-film Indonesia tadi terpampang di situs web europeonscreen.org.

EoS turut menghadirkan masing-masing sutradara dalam sesi diskusi dengan para penonton usai pemutaran film. Segala hal tentang persiapan dan bagaimana kendala selama syuting di luar negeri bisa ditanyakan dalam sesi ini.

Mengapa EoS memutar film-film Indonesia? "Karena kami menyadari dua tahun terakhir ada banyak film Indonesia yang syuting di negara-negara Eropa," jawab Nauval Yazid dalam jumpa pers di Institut Francais d'Indonesie, Gondangdia, Jakarta Pusat (19/4/2018).

Ditambahkan Nauval, para programmer EoS memilih tiga film panjang tadi bukan hanya karena pengambilan gambarnya berlangsung di Eropa, tapi juga berkaitan dengan kualitas produksi dan cerita.

Kehadiran produksi film-film Indonesia yang syuting di luar negeri ternyata ikut menyumbang pemasukan pada negara bersangkutan, terutama dari sisi kunjungan wisatawan.

"Contohnya Hongaria yang jadi lokasi syuting Surga yang Tak Dirindukan 2. Menurut orang kedutaan Hongaria, angka aplikasi visa turis ke negara mereka langsung meningkat hingga empat kali lipat dari sebelum itu ditayangkan," tambah Nauval.

Menurut Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend, program "On Location" adalah bukti kerja sama kreatif Indonesia dan Eropa.

Delapan film Indonesia melengkapi total 93 film (panjang dan pendek) yang jadi sajian dalam penyelenggaraan festival tahun ini. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan perhelatan EoS tahun lalu yang memutar 74 film.

Semua film yang dilengkapi teks terjemahan itu akan ditayangkan gratis di Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya.

Rangkaian festival EoS akan dibuka dengan penayangan The Breadwinne, film animasi produksi Irlandia yang sempat jadi nomine di Academy Awards ke-90. Penayangannya berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB di di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (3/5).

Untuk menutup segala rangkaian festival yang rutin berlangsung sejak 2003 ini, akan ditayangkan film drama komedi dari Spanyol, Mi Gran Noche (My Big Night), di auditorium Erasmus Huis, Jakarta Selatan (12/5).

EOS 2018 Trailer /Europe onScreen
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR