Fachri Albar memesona sutradara Malaysia

Fachri Albar saat syukuran film I Am Hope (21/9/2015).
Fachri Albar saat syukuran film I Am Hope (21/9/2015). | Teresia May /Antara Foto

Totalitas pemain merupakan unsur penting yang bisa membuat sutradara kepincut untuk merekrutnya ikut proyek film. Hal itu yang ditunjukkan Fachry Albar (35) saat terlibat dalam film Bukan Cinta Malaikat arahan duo Aziz M. Osman dan Hendarnius Larobu asal Malaysia.

"Saya baru pertama kali lihat dia. Dan saya terkejut. Ada tantangan, dia benar-benar mengaji. Yang saya dengar dari orang Fachri itu begitu (cuek). Ternyata dia bisa baca Alquran. Bahkan komunikasinya dengan orang Arab juga sangat baik. Mungkin karena darah dia memang darah sana (Arab) ya," ungkap Aziz M. Osman dilansir Liputan6.com (26/5/2017).

Chandra Baghwandas selaku produser juga ikut terpesona. "Di film ini Fachri akan mengaji dan itu tidak di-dubbing seperti banyak film lain," ungkapnya.

Ai --sapaan Fachri-- putra pasangan rocker gaek Achmad Albar dari istrinya terdahulu, Rini S. Bono, memang mewarisi darah Timur Tengah yang kental dari kakek dan neneknya, Syech bin Abdullah Albar dan Farida Al-Hasni.

Meskipun lahir di Surabaya, Jawa Timur, tahun 1908, nenek moyang Syech berasal dari Hadramaut, Yaman. Pada abad ke-18 memang banyak pendatang dari kawasan tersebut yang masuk ke Hindia Belanda.

Awalnya untuk berdagang sambil menyiarkan Islam. Seiring waktu terjadi asimilasi karena mereka kawin-mawin dengan penduduk lokal. Sementara Farida keturunan Maroko yang lahir di Pekalongan pada 1928.

Tidak seperti sang ayah yang beken sebagai vokalis kelompok ingar bingar God Bless, sang kakek Syech (biasa juga tertuliskan Syeikh) merupakan salah satu perintis orkes musik gambus di Tanah Air. Beberapa album gambus yang pernah ia rekam diedarkan oleh label rekaman His Master's Voice (HMV) dan Canary.

Totalitas Fachri tidak hanya pada saat melakukan sendiri adegan mengaji. "Biasanya setiap scene saya simpan tiga gambar untuk cadangan. Tapi dia kalau merasa belum puas minta diulang sampai delapan sembilan kali. Saya bilang cukup, tapi dia mau lagi. Itu yang buat saya terkesan," lanjut Aziz yang pernah mendapatkan predikat "Best Director" dalam ajang TV3's Anugerah Skrin 1998.

Film Bukan Cinta Malaikat merupakan kolaborasi PT Ganesa Perkasa Films dengan Ace Motion Pictures SDN BHD (Malaysia). Syuting berlangsung di empat kota, yakni Mekah, Madinah, Trengganu (Malaysia), dan Bandung.

Selain Ai, pemain lain yang berasal dari Indonesia adalah Donita, Dewi Irawan, Joshua Pandeleki, Iqbal Pakula, Edi Brokoli, dan Dewi Amanda.

Bintang asal Malaysia yang turut bermain, antara lain Nora Danish yang sebelumnya pernah main dalam film Surga Yang Tak Dirindukan 2 (2017), Ashraf Muslim, dan Heliza Helmi.

Film drama religi ini mengisahkan Reyhan (Fachri), seorang relawan Muslim Care asal Bandung yang sedang bertugas di wilayah konflik di Timur Tengah.

Ketika sedang berada di Madinah, Reyhan menolong Dewi (Nora), perempuan asal Malaysia yang sedang melakukan perjalanan umrah, yang tak sengaja tertangkap karena dianggap pengunjung gelap.

Sejak pertemuan itu, Reyhan yang begitu idealis dengan misi kemanusiaannya dan belum pernah menyatakan cinta pada perempuan merasakan benih cinta tumbuh dalam dirinya. Ia menaruh hati pada Dewi. Reyhan lantas menyusul Dewi ke Malaysia untuk menyatakan cinta.

Konflik mulai tercipta karena Dewi ternyata sudah punya kekasih bernama Adam (Ashraf). Sementara di Bandung, Aliyah (Donita) juga mengharapkan cinta Reyhan.

Bukan Cinta Malaikat dijadwalkan tayang terlebih dahulu di jaringan bioskop Indonesia mulai 13 Juli 2017. Setelah itu bakal hadir juga di berbagai pawagam (bioskop) Malaysia.

"Kami berharap film Bukan Cinta Malaikat ini dapat menghadirkan tontonan yang bermanfaat bagi penonton perfilman Indonesia," pungkas Chandra.

Official Trailer BUKAN CINTA MALAIKAT /BUKAN CINTA MALAIKAT OFFICIAL

Melanjutkan kolaborasi negara serumpun

Kerja sama perusahaan Indonesia dan Malaysia mengongkosi sebuah film merupakan langkah lanjut. Sebelumnya kolaborasi negara bertetangga ini sebatas turut menyumbang para pemainnya membintangi film produksi masing-masing. Bagian ini yang paling sering kita lihat hadir dalam beberapa film.

Penyanyi Amy Search misalnya. Ditempatkan PT Prima Metropolitan Sakti Film sebagai tokoh utama dalam film Isabella (1990) bersama Nia Zulkarnaen. Pun aktris Raja Emma yang sempat membintangi tujuh film Indonesia, salah satunya Jodoh Boleh Diatur (1988) bersama kelompok Warkop DKI.

Ekranisasi My Stupid Boss (2016) yang meraup lebih dari 3 juta penonton juga menghadirkan deretan aktor asal negeri jiran sebagai pemeran pendukung. Mereka adalah Bront Palarae, Iskandar Zulkarnain, Atikah Suhaime, dan Chew Kin Wah.

Nama yang dituliskan terakhir bahkan dapat porsi serupa dalam film Cek Toko Sebelah (Starvision) yang lagi-lagi masuk box office berkat perolehan 2,6 juta penonton.

Rombongan aktor Indonesia yang menghiasi perfilman Malaysia juga tak kalah banyak. Slamet Rahardjo, Alex Komang, Christine Hakim, dan Dian Sastrowardoyo membintangi Puteri Gunung Ledang (2004) produksi Enfiniti Vision Media.

Kebolehan akting Weni Penca juga akan menghiasi film Munafik 2 yang dijadwalkan tayang 2018. Bagian pertama film horor arahan Syamsul Yusof itu adalah pemegang rekor film terlaris dalam sejarah perfilman Malaysia dengan pendapatan RM18 juta (Rp56 miliar).

Kehadiran Bukan Cinta Malaikat juga bisa diartikan sebagai upaya menindaklanjuti nota kesepahaman Kolaborasi Film Malaysia-Indonesia (Kofi Malindo) pada 2012.

Menteri Penerangan, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia Rais Yatim kala itu mengatakan, "Film merupakan salah satu industri kreatif yang perlu dijadikan jembatan untuk mencari manfaat kemasyarakatan. Dan Indonesia adalah rekan paling penting bagi Malaysia. Nota kesepahaman yang baik di bidang film akan mempererat hubungan antarmasyarakat."

Wujud pertama setelah nota kesepahaman itu ditandantangani adalah film Gerimis Mengundang yang melibatkan Erama Creative dan Excellent Pictures (Malaysia) bersama WannaB Records Indonesia.

Setelahnya kedua negara serumpun ini mulai menelurkan film hasil kongsi produksi. Kastil Tua (2015), Interchange (2016) dan Spy in Love: Penang Wedding (2016) adalah beberapa di antaranya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR